Monthly : April 2015

Lintas Abdya-Galus Putus

Lintas Abdya-Galus Putus

Dampak Longsor

BLANGPIDIE - Badan jalan yang menghubungkan Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) dengan Kabupaten Gayo Lues (Galus) dilaporkan ditimbun longsor, Sabtu (1/11) sore. Sedangkan di Kabupaten Nagan Raya, ribuan rumah dalam wilayah delapan desa di Kecamatan Tripa Makmur, terendam banjir luapan.

Informasi tanah longsor yang menimbun jalan di lintas Abdya-Galus tersebut diterima Serambi dari Thamrin, Ketua Pemuda Desa Ie Mirah, Kecamatan Babahrot, Abdya, Sabtu (1/11) malam. Menurut Thamrin, longsor menimbun badan jalan di Km 14, masih di Kecamatan Babahrot.“Jalur darat Babahrot-Terangon putus total setelah badan jalan ditimbun tanah longsor di Km 14 pada Sabtu sore,” kata Thamrin.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Kabupaten (BPBK) Abdya, Empy Syafril yang dihubungi Serambi mengatakan, hingga pukul 21.00 WIB tadi malam tim BPBK masih di lapangan memantau perkembangan. Banjir terjadi akibat hujan lebat di Kecamatan Manggeng, Lembah Sabil, Tangan-Tangan, dan Babahrot.
Di Kecamatan Manggeng, banjir melanda Desa Panton Makmur, Simpang Tiga Lhok Pawoh, Seuneulop, Sejahtera, Pantee Raja, dan Desa Tokoh. Dari 118 rumah warga Desa Simpang Tiga Lhok Pawoh, 115 rumah terendam sebagian warga menggungsi ke masjid atau tempat-tempat aman.

Di Kecamatan Lembah Sabil, banjir luapan Krueng Baru merendam Desa Alue Rambot, Ladang I dan Ladang Tuha II, Cot Ba’U, dan Meunasah Sukon. Di Kecamatan Tangan-Tangan, merendam Desa Suak Nibong, Suak Labu dan sekitarnya. Sedangkan di Kecamatan Babahrot, luapan Sungai Babahrot mengakibatkan banjir antara lain di Desa Persiapan Cot Seumantok dan Desa Ie Mirah akibat luapan Krueng Ie Mirah.

Badan Jalan Nasional di sejumlah titik juga di terendam banjir genangan, Sabtu (1/11) malam, di lokasi Desa Menasah Sukon, Kecamatan Lembah Sabil, lokasi Paya Laot atau di perbatasan Desa Panton Makmur dengan Desa Lhueng Baru, Kecamatan Manggeng, Desa Suak Nibong dan Desa Suak Labu, Kecamatan Tangan-Tangan.

Banjir juga merendam badan jalan nasional lokasi Alue Diwi Desa Alue Pade, Kecamatan Kuala Batee, dan Desa Gunung Samarinda, Kecamatan Babahrot. Hingga tadi malam hujan masih mengguyur Abdya.

Dari Nagan Raya dilaporkan, ribuan rumah dalam wilayah delapan desa di Kecamatan Tripa Makmur, Kabupaten Nagan Raya, sejak Jumat (31/10) malam hingga Sabtu sore kemarin terendam. Delapan desa yang terendam banjir itu adalah Gampong Pasi Keubeudom, Kuala Tripa, Ujong Krueng, Mon Dua, Neubok Yee PP, Neubok Yee PK, Babah Lueng, dan Panton Pange.

Camat Tripa Makmur, Ahmad Fuad SIP mengatakan, banjir yang merendam delapan desa itu akibat luapan Krueng Tripa menyusul hujan deras sejak beberapa hari terakhir. “Ini bencana rutin yang dihadapi masyarakat,” kata Ahmad Fuad. Menurutnya, tim BPBD Nagan Raya sudah turun ke lokasi banjir.

Informasi lain yang diterima Serambi dari jaringan relawan komunikasi RAPI Aceh Selatan menyebutkan, pada pukul 19.00 WIB tadi malam terjadi longsor di jalan Gunung Peulumat, Labuhan Haji Timur. Sedangkan sejumlah kawasan lainnya sempat terendam banjir, antara lain di beberapa lokasi dalam wilayah Labuhan Haji, Labuhan Haji Timur, dan Meukek. “Relawan RAPI Aceh Selatan tetap siaga memantau perkembangan,” lapor Sekretaris RAPI Aceh Selatan, Zumardi Chaidir (JZ01TAX), tadi malam.(nun/edi/nas/SERAMBI)

http://aceh.tribunnews.com/2014/11/02/lintas-abdya-galus-putus

Jalur Trans-Sumatera: Tahun Ini Jalur Kereta Lampung-Aceh Dimulai

Jalur Trans-Sumatera: Tahun Ini Jalur Kereta Lampung-Aceh Dimulai

Ignasius jonan

BANDAR LAMPUNG, KOMPAS — Menteri Perhubungan Ignasius Jonan menargetkan proyek jalur kereta api Trans-Sumatera Railways dimulai tahun ini. Jalur kereta api Sumatera Railways itu menurut rencana membentang dari Lampung hingga Aceh.

”Total panjang jalur kereta api itu sekitar 1.400 kilometer dan dibangun dalam double track (jalur ganda). Pengerjaannya pasti periodik. Kami belum tahu kapan bisa selesai. Namun, kami berharap bisa dirampungkan secepatnya,” ujar Jonan saat melakukan kunjungan ke Stasiun Tanjungkarang, Bandar Lampung, Jumat (23/1).

Jonan yakin tak akan ada hambatan dalam pengerjaan proyek tersebut selain pengadaan lahan. Namun, ia belum bisa merinci total investasi yang akan disediakan pemerintah melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara untuk megaproyek itu.

Hal tersebut belum bisa dipastikan karena Kementerian Perhubungan belum menghitung biaya pembebasan lahan. Namun, yang jelas, tegas Jonan, proyek pembangunan transportasi massal tersebut akan dilakukan secara mandiri tanpa bantuan pihak asing.

Sementara itu, Vice President PT Kereta Api Indonesia (KAI) Subdivisi Regional 3.2 Tanjungkarang Heru Kuswanto mengatakan, pihaknya siap mendukung proyek nasional tersebut. Ia menyatakan tidak ada masalah mengenai pembebasan lahan untuk jalur Lampung-Kertapati, Sumatera Selatan.

”Untuk sektor Lampung-Kertapati tidak ada masalah karena PT Kereta Api Indonesia sudah memiliki lahan untuk jalur kereta api. Pembangunan jalur ganda juga tidak akan menjadi masalah karena berdiri di atas lahan milik PT KAI,” ujarnya.

Adapun proyek jalur ganda Lampung-Kertapati sepanjang lebih kurang 400 kilometer hingga saat ini baru selesai 10 persen. PT KAI Subdivisi Regional 3.2 baru merampungkan 95 kilometer yang menyambungkan jalur dari Stasiun Giham hingga Stasiun Cempaka, Sumatera Selatan.

”Kami menargetkan pembangunan jalur ganda Lampung-Kertapati sepanjang lebih kurang 400 kilometer tersebut selesai pada akhir 2018. Tidak ada hambatan untuk jalur ganda Lampung-Kertapati karena dibangun di atas tanah PT KAI,” tutur Heru.

Kunjungan Menteri Perhubungan ke PT KAI Subdivisi Regional 3.2 sempat mendapat ancaman dari masyarakat yang menolak penggusuran bangunan di Kelurahan Sawah Brebes, Kecamatan Tanjungkarang Pusat, Bandar Lampung. Masyarakat yang sejak pagi menunggu kedatangan Jonan sempat mengepung kantor PT KAI Lampung dengan bambu runcing.

Menanggapi hal itu, Heru mengatakan, pihaknya tetap akan melakukan penggusuran pada 28 Januari sesuai dengan surat peringatan yang telah diberikan kepada warga Sawah Brebes. ”Kami tetap berpegang pada keputusan pengadilan yang menyatakan tanah yang diduduki warga itu milik PT KAI. Tidak ada alasan penundaan eksekusi karena kami telah memberikan surat peringatan sejak lama,” ujarnya.

Ditemui secara terpisah, Ketua Forum Komunikasi Masyarakat (FKM) Sawah Brebes Robert Gultom mengatakan, pihaknya akan terus berjuang terkait upaya pengosongan lahan.

”Kami sudah tinggal di daerah ini sudah lama, bahkan sudah tiga generasi. Mengapa baru sekarang PT KAI tiba-tiba mengambil tempat kami dilahirkan dan dibesarkan? Kami akan melawan PT KAI sampai ada kejelasan hukum,” katanya. (GER)

http://print.kompas.com/KOMPAS

Hasil Tambang: Giok Aceh Diminati

Hasil Tambang: Giok Aceh Diminati

Batu-giok-crp

BANDA ACEH, KOMPAS — Pasca memenangi ajang Indonesian Gemstone Competition and Exhibition 2013 dan 2014 di Jakarta, hasil bumi Aceh berupa batu giok semakin diminati oleh masyarakat domestik dan mancanegara. Hal itu pun turut memicu penambangan batu giok di sejumlah tempat di Aceh, seperti di Kabupaten Aceh Barat, Nagan Raya, dan Aceh Tengah.

Berdasarkan pantauan Kompas di Aceh Barat dan Nagan Raya, Rabu (24/9), banyak terdapat pengumpul, pedagang, dan pengasah batu giok. Batu-batu giok itu dijual dalam sejumlah ukuran, dari seukuran kelereng hingga sebesar batu bata.

Pengumpul batu giok di Desa Kulam Jerneh, Kecamatan Betung, Nagan Raya, Buckhari (42), mengatakan, batu itu ditemukan dan diambil di Aceh sejak sepuluh tahun lalu. Namun, saat itu batu belum terlalu diminati karena harganya masih rendah, yakni sekitar Rp 100.000 per kilogram.

Giok Aceh mulai mendapatkan perhatian luas ketika juara dalam ajang Indonesian Gemstone Competition and Exhibition 2013 dan 2014 di Jakarta. Seiring dengan itu, harga batu giok Aceh menjadi tinggi, Rp 300.000-Rp 1,5 juta per kilogram.

Buckhari mengatakan, kondisi itu mendorong warga berpindah mata pencaharian dari buruh atau pedagang menjadi pencari, pengolah, dan penjual batu giok. Warga datang ke gunung dan sungai untuk mencari batu giok.

Perajin di Banda Aceh, Hendro Saky (34), mengatakan, giok Aceh yang diminati adalah jenis giok idocrase lumut, giok idocrase biosolar, dan giok idocrase solar.

Kepala Jurusan Geologi Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala, Gartika Setia Nugraha, mengutarakan, giok Aceh sebagian besar jenis nephrite dan sebagian kecil jenis jadeite.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Aceh, Safwan, menyampaikan, pemerintah daerah menerapkan aturan batasan pengambilan batu giok dan dilarang menggunakan alat berat. (DRI)

http://print.kompas.com/KOMPAS
Jumat, 26 September 2014

Bangkitkan Kembali Kejayaan Nanggroe Breuh Sigupai

Bangkitkan Kembali Kejayaan Nanggroe Breuh Sigupai

Ketua Umum Solidaritas Warga Aceh Barat Daya (SWADAYA), H. Zainuddin Daud mengharapkan agar di bawah kepemimpinan Bupati Aceh Barat Daya Ir. Jufri Hasanuddin, Kabupaten Aceh Barat Daya dapat mengejar ketinggalan pembangunan, baik dari aspek ekonomi, pendidikan, kesehatan dari kabupaten-kabupaten lain di Provinsi Aceh. “Bangkitkan dan kembalikan kejayaan Aceh Barat Daya, Naggroe breueh sigupai”, ujarnya pada acara halal bil halal SWADAYA yang berlangsung Sabtu siang, 30 Agustus 2014 di Griya Ardhiya Garini, Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur.

Menurut H. Zainuddin, sejak Kabupaten Aceh Barat Daya menjadi daerah otonom dari hasil pemekaran Kabupaten Aceh Selatan dan telah dipimpin oleh 2 orang Bupati defenitif, belum ada kemajuan apa-apa dibandingkan dengan daerah-daerah di Provinsi Aceh. “Ini harus menjadi perhatian Bupati, Jufri Hasanuddin untuk bekerja secara maksimal, memperhatikan kepentingan masyarakat Aceh Barat Daya”, ujarnya.

Dikatakan,sekitar tahun 1960-an, perdagangan di Aceh Barat Daya, terutama di Blangpidie yang kini menjadi ibukota Aceh Barat Daya, cukup dikenal sebagai penghasil pala, cengkeh, karet, nilam, kacang tanah dan lain-lain. Pada zaman VOC dulu memperdagangkan rempah-rempah dari Aceh Barat Daya. Jadi kemajuan pembangunan dan masyarakat, tergantung kepada pimpinan dalam menentukan kebijakan supaya roda perekonomian dapat berjalan dengan baik dan rakyat hidup sejahtera, tidak merana dalam kesengsaraan. “Tujuan pembangunan harus dapat memakmurkan dan menyejahterakan rakyat, bukan hanya untuk kepentingan kelompok, apa lagi untuk kepentingan pribadi dan keluarga”, kata Zainuddin.

Ditambahkan, perekonomian rakyat harus dibangkitkan dan adanya pemerataan pembangunan agar tidak timbul kesenjangan dan kecemburuan sosial. “Kini masyarakat menagih realisasi janji-janji politik pada masa kampanye dulu untuk pembangunan infrastruktur, ekonomi, pendidikan, kesehatan dan lain-lain”.

Acara yang berlangsung dengan meriah itu diawali dengan tari ranup lam puan, sebuah tari khas Aceh dalam penyambutan tamu, para undangan, antara lain. Bupati Aceh Barat Daya Ir Jufri Hasanuddin beserta istri, Komandan Kodim 0110 Abdya, Letkol ARM E. Dwi Karyono AS dan istri, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Taman Iskandar Muda Kaharuddinsyah, para sesepuh dan tokoh masyarakat, anggota SWADAYA dari Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi serta para undangan lainnya.

Pada kemsempatan itu juga ditampilkan seni Rapai Geleng dari organisasi Kecamatan, Putra Lembah Sabil Manggeng (PLSM), tari Seudati dari Blangpidie (IMABDYA) dan tari Saman.

Tidak Ada Diskriminasi dalam Organisasi TIM

Tidak Ada Diskriminasi dalam Organisasi TIM

“Tidak ada diskriminasi bagi warga Aceh yang terhimpun dalam organisasi Tiaman Iskandar Muda”, demikian dikatakan oleh Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Taman Iskandar Muda (TIM), Kaharuddinsyah, dalam sambutannya pada acara Halal bil Halal dan silaturrahmi Solidaritas Warga Aceh Barat Daya (SWADAYA) yang berlangsung di Griya Ardhiya Garini, Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur, Sabtu siang, 30 Agustus 2014 yang lalu.

Kaharuddinsyah mengakui bahwa belakangan ini ada kesan bahwa seolah-olah TIM hanya memperhatikan warga yang berasal dari daerah tertentu di Provinsi Aceh. Hal ini disebabkan karena kurangnya komunikasi dan sosialisasi dari TIM kepada organisasi-organisasi lokal dan masyarakat dari kabupaten/kota dalam lingkup provinsi Aceh.

Dikatakan, selama ini organisasi-organisasi Kabupaten cukup berperan dalam mengembangkan dan memajukan masyarakat, termasuk organisasi Taman Iskandar Muda, yang didirikan sejak 1950 yang lalu sebagai wadah bagi warga masyarakat Aceh yang ada di Jakarta dan sekitarnya. “TIM memiliki 2 pilar penyangga, yaitu organisasi lokal seperti SWADAYA dan organisasi sektoral. Dari 23 Kabupaten/kota Provinsi Aceh, sudah ada 12 organisasi Kabupaten yang tergabung dalam Taman Iskandar Muda”, katanya.

Untuk meyakinkan anggota masyarakat yang hadir pada acara tersebut, Kaharuddinsyah mengutip Anggaran Dasar TIM, BAB VI, Pasal 12 sampai dengan Pasal 14 yang mencantumkan bahwa Taman Iskandar Muda memiliki 2 (dua) pilar organisasi pendukung, yang terdiri dari organisasi-organisasi lokal dan organisasi-organisasi sektoral. Organisasi Lokal adalah organisasi masyarakat Aceh di Jakarta dan sekitarnya yang bersifat kekeluargaan, berdasarkan kesamaan wilayah asalnya di Nanggroe Aceh Darussalam dari setiap Kabupaten/Kota, yang diakui, dan mendaftarkan dirinya kepada Taman Iskandar Muda. Sedangkan Organisasi Sektoral adalah organisasi yang dibentuk oleh keluarga besar masyarakat Aceh di Jakarta dan sekitarnya berdasarkan kesamaan aspirasi, profesi, dan misi, yang diakui dan mendaftarkan dirinya kepada Taman Iskandar Muda.

Karena itu, ke depan dibutuhkan pemikiran dari warga Aceh yang berdomisili di Jakarta dan sekitarnya untuk mengembangkan organisasi TIM. Tidak perlu ada keraguan bagi organisasi-organisasi Kabupaten/Kota untuk bergabung dengan TIM, agar sama-sama dapat memajukan organisasi dan warganya.

Haji dan Kapitalisasi Habitus Keberagamaan

Haji dan Kapitalisasi Habitus Keberagamaan

Oleh: ZULY QODIR/Sosiolog dan Peneliti Senior Maarif Institut

”TIDAK ada lagi alasan bagi Kementerian Agama untuk menyelewengkan kuota haji karena Sistem Komputerisasi Haji Terpadu memiliki data terpadu berdasarkan teknologi informasi”. (Busyro Muqoddas, ”Kompas”, 26/7/2014)
Selama ini para pejabat negara tanpa harus antre dapat berangkat ke Tanah Suci. Sementara, di sisi lain, ribuan anggota jemaah calon haji harus rela antre selama bertahun-tahun untuk menjalankan ibadah yang memerlukan biaya dan tenaga besar itu.

Ini sungguh sebuah fenomena keagamaan yang sarat kekuasaan dan kapital, yang di negeri Muslim terbesar di dunia ini dapat dikatakan senantiasa bermasalah. Inilah komodifikasi dan komersialisasi keberagamaan yang terus berlangsung di Indonesia setiap musim haji tiba.

Terhitung sejak 1 September 2014, jemaah calon haji Indonesia diberangkatkan dari sejumlah embarkasi, seperti Tangerang, Surabaya, dan Bandung. Terdapat beberapa hal yang harus dilakukan jemaah calon haji, seperti periksa kesehatan terakhir, periksa kehamilan, dan kelengkapan bekal perjalanan haji.

Jika tidak lolos, ada kemungkinan mengalami penundaan keberangkatan. Inilah liku-liku jemaah haji Indonesia yang hendak menghadap Tuhannya. Agak berbeda dengan jemaah para pejabat birokrasi Indonesia, yang sering mendapatkan banyak kemudahan fasilitas.

Komodifikasi religiositas
Persoalan komodifikasi dan komersialisasi sering kali dekat, bahkan identik, dengan yang kita kenal ”pertarungan identitas kelas sosial”. Oleh karena itu, semua artikulasi perilaku keagamaan sebenarnya akan dapat dibaca dalam perspektif ”pertarungan identitas kelas” sosial dalam masyarakat kaum beragama. Hal yang juga menarik adalah persoalan komoditas yang mengarah pada masalah kekuatan ekonomi sebagai kapital dalam melakukan kapitalisasi beragamaan (prayer and economic power) seperti dikatakan Birgit Meyer (2004).

Kajian tentang pertarungan identitas kelas sosial telah demikian banyak dilakukan para sosiolog agama dan antropolog sosial, semacam Gayatri Spivak (2010) ataupun Arjun Apadurrai (2004). Bahwa, menurut mereka, sesungguhnya telah terjadi pertarungan kelas sosial terpinggirkan dan kelas sosial menengah yang jauh lebih mapan secara ekonomi, kekuasaan, dan kultural. Hal itu karena kelas-kelas sosial ini memiliki bekal-bekal yang memadai dalam menguasai wilayah yang dipertarungkan sebagai ranah publik.

Bahkan, dalam perkembangannya, yang kita kenal sebagai ranah publik atau ranah sosial sejatinya memang tidak pernah sepi dari pertarungan. Baik oleh kelompok keagamaan, kelompok etnis, kelompok aktivis jender, aktivis lingkungan, maupun kelompok kepentingan politik. Semua bertarung ”memperebutkan ruang publik sosial” untuk ditaklukkan menjadi bagian dari gagasan besar yang tengah diusung sekalipun harus melawan banyak tradisi yang telah mapan dalam masyarakat. Semua bertujuan saling menundukkan dengan strategi-strategi yang dikemas dalam bermacam aktivitas gerakan untuk memengaruhinya (Habermas, 2002).

Pertarungan tersebut menunjuk pada adanya pertarungan kelas dan identitas sebagai bagian dari globalisasi. Pertarungan identitas dan kelas merupakan salah satu problem globalisasi, dinyatakan oleh sebagian sosiolog agama, termasuk Jeremy Stolow (2010). Dikatakan bahwa globalisasi dunia lewat media yang demikian masif akan membawa masyarakat pada dunia yang ”sekuler” sehingga akan terjadi pertarungan gagasan ideal normatif keagamaan berhadapan dengan gagasan kontekstualisasi keagamaan yang menjadi bagian dari kehidupan.

Akan tetapi, suatu hal yang juga harus diingat adalah kehadiran ”dunia sekuler” akan melahirkan yang dinamakan profesionalisasi dalam hal pemerintahan, politik, pekerjaan, kedisiplinan, serta hal-hal yang bersifat teknis yang lain menjadi berkembang. Semua itu memberikan gambaran bahwa sumber daya nalar manusia selalu mengimajinasikan hal yang baru (Stolow, 2010).

Religiositas habitus
Perkembangan media telekomunikasi, seperti internet, Twitter, dan Facebook, juga turut memberikan warna atas pertumbuhan Islam Indonesia yang semakin variatif. Kemunculan Islam selebritas, misalnya, merupakan bagian tak terpisahkan dari kehadiran ber-Islam sebagai fashion, bukan sekadar beragama secara saleh, melainkan beragama sekaligus fashionable atas perkembangan dunia modeling yang sekarang tidak tertolakkan kehadirannya.

Saat ini banyak muslimah berusaha dapat tampil secara maksimal sesuai dengan fashion yang sedang berkembang (sedang populer), tetapi sekaligus hadir sebagai seorang muslimah yang ”tampak saleh” dalam berpakaian, berkerudung, berjilbab, dan berkendaraan. Inilah suatu model Islam fashionable yang sedang ditawarkan Muslim kelas menengah sebagai bagian dari Muslim gaya baru.

Kita dengan mudah mendapatkan berbagai macam agen biro perjalanan yang menawarkan ibadah haji dan umrah di kalangan kelas menengah Muslim perkotaan dan orang kaya baru yang hadir di tengah masyarakat.

Oleh karena itu, Muslim kelas menengah perkotaan—karena telah mapan secara keuangan, sebagian belum berkeluarga—pun beramai-ramai menjalankan ibadah umrah yang biayanya tidak kurang dari Rp 25 juta dengan tawaran beragam fasilitas yang menyenangkan. Sebutlah seperti hotel bintang empat, perjalanan yang menyenangkan ke lokasi-lokasi (bersejarah) di Timur Tengah dan Eropa, sekaligus mendapatkan bimbingan dari seorang pemimpin rombongan yang populer.
Semua itu bukan sekadar persoalan ibadah dan bermunajat kepada Tuhan. Lebih dari itu, dalam perspektif sosiologi kontemporer dan sosiologi kritis adalah bagian dari ”pembentukan citra identitas” diri yang berlatar belakang sosial keagamaan.

Ibadah haji dan umrah yang sekarang demikian ramainya di Indonesia, jika diperiksa dalam perspektif sosiologi kritis, adalah bagian tak terpisahkan korelasi religiositas sebagai bagian dari ekspresi keimanan (faith expression) dan lembaga keimanan (faith institution) dengan ekonomi pasar yang selalu dekat dengan pengamalan keagamaan yang tidak dapat dilepaskan dari tradisi-tradisi keagamaan yang bersifat privat.

Jika sudah berhubungan dengan ekonomi pasar, pengalaman dan perjalanan keagamaan sesungguhnya telah hadir sebagai keagamaan yang bersifat publik yang rawan dengan komodifikasi (Pattana Kitiarsa, 2010). Hal yang sama juga dikerjakan para pengikut agama, seperti juga penganut Islam, secara tidak sadar ataupun secara sadar sebenarnya telah menjalankan yang disebut religious habitus yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari keimanan yang dimilikinya (A Mellor, 2010).
Perlu direspons

Fenomena lain yang sangat dekat dengan kita adalah kehadiran kelompok-kelompok jemaah pengajian ”para artis” dan ”ustaz selebritas” yang dikepung dengan iklan berbagai produk kecantikan dan kesehatan masyarakat. Beragam tawaran iklan produk kecantikan perempuan serta media kesehatan masyarakat ditawarkan di sela-sela pengajian yang dipandu artis atau aktor.

Seorang aktris atau aktor sekaligus pemakai produk fashion tertentu, yang selalu ditayangkan di awal acara pengajian, menjadi tontonan yang sering kali lebih disukai pemirsa ketimbang mengikuti pengajian-pengajian klasikal. Entah itu diselenggarakan Muhammadiyah atau Nahdlatul Ulama ataupun jemaah pengajian lain yang bersifat klasikal. Meski jemaah yang datang berjubel, daya pikatnya akan berbeda ketika dihadiri seorang aktor atau aktris sebagai pembawa acara atau pemberi materi pengajian.

Oleh karena itu, kondisi globalisasi yang menghadirkan banyak situasi perlu mendapatkan respons dari kalangan umat Islam. Baik dari kalangan akademisi, aktivis sosial, aktivis lembaga keagamaan (termasuk Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama), pengambil kebijakan, aktivis lingkungan, pemilik media, organisasi perdagangan, bahkan aktivis gerakan sosial untuk mendefinisikan kembali berbagai aktivitas, kategori, dan posisi sehingga sesuai. Hal itu karena identifikasi model konservatif telah kehilangan daya sentuhnya terhadap masyarakat kontemporer (Tsing, 2004).

Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000008642659

Unsur Magis dalam Tradisi Lisan Aceh

Unsur Magis dalam Tradisi Lisan Aceh

Oleh Sudirman, PNS pada Balai Pelestarian Nilai Budaya Aceh-Sumut

ISLAM dalam masyarakat Aceh tidak hanya sebatas ajaran agama, melainkan telah membentuk suatu kultur yang tercermin pada setiap aspek kehidupan.

Penyesuaian diri budaya lama dengan ajaran Islam terlihat dalam berbagai upacara adat. Petani, misalnya, dalam kegiatan bersawah selalu diikuti oleh beberapa rangkaian upacara. Sawah dan padi dianggap seperti manusia, mempunyai nyawa dan daya kekuatan. Untuk itu, perlu diadakan upacara supaya jauh dari pengaruh roh jahat.

Dalam pelaksanaannya, upacara tidak terasa lagi sifat animismenya, sebab mantra yang dibacakan sudah dilakukan penyesuaian dengan nilai Islam. Misalnya, ketika membaca mantra dimulai dengan membaca basmalah.

Mantra mengenal ketentuan-ketentuan bunyi tertentu dengan pemakaian kata-kata tertentu pula supaya dapat mendatangkan kekuatan gaib. Dalam berbagai upacara, mantra diucapkan dengan suara yang terang, sebab suara dapat berfungsi untuk mendatangkan kekuatan gaib, yaitu menggemanya persamaan-persamaan bunyi yang magis. Oleh karena itu, bentuk puisi mantra tidak berubah dalam struktur ikatannya, sedangkan unsur Islam hanya sebagai tambahan.

Jenis mantra yang sudah dipengaruhi oleh unsur Islam, misalnya, mantra untuk menjampi anak-anak yang sakit perut. Mantra dimulai dengan membaca surat Al-fatihah, surat Al-ikhlas, dan salawat kepada Nabi, dilanjutkan dengan membaca mantra. Misalnya: hong dat-dat/ na umu na ubat/ lhee boh klaih pliek-u/ lhee boh mu pisang klat/ on pineung tho/ on pineung mirah/ alfatihah kutawa bisa/
Ciri mantra pada penggunaan bunyi hong yang menimbulkan bunyi magis, sedangkan bunyi dat-dat ditambahkan untuk keperluan persanjakan.

Upacara magis sebelum Islam sudah jarang dijumpai. Namun, masih ada beberapa kesenian yang merujuk akarnya ke dalam tradisi pra Islam sebagai perkembangan lebih lanjut dari bentuk puisi mantra, misalnya pho, seudati, dan nasib.

Tari pho, pada mulanya digunakan pada acara kematian. Dalam beberapa hikayat yang merekam tentang pho, tidak lagi memberi kesan bahwa pho merupakan tarian magis, meskipun dimainkan pada upacara berkabung. Dalam hikayat Pocut Muhammad disebutkan bahwa pho masih merupakan upacara berkabung pada kematian: reuhab pi troih ka geupeu-eh/ gulheueb binteh ban silingka/ siteungoh ri ka jiba-e/ siteungoh pho leumpah dada/ ok di ule tugeureubang/ jilinggang ateueh keureunda//

Dalam Hikayat Nun Parisi disebutkan, pho sudah berubah menjadi tarian biasa dan cenderung bersifat hiburan. Misalnya: lam meuligo rakyat that le/ inong meupho mangat suara/ ateueh kulet jimeunari/ su sang bangsi buloh beungga/ badan leumoh sapai leunto/ jihayak pho han ngon peusa/ sajan langkah sigo linggang/ ayon subang blet-blot mata/ jihadi pho su that mangat/ le hikeumat ngon peugila/ dumna ureueng tahe gante/ lalo bak pho yub astana//

Ciri puisi dalam tarian pho sekarang masih tetap tampak, sedangkan sifat animisme sudah tidak tampak. Misalnya: deungo lon kisah po bungong panjo/ pahlawan nanggroe ulon calitra/ di Meulaboh Umar pahlawan/ di Bakongan Angkasah Muda/ sideh di Padang na Imam Bonjol/ Batak gon Karo Sisingamaharaja/ di Aceh na Teungku Cik Ditiro/ Diponegoro di tanoh Jawa/ syahid Angkasah tinggai Cut Ali/ prang beureuhi lebeh bak nyangka//

Berbeda dengan pho yang disebut dalam beberapa hikayat, seudati belum dijumpai penyebutannya dalam hikayat. Snouck Hurgronje mengatakan bahwa sebutan seudati berasal dari kata Arab, sadati, berarti abang-abangku. Karena penyanyi (aneuk dik) nya selalu memanggil lem, cut lem atau dalem (semuanya berarti abang) untuk penari seudati.

Snouck Hurgronje juga menyebutkan bahwa kesenian seudati berasal dari rateb.
Keterangan Snouck Hurgronje berbeda dengan kenyataan tarian seudati yang dikenal sekarang. Rateb sadati sama dengan rateb dong (rateb dalam posisi berdiri) atau rateb saman (reteb dalam posisi duduk). Kedua model posisi rateb ini sampai sekarang masih dikenal dalam kesenian Aceh, meskipun nyanyian yang diucapkan tidak lagi berasal dari sumber puisi mistik.

Pemain seudati saling membalas sanjak, aneuk seudati mengucapkan larik-larik puisinya secara spontan, sesuai suasana pada saat pertunjukan. Misalnya: haba lam surat jino lon baca/ apa di lua neu-iem beu seungab/ saya harap pada adinda/ malam Seulasa tanonton siat/ malam Seunanyan hana got gamba/ malam Seulasa pilem hebat that/ pilem Meulayu tatupeue basa/ ngon aneuk muda keubit gagah that/ ka putoh pakat awaknyan dua/ kuedeh bak gamba ka jibeurangkat/ di lon malam nyan pi na lon teuka, ngon Syek Lah Geunta sigo beurangkat//

Dibandingkan pho dan seudati, nasib merupakan bentuk kesenian yang lebih muda. Nasib tidak mengenal alat musik dan tarian, tetapi dua orang penyair saling debat dan sindir, diucapkan dalam bentuk puisi yang diciptakan secara spontan.

Nasib berasal dari bahasa Arab yang berarti “puisi cinta”, dalam pandangan mistik sebagai ungkapan kerinduan pertemuan dengan yang Maha Pencipta. Menilik pada tradisi yang ada sebelum Islam, mengesankan nasib merupakan suatu bentuk sinkretisme.

Sebelum genre hikayat sebagai pengaruh budaya Islam, telah berkembang tradisi lisan dalam masyarakat Aceh. Pada mulanya merupakan bentuk puisi magis, kemudian berkembang menjadi penyajian yang bersifat profan, seperti terlihat pada perkembangan pho dan seudati.

Nasib merupakan bukti lanjutan hubungan masyarakat Aceh dengan tradisi lisan. Dari nasib berkembang bentuk-bentuk kesenian lain, seperti rateb dengan berbagai corak, rapa-i dabus, dan lain-lain yang menyajikan bentuk puisi yang diciptakan secara spontan.

* sumber: http://aceh.tribunnews.com/2014/08/24/unsur-magis-dalam-tradisi-lisan-aceh

Agama, Kekuatan Utama Menuju Sejahtera

Agama, Kekuatan Utama Menuju Sejahtera

SESUAI Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2012-2017, Bupati Jufri Hasanuddin dan Wakil Bupati Yusrizal Razali memiliki visi menjadikan “Kabupaten Aceh Barat Daya yang Islami, sejahtera, dan mandiri melalui pemberdayaan potensi daerah yang berbasis kearifan lokal.”

Visi islami diwujudkan melalui berbagai program keagamaan dan pelestarian nilai-nilai dasar Islam. Dukungan terhadap ulama pun menjadi komitmen Jufri. Tahun ini, 72 ulama diberangkatkan umroh secara gratis oleh Pemerintah Aceh Barat Daya.

Selain itu, Muzakarah Tauhid Tasawuf Asia Tenggara ke-3 juga difasilitasi dan diadakan di Blangpidie, Aceh Barat Daya. Seminar keagamaan berlevel internasional itu dibuka pada Jumat 6 Juni 2014, oleh Wali Nanggroe Malik Mahmud, diikuti sekitar 550 ulama yang tergabung dalam Majelis Pengkajian Tauhid Tasawuf (MPTT) dari sejumlah negara Asia Tenggara, dan berlangsung hingga Minggu, 8 Juni 2014.
Beberapa pakar dan ulama kondang yang hadir seperti Prof Dr Syekh Mehmet Fadhil Al-Jailani. Pimpinan Al-Jailani Centre Istanbul Turki ini merupakan keturunan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, ahli tafsir dan pimpinan ulama sufi terkenal.

“Muzakarah Tauhid Tasawuf Asia Tenggara ini sudah tiga kali digelar. Pertama di Meulaboh tahun 2010, kedua di Selangor Malaysia tahun 2012, dan ketiga, atas permintaan Bupati Jufri Hasanuddin dilaksanakan di Blangpidie,” ujar Abuya Syekh H Amran Waly Al-Khalidy, Pimpinan Pusat Majelis Pengkajian Tauhid Tasawuf Asia Tenggara.

Jufri bangga dan merasa mendapat kehormatan dipercaya melayani ratusan ulama dan tokoh agama melaksanakan muzakarah tersebut. Pemerintah Aceh Barat Daya, kata dia, berkomitmen mendukung pelaksanaan syariat Islam. Bahkan, dengan komitmen dari Pemerintah Arab Saudi, sebuah pusat kajian Islam hingga kini masih terus diproses untuk dapat segera didirikan di Aceh Barat Daya.

Sebelum muzakarah Tauhid Tasawuf Asean ke-3 digelar, Pemerintah Aceh Barat Daya juga dinilai sukses menggelar Seminar Ilmu Tauhid, Fiqih, Tasawuf dan Tawajjuh se-Aceh pada Maret 2014 di Dayah Darul Ulumuddiniyah. Saat penutupan Muzakarah, Bupati Jufri akan mengupayakan ke Pemerintah Aceh agar tauhid-tasawuf dapat dimasukkan ke dalam kurikulum lembaga pendidikan.(*)

Sumber: http://aceh.tribunnews.com/2014/08/22/agama-kekuatan-utama-menuju-sejahtera