Monthly : May 2015

Kuliner Aceh dalam Pergaulan Global: Banyak Hal yang Perlu Dibenahi

Kuliner Aceh dalam Pergaulan Global: Banyak Hal yang Perlu Dibenahi

- Sebuah Catatan dari Dialog Pemberdayaan Ekonomi Micro Kuliner Aceh PP TIM

Peserta pertemuan PP TIM Lr

Berbicara masalah kuliner tidak pernah ada habisnya untuk diperbicangkan. Setiap daerah di nusantara ini memiliki kuliner yang khas dan unik, baik dari rasa yang mengundang selera, bahan masakan yang digunakan kaya dengan bumbu maupun cara pengolahannya.

Lalu apa hubungannya kuliner Aceh dengan Pengurus Pusat Taman Iskandar Muda (PP TIM) yang secara khusus mengadakan dialog pemberdayaan ekonomi Micro Kuliner Aceh dalam rangka pertemuan masyarakat Aceh di jakarta dan sekitarnya dengan Gubernur Aceh, dr.H.Zaini Abdullah, Sabtu, 23 Mei 2015 yang lalu di Hotel Amazing Kutaraja Jakarta?

Ada banyak hal yang terkait dengan kuliner Aceh, seperti yang dapat disimak dari dialog yang berlangsung cukup meriah pada Sabtu sore itu, dengan menampilkan 4 orang narasumber yang semuanya merupakan pelaku bisnis kuliner Aceh di Jakarta dan sekitarnya.

Bisnis kuliner terbukti masih merajai pasar di manapun di dunia ini yang mendatang devisa bagi negara, tidak kecuali dengan Indonesia yang mengandalkan industri Pariwisata yang tidak mungkin berdiri sendiri tanpa dikaitkan dengan kuliner. Karena itu, cukup beralasan jika pada era Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kala (JK) perlu membentuk badan khusus yang diberi nama Badan Ekonomi Kreatif yang mengurus 16 sub sektor, termasuk kuliner di dalamnya.

Jika hidangan khas rendang dan nasi goreng ditempatkan dalam jajaran teratas makanan paling lezat di dunia (World’s 50 Most delicious Foods) sebagai peringkat pertama dan kedua, ada satu lagi, masakan Sate yang mendapat peringkat ke-14. Hal ini berdasarkan hasil survei para pemerhati stasiun berita CNN sekitar empat tahun yang lalu. Indonesia tentu patut merasa bangga. Survei yang dihimpun melalui akun CNN di situs jejaring sosial Facebook itu, menempatkan Sushi, makanan dari Jepang pada urutan ketiga.

Dalam survei televisi CNN yang berbasis di Amerika Serikat itu, sebelumnya menempatkan Massaman curry asal Thailand sebagai peringkat pertama makanan terlezat di dunia. Namun kali ini Massaman curry menempati urutan ke sepuluh dari 50 jenis masakan dari seluruh dunia yang telah disurvei. Namun demikian dari jumlah makanan lezat yang terjaring dari hasil survei, ada tujuh makanan dari Thailand yang terpilih dengan berbagai peringkat. Misalnya, makanan Tim Yang Goong (peringkat ke-4), Pad Thai (urutan ke-5), Som Tan (ke-6), green curry (19), Fried Rice (24) dan Moo Nam Tok (36). Hal ini dapat dimaklumi mengingat Thailand sangat gencar melakukan promosi wisata, termasuk kuliner.

Makanan khas Indonesia sebenarnya tidak kalah menarik dan cukup menjanjikan dalam kancah kuliner. Selain rendang, masakan Padang lainnya mudah dijumpai di warung/restoran Padang ada di mana-mana, dari Aceh sampai ke Papua. Demikian pula dengan Coto Makassar, makanan khas dari Sulawesi Selatan atau mpek-mpek dari Palembang tidak asing lagi bagi penikmat kuliner di nusantara.

Menuju Pergaulan Global
Bagaimana dengan kuliner khas Aceh?
Bagi masyarakat Aceh, baik yang tinggal di Provinsi Aceh maupun yang hidup diperantauan tentu tidak perlu berkecil hati jika kuliner belum termasuk dalam peringkat makanan lezat di dunia. Jika ada upaya yang sungguh-sungguh, terencana, bersinergi dengan berbagai pihak, tidak tertutup kemungkinan untuk merintis jalan menuju ke sana. Setidaknya, dari dialog yang diikuti oleh jajaran oleh PP TIM, para Pengurus Cabang TIM se-Jabodetabek, organisasi lokal Kabupaten/Kota, seperti Solidaritas Warga Aceh Barat Daya (SWADAYA), IKNR Nagan Raya, organisasi masyarakat dari Gayo, Kota Langsa, dan organisasi Sektoral seperti IMAPA dan lain-lain itu, kiranya dapat memberikan secercah harapan.

Untuk mengangkat kuliner Aceh agar dapat memasuki pergaulan global, tentu banyak hal yang harus dilakukan dan dibenahi serta perlu mendapatkan dukungan dari semua pihak. Bukan hanya pelaku bisnis kuliner Aceh, tapi juga organisasi sosial kemasyarakatan seperti PP TIM, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), para Pengusaha, Pemerintah Provisi Aceh, Pemerintah Kabupaten/Kota dan seluruh masyarakat Aceh.

Pemerintah Provinsi Aceh dan Pemerintah Kabupaten/Kota perlu melakukan sosialisasi dan promosi yang lebih intensif agar kuliner Aceh semakin berkembang dan diminati oleh masyarakat dari berbagai kalangan. Misalnya, apa yang dilakukan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Aceh yang menggelar Aceh Culinary Festival 2015 pada 7-9 Juni 2015 di Taman Ratu Safiatuddin, Lampriet, Banda Aceh, merupakan salah satu upaya ke arah sana. Ke depan, kegiatan seperti ini perlu terus digalakkan dan dikembangkan secara berkesinambungan.

Contoh lain apa yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Bogor, Jawa Barat, dalam rangka memperingati hari ulang tahun Kota Bogor ke 533, pada 3 Juni 2015 yang melibatkan masyarakat dari 17 Pemerintah Provinsi, untuk menampilkan budaya daerah dan kuliner khas dari daerah masing-masing. "Warga Aceh di Bogor tentu tidak menyia-nyiakan kesempatan yang baik ini," kata Iskandar, salah seorang anggota Pengurus TIM Cabang Bogor. Di stand Aceh disediakan beberapa contoh kuliner Aceh, seperti mie Aceh, timphan, teh tarik dan lain lain yang dapat dinikmati dengan membeli kupon yang kepada Panitia yang ternyata cukup laris. Selain itu, pada Sabtu sore itu. Selain itu, seperti daerah-daerah lain Aceh juga menampilkan pertunjukan tari saman di halaman Balai Kota Bogor. Pemerintah Kota Bogor mempersiapkan tenda secara gratis bagi pemerintah atau warga dari daerah lain untuk mengisi stand dan melakukan pertunjukan seni budaya.

"Kegiatan seperti ini perlu lebih dikembangkan ke depan", ujar seorang pengunjung yang kelihatannya cukup antusias menikmati berbagai pertunjukan kesenian. Prakarsa dan inisiatif bisa datang dari siapa saja, apakah warga Aceh sendiri, organisasi TIM atau dengan melibatkan Pemerintah Provinsi, Kabupaten/Kota.

Dalam upaya turut melastarikan dan mengembangkan kuliner Aceh, PP TIM sudah menghimpun tidak kurang dari 32 jenis makanan khas Aceh yang sudah dibukukan. Namun sampai saat ini belum dapat dimiliki oleh publik yang berminat. Dan tentu masih banyak lagi resep masakan Aceh yang belum diinventasasi. Tapi setidaknya dari sejumlah resep masakan yang telah terkumpul itu dapat disosialisasikan dan dikembangkan lagi tentu akan menjadi panduan bagi para pelaku bisnis kuliner Aceh.

Memang kumpulan resep masakan itu saja belum cukup. Dari sekian banyak makanan itu belum ada standar yang baku. Misalnya, apa saja yang dapat dimasukkan sebagai makanan pembuka (appetizer), makanan utama (maincourse) dan apa yang menjadi makanan penutup (desserts), seperti yang berlaku dalam suatu jamuan atau yang tersedia di restoran-restoran pada umumnya. Demikian pula dengan bahan makanan dan bumbu yang digunakan. Bagi kalangan muslim ada tuntutan bukan hanya bahan dan bumbu, tapi juga juru masak, peralatan dan cara memasaknya. Misalnya, mie Aceh yang sudah terkenal itu dijual di warung non muslim dan dimasak oleh non muslim tentu patut dipertanyakan kehalalan dan thoyyibannya dapat memenuhi syarat. Sehingga yang demikian itu perlu ada sertifikasi.

Dalam hal ini PP TIM perlu memikirkan bagaimana solusinya. Memang dalam diskusi berkembang pandangan dan usulan agar hal ini dapat dibahas dalam suatu diseminarkan dengan melibatkan para ahli di bidangnya.

Hal lain yang perlu mendapatkan perhatian adalah masalah rasa dari setiap masakan khas Aceh yang juga belum ada standar baku. Mie Aceh, misalnya, apakah mie rebus atau mie goreng dengan bahan baku dan bumbu yang sama, tapi jika diolah oleh juru masak yang berbeda, tentu rasa masakannya akan berbeda. Hal ini juga diakui oleh pelaku bisnis mie Aceh yang sudah memiliki sejumlah cabang di seantero Jabodetabek.

Perkembangan Kuliner Aceh
Kilas balik perkembangan kuliner di Jabodetabek, mungkin dapat mengaca pada pengalaman warga Aceh yang kini sudah menetap di di Bogor lebih dari 30 tahun yang lalu. Keberadaan restoran atau warung Aceh yang menyediakan masakan khas Aceh di Jakarta dan sekitarnya, barangkali bisa dihitung dengan jari tangan. Karena pernah tinggal di daerah Pasar Minggu, Jakarta Selatan, pendatang baru dari aceh Barat Daya (waktu itu sebelum pemekaran Kabupaten masih termasuk Aceh Selatan) yang terlintas di pikiran jika ingin mencicipi gulee kameng, kuah pliek, mie Aceh atau timphan, ya, hanya di kawasan Pasar Minggu itu. Lokasinya ada yang di pinggirjalan raya Pasar Minggu dekat rel kereta api yang semraut atau di dalam pasar itu sendiri yang kebanyakan padagang yang menjual bahan kebutuhan masyarakat sehari-hari. Di jalan raya yang dilalui kenderaan dan lalu lalang manusia serta pasar yang kumuh itu menjadi pilihan. Jadi dapat dimaklumi karena warga Aceh yang waktu itu masih lajang dan belum memiliki pekerjaan tetap, terbatas ruang geraknya untuk mencari kuliner Aceh di daerah lain di ibukota, Jakarta.

Karena kondisi warung Aceh yang dikelola seperti apa adanya dan jauh dari standar kebersihan dan kesehatan itu akan mengurangi kenikmatan dan kenyamanan. Apalagi jika ada tamu, teman atau mitra kerja yang ingin diperkenalkan dengan kuliner Aceh. "Malu membawa ke warung Mie Aceh", ujar salah peserta dialog.

Kini keadaannya tentu sudah jauh berbeda. Warung Mie Aceh atau restoran yang menyediakan masakan Aceh sudah ada di mana-mana. Lokasi tempat dan pengelolaan restoran dengan sekmen pasar yang lebih bervariasi. Mulai dari warung model kaki lima sampai restoran atau kafe yang lebih representatif dengan ruangan berpendingin udara sehingga membuat penikmat kuliner Aceh betah di dalamnya.

Kini di kawasan Jabodetabek tersebar Mie Aceh atau liner Aceh lainnya. Jaringan yang menggunakan nama Jali-Jali tidak kurang dari 22 Cabang di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek). "Masih kalah dengan TIM yang sudah mencapai 46 Cabang di Jabodetabek", kata salah seorang anggota PP TIM."Ya, kalau saya diminta membuka warung Mie Aceh untuk menyamai jumlah cabang TIM, tentu tidak sanggup" jawab pemilik Mie Aceh Jali-Jali. Pengalamannya mengelola bisnis kuliner yang sudah lebih dari satu dasawarsa ini bercerita bagaimana pada awal usahanya jatuh bangun dalam merintis dan mengembangkan Jali-Jali.

Selain Jali-Jali yang menyediakan mie Aceh, ada mie Aceh Bangladesh, mie Aceh 88 di Pasar Minggu, mie Aceh Lamlo, mie Aceh Seulawah, Resto Delima di Klender, yang baru dibuka sejak awal Januari 2015 yang lalu. Lokasinya di Jl. Delima Raya Blok XI No.10, Perumnas Klender, Jakarta Timur. Ada Rumah Makan Mutetia, di Benungan Hilir, Rumah Makan Baruna di Kelapa Gading, Dapoe Aceh Melayu di gedung Plaza Sentral, atau ala Kafe, ada YED-KUPI di Jl. Duren Tiga 65, Jakarta Selatan. Di Bogor ada mie Aceh Bangladesh, Mie Aceh Kurnia yang sudah memiliki 4 cabang. Dan tentu banyak lagi jika ditelusuri satu persatu, sehingga tidak sulit mencari masakan khas Aceh di Jabodetabek, seperti dialami oleh warga Aceh yang tinggal di Bogor 30 tahun yang lalu.