Author: admin

author
    Sepotong Kisah, Sekilas Renungan…

    Sepotong Kisah, Sekilas Renungan…

    Di suatu sudut Jakarta menjelang malam. Mentari baru saja kembali ke peraduannya di ufuk barat. Cahaya merah masih membentang di kaki langit. Suhu udara di awal musim kemarau ini masih terasa gerah. Hiruk pikuk lalu lintas kendaraan di jalan-jalan, seperti mengejar waktu. Sayup-sayup terdengar suara azan dari masjid di ujung sebuah jalan kecil di seberang jalan raya. Pertanda waktunya berbuka puasa.

    Seorang ibu setengah baya mengendarai kendaraan di jalan raya yang padat. Ingin cepat-cepat pulang, dengan harapan dapat berbuka puasa bersama keluarga di rumah. Namun tiba-tiba timbul rasa nyeri sehingga dia menepikan kendaraannya. Berhenti sejenak...

    Sambil menunggu rasa nyeri berkurang, berusaha mengalihkan pikirannya...menyapu pandangan sekeliling. Tiba-tiba ada seorang anak lelaki yang mengetuk-ngetuk kaca mobilnya. Agak kaget, namun berusaha tetap tenang.

    “Bu.., Ibu mau parkir? Mari saya bantuin untuk parkir, ya.” Terdengar suara dari celah kaca mobilnya.

    “Belum sekarang, saya mau istirahat sebentar,” jawab si ibu.
    “Kalau begitu, apa Ibu punya uang 2.000?” tanya anak itu lagi.

    Karena merasa sedang tidak mau diganggu, si ibu buru-buru menyerahkan uang receh yang ada di laci mobinya. Dalam pikirannya, anak ini mungkin cuma mau minta-minta. Sebuah pemandangan yang lumrah dan sering dijumpai di jalan-jalan di ibukota Jakarta.

    Tadinya ingin beranjak pergi, karena merasa sudah agak lega. Namun hatinya tergerak untuk mengamati anak yang minta uang tadi. Rupanya dia mendekati tukang gorengan di ujung jalan sana, lalu membeli gorengan dari uang yang didapatkan. Kemudian gorengan itu dia berikan pada sesosok tua yang duduk di bawah tiang listrik di pingir jalan.

    Ketika anak itu melewati lagi di samping kendaraannya, si ibu membuka kaca dan memanggilnya. “Eh..., adik... ke sini. Bapak tua itu siapa ?” tanya ibu penasaran.

    “Gak tau, bu.Saya juga baru saja ketemu,” jawabnya polos.
    “Lho...,tadi kamu minta uang ke saya lalu membeli gorengan. Kenapa dikasih ke bapak itu?”

    “Oh... Saya tadi duduk di situ, ngobrol sama Bapak itu. Katanya puasa … Tadi saya lihat Bapak itu, hanya ada air putih untuk berbuka. Katanya uangnya habis,” anak itu menjelaskan.

    “Kasihan...,”kata anak itu melanjutkan. “Saya mau beli sesuatu, tapi di kantong saya hanya ada 1.000. Hari ini saya nggak jualan koran...Tanggal merah bu... Jadi ngak punya uang. Dengan 1.000, paling dapat gorengan sepotong. Makanya saya minta ibu Rp 2.000, biar dapat 3 potong”, ungkapnya. Apa sekarang Ibu mau parkir? Saya bantuin parkir, ya bu, Ibu kan udah bayar tadi. Sebenarnya saya bukan tukang parkir,” katanya tertawa kecil sambil menggaruk-garuk pipinya.

    Ibu itu terdiam.... Dari tadi terpikir, anak ini pengemis seperti anak-anak yang biasa mangkal di jalan. Ternyata dugaannya salah besar. “Terus, uang kamu habis dong?” tanya si ibu.

    “Iya bu. Nggak apa-apa”, katanya polos. “Besok bisa jualan koran, Insya Allah dapat rezeki lagi,” ujarnya penuh harap.

    “Kalau begitu, Ibu ganti yaa...uangnya, sekalian buat jajan," kata si ibu sambil meraih dompetnya.

    “Nggak usah, Bu,jangan-jangan. Sebetulnya, Ibu saya melarang saya meminta-minta. Makanya tadi saya tawarin Ibu parkirin mobil. Soalnya..., saya kasihan sama bapak tua itu. Cuma saya benar-benar nggak punya uang,” cerocosnya lagi.

    “Eh..., Ibu minta maaf yaa..., tadi ibu salah duga, karena mengira adik ini tukang minta-minta,” kata si ibu, merasa bersalah.

    “Saya yang minta maaf, Bu. Saya yang minta uang duluan sama Ibu.. Padahal saya belum kerja.”

    "Sama-samalah. Ini ambil uangnya. Ini kamu nggak minta, tapi Ibu yang berikan," kata si ibu.

    "Nggak, Bu... Makasih. Ibu mau parkir sekarang?” tanya anak itu lagi.

    “Nggak dik, Ibu nggak usah dibantu parkir," jawab si ibu.
    “Beneran, ya, Bu? Soalnya saya mau jemput adik saya ngaji dulu bu. Takut dia nangis kalau kelamaan, karena telat menjemputnya."

    “Ya... sudah, sana jemput adiknya,” kata si ibu tersenyum.
    “Makasih yaa, Bu,” katanya. Meninggalkan si ibu, masih di tempat.

    Setelah anak itu pergi, si ibu menoleh ke tiang listrik di mana Bapak tua tadi duduk. Rupanya sudah pergi, mungkin pulang ke rumahnya. Akhirnya, si ibu starter kendaraan lalu melanjutkan perjalanan. Dari kaca spion mobil, sambil berjalan perlahan melihat anak itu berjalan setengah berlari...

    -----

    Sepotong kisah yang diceritakan oleh seorang teman dan diadopsi lagi untuk dipublikasi di media on line ini.

    Realitas kehidupan.... Betapa banyak orang di sekeliling kita yang kurang beruntung, tapi masih memikirkan untuk sesama...

    Sekilas renungan..., mungkin dapat menggugah kepekaan dan kepedulian kita. Bersedekah, tidak harus menunggu banyak uang! Ada ungkapan bahwa untuk mengisi pulsa hand phone, 10 ribu belum cukup, tapi untuk BERSEDEKAH, mengisi KOTAK AMAL 10 ribu terasa terlalu banyak...

    Jika ibadah puasa mempunyai peran utama hablumminallah dan hablumminas, yaitu hubungan dengan Allah SWT, dengan melaksanakan kewajiban puasa untuk mencapai derajad taqwa dan hubungan sesama manusia. Lalu bagaimana dampak pelaksanaan ibadah puasa dapat memicu semangat dan meningkatkan kepedulian sosial. Adakah perhatian dan rasa empati kita terhadap masyarakat, saudara-saudara kita yang kehidupan mereka serba kekurangan, dalam lingkaran kemiskinan...?

    Wallahu a'lam

    Untuk menutup kisah di atas, selama bulan puasa Ramadhan ini mungkin ada baiknya kita senantiasa berdoa seperti terjemahan dari Hadits Riwayat Muslim berikut ini:

    "Wahai Tuhanku, perbaikilah bagiku agamaku, yang menjadi Pemelihara bagi urusanku, dan perbaikilah bagiku duniaku yang di dalamnya terdapat kehidupanku, dan perbaikilah akhiratku yang kepadanyalah tempat kembaliku. Jadikanlah kehidupanku menjadi tambahan bagiku terhadap segala kebajikan dan jadikanlah kematian waktu beristirahat dari segala kejahatan". (HR. Muslim dari Abu Hurairah)

    KEUTAMAAN PUASA DAN BULAN RAMADHAN

    KEUTAMAAN PUASA DAN BULAN RAMADHAN

    Oleh Muzakkir Bayeun

    Keutamaan Orang Berpuasa
    Adapun keutamaan orang-orang yang berpuasa di bulan Ramadhan yang menjalankan bulan puasa dengan ikhlas dan menjaga dari segala sesuatu yang membatalkan dan mengurangi nilai-nilai puasa dari perbuatan yang dilarang Allah SWT dan Rasulullah SAW. Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW dalam Hadist Qudsi:

    Diriwayatkan dari Abu Huraira r.a. dia berkata: ”Rasulullah SAW pernah bersabda, Allah ‘Azza Wajalla telah berfirman, ”setiap amal manusia adalah baginya (bagi manusia sendiri) kecuali puasa, karena puasa sesungguhnya puasa adalah milik-Ku dan Akulah yang membalasnya. Puasa adalah prisai (dari api neraka) apabila seseorang berpuasa, maka janganlah berkata keji, janganlah bersetubuh, dan janganlah menghina. Jika ia dicaci dan diajak bertengkar (dimusuhi), hendaklah ia berkata saya adalah orang yang berpuasa. Demi Allah yang menguasai diri Muhammad! Sungguh bau mulut orang yang berpuasa itu di sisi Allah kelak pada hari Kiamat lebih harum daripada bau minyak wangi (kesturi). Orang yang berpuasa mendapat 2 kesenangan: ketika berbuka dia merasa senang, dan ketika bertemu Rabbinya dia merasa senang, karena pahala puasanya" (H.R.Bukhari dan Muslim)

    Penjelasan hadits di atas dapat kita ambil beberapa penjelasan sebagai berikut:
    a. Pencegahan diri kita dari api neraka, yaitu apabila kita berpuasa insya Allah kita dapat terhindar dari api neraka.

    b. Tidak berkata keji, karena orang yang berpuasa dilarang berkata keji yang akibatnya mengurangi nilai-nilai puasa bahkan bisa jadi tidak mendapat pahala puasanya, kecuali hanya haus dan lapar saja.

    c. Tidak bersetubuh di sianghari, karena membatalkan puasa dan bila melakukan tersebut maka ia akan berdosa dan negaranya berpuasa berturut-turut 2 bulan dan jika tidak mampu, memberikan makan 1 orang miskin selama 1 bulan penuh makan sahur dan berbuka.

    d. Jangan menghina, karena menghina orang lain adalah dilarang dalam Islam dan akan merusak amal puasa kita dan hinaan itu dikembalikan oleh Allah SWT kepada orang yang menghina itu sebagai balasan dosa pada diri kita sendiri (senjata makan tuan).

    e. Janganlah mencaci dan bertengkar, karena orang yang mencaci maki dan bertengkar akan menghapuskan pahala seseorang.

    f. Bau mulut orang berpuasa di sisi Allah ‘Azza Wajalla kelak pada hari kiamat lebih harum dari pada minyak wangi (kesturi).

    g. Mendapat kesenangan ketika berbuka puasa dan ketika bertemu Rabbinya dalam sholat karena pahala puasanya.

    Keutamaan Bulan Ramadhan
    Adapun keutamaan bulan Ramadhan Rasulullah SAW menjelaskan dalam hadist:
    Diriwayatkan dari Abu Huraira bahwasanya Rasulullah SAW pernah bersabda: “Apabila bulan Ramadhan tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan diikat, dibelenggu (H.R. Muslim).”

    Penjelasan hadist tersebut di atas dapt diambil keutamaannya sebagai berikut:
    1. Pintu-pintu Surga dibuka, maknanya orang berpuasa akan mendapat rahmat Allah dan pahala yang berlipat ganda.

    2. Pintu-pintu Neraka di tutup, maknanya orang yang berpuasa akan mendapat ampunan Allah dan terbebaskan dari api neraka.

    3. Dan setan-setan diikat, maknanya manusia akan terhindar dari godaan setan.

    Dengan demikian kita sebagai orang-orang beriman hendaklah menjaga nilai-nilai keutamaan puasa semoga Allah SWT senantiasa memberikan Rahmat, Barokah, ampunanNya dan kebebasan diri kita dari api neraka, maka Allah SWT meridhai amalan ibadah sholat dan puasa kita di bulan Ramadhan ini dengan nilai yang terbaik di sisi Allah SWT.

    Uroe Kiamat

    Uroe Kiamat

    Beutapeh nyang goh teuka neu peuhaba
    Miseue mawot nyang saket that tapeurasa
    Nyang keuh uroe keusudahan haro-hara
    Langet meuguncang bumoe meulinggang meu hubo-hubo

    Suroh Tuhan Israfil yup sangkakala
    Habeh mate bandum sare safan safa
    Habeh mate bandum sare malenkan Tuhan
    Langet ngon bumoe kon le meunoe ka neu simpan

    Yub keudua sangkakala le Israfil
    Meunyoe nyawong bandum u bak tuboh
    Habeh timoh bandum tuboh ka teuduek duek
    Pakaian tan badan teulon bak bineh uruek

    Teuma geutimang dumna amai lam neuraca
    Phui ngon geuhon leumah sinan bandum nyata

    Lheuh nyan tajak ateuh titi Siratul Mustakim
    Panyang titi saboh riwayat lhee ribee thon jak
    Taek tajok ateuh puncak dengon tatron
    Titi haloh na ban peudeueng
    Sidumnan haloh sidom putoh adak meulinteueng

    Nyang seulamat ateuh titi jeumeurang pi troh
    Boh bineh Krueng indah sangat sinan piyoh
    Nyang jak ateuh titi na ban babad
    Karonya Allah ladum pantaih na ban kilat

    (dari "Haba ngon Panton" nyang geuhimpon le H.M.Thamrin Z.Jakarta, 2007)

    ACARA BUKA PUASA DAN SHOLAT TARAWIH BERSAMA

    ACARA BUKA PUASA DAN SHOLAT TARAWIH BERSAMA

    Dalam rangka menyambut dan melaksanakan ibadah Puasa Ramadhan 1436 H/2015 M, guna mempererat tali silaturrahim di antara para anggota, Pengurus Solidaritas Warga Aceh Barat Daya (SWADAYA) mengadakan acara buka Puasa dan sholat tarawih bersama di Jakarta dan sekitanya.

    Sesuai dengan Rapat Pengurus SWADAYA pada awal Juni 2015 yang lalu, acara buka Puasa dan shalat tarawih bersama tersebut difasilitasi oleh Pengurus SWADAYA yang pelaksanaannya dikoordinir oleh organisasi-organisasi Kecamatan dalam lingkup Kabupaten Aceh Barat Daya. Adapun jadwal dan tempat kegiatan acara buka Puasa dan sholat tarawih bersama yang ditetapkan oleh organisasi Kecamatan adalah sebagai berikut:

    - Solidaritas Warga Kuala Batee – Babahrot Aceh (SWAKABA) pada hari Minggu, 21 Juni 2015, bertempat di kediaman Bapak Dr. Nurdin, Msi, Kompleks Kav. Pesona Kali Sari, Jl. Pesona VI No. 165, Pasar Rebo, Jakarta Timur.

    - Ikatan Masyarakat Blangpidie Aceh Barat Daya (IMABDYA), pada hari Sabtu, 27 Juni 2015, bertempat di kediaman Bapak H. Rafli Haris, Jl. Prejaten Barat No.30 B, Jakarta Selatan.

    - Ikatan Masyarakat Susoh (IMS), pada hari Minggu, 28 Juni 2015, bertempat di Masjid Darul Munawar, kompleks Ruko, kediaman Bapak H. Achmad Nasir, DA. Jl. Kali Malang No.1, Jakasampurna, Bekasi.

    - Putra Lembah Sabil Manggeng (PLSM), pada hari Minggu, 5 Juli 2015, bertempat di kediaman Saudara Dasturiadi, Kompleks Perumahan Imperial Gading Pelindo II Blok C-1 No.11, Sukapura, Jakarta Utara. (masuk dari Kompleks Bea dan Cukai Sukapura)

    - Ketua Dewan Pembina SWADAYA, Bapak H.Zainuddin Daud, pada hari Sabtu, 11 Juli 2015, bertempat di Perkantoran Mitra Matraman Blok C-15, Jl. Matraman Raya No.148, Jakarta Timur.

    Diharapkan kepada Pengurus lengkap SWADAYA, Pengurus SWAKABA, Pengurus IMABDYA, Pengurus IMS, Pengurus PLSM dan keluarga besar SWADAYA dapat menghadiri acara tersebut.

    Searah jarum jam: Dr. Nurdin selaku tuan rumah memberikan sambutan. Dilanjutkan dengan pengarahan Ketua Dewan Pembina SWADAYA, H. Zainuddin Daud. Ibu-ibu para anggota dan Ketua Umum SWADAYA, H.M. Yasin Ibrahim memberikan kata sambutan pada acara buka puasa bersama.

    Searah jarum jam: Dr. Nurdin selaku tuan rumah memberikan sambutan. Dilanjutkan dengan pengarahan Ketua Dewan Pembina SWADAYA, H. Zainuddin Daud. Ibu-ibu para anggota dan Ketua Umum SWADAYA, H.M. Yasin Ibrahim memberikan kata sambutan pada acara buka puasa bersama SWAKABA.

    Kuliner Aceh dalam Pergaulan Global: Banyak Hal yang Perlu Dibenahi

    Kuliner Aceh dalam Pergaulan Global: Banyak Hal yang Perlu Dibenahi

    - Sebuah Catatan dari Dialog Pemberdayaan Ekonomi Micro Kuliner Aceh PP TIM

    Peserta pertemuan PP TIM Lr

    Berbicara masalah kuliner tidak pernah ada habisnya untuk diperbicangkan. Setiap daerah di nusantara ini memiliki kuliner yang khas dan unik, baik dari rasa yang mengundang selera, bahan masakan yang digunakan kaya dengan bumbu maupun cara pengolahannya.

    Lalu apa hubungannya kuliner Aceh dengan Pengurus Pusat Taman Iskandar Muda (PP TIM) yang secara khusus mengadakan dialog pemberdayaan ekonomi Micro Kuliner Aceh dalam rangka pertemuan masyarakat Aceh di jakarta dan sekitarnya dengan Gubernur Aceh, dr.H.Zaini Abdullah, Sabtu, 23 Mei 2015 yang lalu di Hotel Amazing Kutaraja Jakarta?

    Ada banyak hal yang terkait dengan kuliner Aceh, seperti yang dapat disimak dari dialog yang berlangsung cukup meriah pada Sabtu sore itu, dengan menampilkan 4 orang narasumber yang semuanya merupakan pelaku bisnis kuliner Aceh di Jakarta dan sekitarnya.

    Bisnis kuliner terbukti masih merajai pasar di manapun di dunia ini yang mendatang devisa bagi negara, tidak kecuali dengan Indonesia yang mengandalkan industri Pariwisata yang tidak mungkin berdiri sendiri tanpa dikaitkan dengan kuliner. Karena itu, cukup beralasan jika pada era Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kala (JK) perlu membentuk badan khusus yang diberi nama Badan Ekonomi Kreatif yang mengurus 16 sub sektor, termasuk kuliner di dalamnya.

    Jika hidangan khas rendang dan nasi goreng ditempatkan dalam jajaran teratas makanan paling lezat di dunia (World’s 50 Most delicious Foods) sebagai peringkat pertama dan kedua, ada satu lagi, masakan Sate yang mendapat peringkat ke-14. Hal ini berdasarkan hasil survei para pemerhati stasiun berita CNN sekitar empat tahun yang lalu. Indonesia tentu patut merasa bangga. Survei yang dihimpun melalui akun CNN di situs jejaring sosial Facebook itu, menempatkan Sushi, makanan dari Jepang pada urutan ketiga.

    Dalam survei televisi CNN yang berbasis di Amerika Serikat itu, sebelumnya menempatkan Massaman curry asal Thailand sebagai peringkat pertama makanan terlezat di dunia. Namun kali ini Massaman curry menempati urutan ke sepuluh dari 50 jenis masakan dari seluruh dunia yang telah disurvei. Namun demikian dari jumlah makanan lezat yang terjaring dari hasil survei, ada tujuh makanan dari Thailand yang terpilih dengan berbagai peringkat. Misalnya, makanan Tim Yang Goong (peringkat ke-4), Pad Thai (urutan ke-5), Som Tan (ke-6), green curry (19), Fried Rice (24) dan Moo Nam Tok (36). Hal ini dapat dimaklumi mengingat Thailand sangat gencar melakukan promosi wisata, termasuk kuliner.

    Makanan khas Indonesia sebenarnya tidak kalah menarik dan cukup menjanjikan dalam kancah kuliner. Selain rendang, masakan Padang lainnya mudah dijumpai di warung/restoran Padang ada di mana-mana, dari Aceh sampai ke Papua. Demikian pula dengan Coto Makassar, makanan khas dari Sulawesi Selatan atau mpek-mpek dari Palembang tidak asing lagi bagi penikmat kuliner di nusantara.

    Menuju Pergaulan Global
    Bagaimana dengan kuliner khas Aceh?
    Bagi masyarakat Aceh, baik yang tinggal di Provinsi Aceh maupun yang hidup diperantauan tentu tidak perlu berkecil hati jika kuliner belum termasuk dalam peringkat makanan lezat di dunia. Jika ada upaya yang sungguh-sungguh, terencana, bersinergi dengan berbagai pihak, tidak tertutup kemungkinan untuk merintis jalan menuju ke sana. Setidaknya, dari dialog yang diikuti oleh jajaran oleh PP TIM, para Pengurus Cabang TIM se-Jabodetabek, organisasi lokal Kabupaten/Kota, seperti Solidaritas Warga Aceh Barat Daya (SWADAYA), IKNR Nagan Raya, organisasi masyarakat dari Gayo, Kota Langsa, dan organisasi Sektoral seperti IMAPA dan lain-lain itu, kiranya dapat memberikan secercah harapan.

    Untuk mengangkat kuliner Aceh agar dapat memasuki pergaulan global, tentu banyak hal yang harus dilakukan dan dibenahi serta perlu mendapatkan dukungan dari semua pihak. Bukan hanya pelaku bisnis kuliner Aceh, tapi juga organisasi sosial kemasyarakatan seperti PP TIM, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), para Pengusaha, Pemerintah Provisi Aceh, Pemerintah Kabupaten/Kota dan seluruh masyarakat Aceh.

    Pemerintah Provinsi Aceh dan Pemerintah Kabupaten/Kota perlu melakukan sosialisasi dan promosi yang lebih intensif agar kuliner Aceh semakin berkembang dan diminati oleh masyarakat dari berbagai kalangan. Misalnya, apa yang dilakukan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Aceh yang menggelar Aceh Culinary Festival 2015 pada 7-9 Juni 2015 di Taman Ratu Safiatuddin, Lampriet, Banda Aceh, merupakan salah satu upaya ke arah sana. Ke depan, kegiatan seperti ini perlu terus digalakkan dan dikembangkan secara berkesinambungan.

    Contoh lain apa yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Bogor, Jawa Barat, dalam rangka memperingati hari ulang tahun Kota Bogor ke 533, pada 3 Juni 2015 yang melibatkan masyarakat dari 17 Pemerintah Provinsi, untuk menampilkan budaya daerah dan kuliner khas dari daerah masing-masing. "Warga Aceh di Bogor tentu tidak menyia-nyiakan kesempatan yang baik ini," kata Iskandar, salah seorang anggota Pengurus TIM Cabang Bogor. Di stand Aceh disediakan beberapa contoh kuliner Aceh, seperti mie Aceh, timphan, teh tarik dan lain lain yang dapat dinikmati dengan membeli kupon yang kepada Panitia yang ternyata cukup laris. Selain itu, pada Sabtu sore itu. Selain itu, seperti daerah-daerah lain Aceh juga menampilkan pertunjukan tari saman di halaman Balai Kota Bogor. Pemerintah Kota Bogor mempersiapkan tenda secara gratis bagi pemerintah atau warga dari daerah lain untuk mengisi stand dan melakukan pertunjukan seni budaya.

    "Kegiatan seperti ini perlu lebih dikembangkan ke depan", ujar seorang pengunjung yang kelihatannya cukup antusias menikmati berbagai pertunjukan kesenian. Prakarsa dan inisiatif bisa datang dari siapa saja, apakah warga Aceh sendiri, organisasi TIM atau dengan melibatkan Pemerintah Provinsi, Kabupaten/Kota.

    Dalam upaya turut melastarikan dan mengembangkan kuliner Aceh, PP TIM sudah menghimpun tidak kurang dari 32 jenis makanan khas Aceh yang sudah dibukukan. Namun sampai saat ini belum dapat dimiliki oleh publik yang berminat. Dan tentu masih banyak lagi resep masakan Aceh yang belum diinventasasi. Tapi setidaknya dari sejumlah resep masakan yang telah terkumpul itu dapat disosialisasikan dan dikembangkan lagi tentu akan menjadi panduan bagi para pelaku bisnis kuliner Aceh.

    Memang kumpulan resep masakan itu saja belum cukup. Dari sekian banyak makanan itu belum ada standar yang baku. Misalnya, apa saja yang dapat dimasukkan sebagai makanan pembuka (appetizer), makanan utama (maincourse) dan apa yang menjadi makanan penutup (desserts), seperti yang berlaku dalam suatu jamuan atau yang tersedia di restoran-restoran pada umumnya. Demikian pula dengan bahan makanan dan bumbu yang digunakan. Bagi kalangan muslim ada tuntutan bukan hanya bahan dan bumbu, tapi juga juru masak, peralatan dan cara memasaknya. Misalnya, mie Aceh yang sudah terkenal itu dijual di warung non muslim dan dimasak oleh non muslim tentu patut dipertanyakan kehalalan dan thoyyibannya dapat memenuhi syarat. Sehingga yang demikian itu perlu ada sertifikasi.

    Dalam hal ini PP TIM perlu memikirkan bagaimana solusinya. Memang dalam diskusi berkembang pandangan dan usulan agar hal ini dapat dibahas dalam suatu diseminarkan dengan melibatkan para ahli di bidangnya.

    Hal lain yang perlu mendapatkan perhatian adalah masalah rasa dari setiap masakan khas Aceh yang juga belum ada standar baku. Mie Aceh, misalnya, apakah mie rebus atau mie goreng dengan bahan baku dan bumbu yang sama, tapi jika diolah oleh juru masak yang berbeda, tentu rasa masakannya akan berbeda. Hal ini juga diakui oleh pelaku bisnis mie Aceh yang sudah memiliki sejumlah cabang di seantero Jabodetabek.

    Perkembangan Kuliner Aceh
    Kilas balik perkembangan kuliner di Jabodetabek, mungkin dapat mengaca pada pengalaman warga Aceh yang kini sudah menetap di di Bogor lebih dari 30 tahun yang lalu. Keberadaan restoran atau warung Aceh yang menyediakan masakan khas Aceh di Jakarta dan sekitarnya, barangkali bisa dihitung dengan jari tangan. Karena pernah tinggal di daerah Pasar Minggu, Jakarta Selatan, pendatang baru dari aceh Barat Daya (waktu itu sebelum pemekaran Kabupaten masih termasuk Aceh Selatan) yang terlintas di pikiran jika ingin mencicipi gulee kameng, kuah pliek, mie Aceh atau timphan, ya, hanya di kawasan Pasar Minggu itu. Lokasinya ada yang di pinggirjalan raya Pasar Minggu dekat rel kereta api yang semraut atau di dalam pasar itu sendiri yang kebanyakan padagang yang menjual bahan kebutuhan masyarakat sehari-hari. Di jalan raya yang dilalui kenderaan dan lalu lalang manusia serta pasar yang kumuh itu menjadi pilihan. Jadi dapat dimaklumi karena warga Aceh yang waktu itu masih lajang dan belum memiliki pekerjaan tetap, terbatas ruang geraknya untuk mencari kuliner Aceh di daerah lain di ibukota, Jakarta.

    Karena kondisi warung Aceh yang dikelola seperti apa adanya dan jauh dari standar kebersihan dan kesehatan itu akan mengurangi kenikmatan dan kenyamanan. Apalagi jika ada tamu, teman atau mitra kerja yang ingin diperkenalkan dengan kuliner Aceh. "Malu membawa ke warung Mie Aceh", ujar salah peserta dialog.

    Kini keadaannya tentu sudah jauh berbeda. Warung Mie Aceh atau restoran yang menyediakan masakan Aceh sudah ada di mana-mana. Lokasi tempat dan pengelolaan restoran dengan sekmen pasar yang lebih bervariasi. Mulai dari warung model kaki lima sampai restoran atau kafe yang lebih representatif dengan ruangan berpendingin udara sehingga membuat penikmat kuliner Aceh betah di dalamnya.

    Kini di kawasan Jabodetabek tersebar Mie Aceh atau liner Aceh lainnya. Jaringan yang menggunakan nama Jali-Jali tidak kurang dari 22 Cabang di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek). "Masih kalah dengan TIM yang sudah mencapai 46 Cabang di Jabodetabek", kata salah seorang anggota PP TIM."Ya, kalau saya diminta membuka warung Mie Aceh untuk menyamai jumlah cabang TIM, tentu tidak sanggup" jawab pemilik Mie Aceh Jali-Jali. Pengalamannya mengelola bisnis kuliner yang sudah lebih dari satu dasawarsa ini bercerita bagaimana pada awal usahanya jatuh bangun dalam merintis dan mengembangkan Jali-Jali.

    Selain Jali-Jali yang menyediakan mie Aceh, ada mie Aceh Bangladesh, mie Aceh 88 di Pasar Minggu, mie Aceh Lamlo, mie Aceh Seulawah, Resto Delima di Klender, yang baru dibuka sejak awal Januari 2015 yang lalu. Lokasinya di Jl. Delima Raya Blok XI No.10, Perumnas Klender, Jakarta Timur. Ada Rumah Makan Mutetia, di Benungan Hilir, Rumah Makan Baruna di Kelapa Gading, Dapoe Aceh Melayu di gedung Plaza Sentral, atau ala Kafe, ada YED-KUPI di Jl. Duren Tiga 65, Jakarta Selatan. Di Bogor ada mie Aceh Bangladesh, Mie Aceh Kurnia yang sudah memiliki 4 cabang. Dan tentu banyak lagi jika ditelusuri satu persatu, sehingga tidak sulit mencari masakan khas Aceh di Jabodetabek, seperti dialami oleh warga Aceh yang tinggal di Bogor 30 tahun yang lalu.

    Lintas Abdya-Galus Putus

    Lintas Abdya-Galus Putus

    Dampak Longsor

    BLANGPIDIE - Badan jalan yang menghubungkan Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) dengan Kabupaten Gayo Lues (Galus) dilaporkan ditimbun longsor, Sabtu (1/11) sore. Sedangkan di Kabupaten Nagan Raya, ribuan rumah dalam wilayah delapan desa di Kecamatan Tripa Makmur, terendam banjir luapan.

    Informasi tanah longsor yang menimbun jalan di lintas Abdya-Galus tersebut diterima Serambi dari Thamrin, Ketua Pemuda Desa Ie Mirah, Kecamatan Babahrot, Abdya, Sabtu (1/11) malam. Menurut Thamrin, longsor menimbun badan jalan di Km 14, masih di Kecamatan Babahrot.“Jalur darat Babahrot-Terangon putus total setelah badan jalan ditimbun tanah longsor di Km 14 pada Sabtu sore,” kata Thamrin.

    Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Kabupaten (BPBK) Abdya, Empy Syafril yang dihubungi Serambi mengatakan, hingga pukul 21.00 WIB tadi malam tim BPBK masih di lapangan memantau perkembangan. Banjir terjadi akibat hujan lebat di Kecamatan Manggeng, Lembah Sabil, Tangan-Tangan, dan Babahrot.
    Di Kecamatan Manggeng, banjir melanda Desa Panton Makmur, Simpang Tiga Lhok Pawoh, Seuneulop, Sejahtera, Pantee Raja, dan Desa Tokoh. Dari 118 rumah warga Desa Simpang Tiga Lhok Pawoh, 115 rumah terendam sebagian warga menggungsi ke masjid atau tempat-tempat aman.

    Di Kecamatan Lembah Sabil, banjir luapan Krueng Baru merendam Desa Alue Rambot, Ladang I dan Ladang Tuha II, Cot Ba’U, dan Meunasah Sukon. Di Kecamatan Tangan-Tangan, merendam Desa Suak Nibong, Suak Labu dan sekitarnya. Sedangkan di Kecamatan Babahrot, luapan Sungai Babahrot mengakibatkan banjir antara lain di Desa Persiapan Cot Seumantok dan Desa Ie Mirah akibat luapan Krueng Ie Mirah.

    Badan Jalan Nasional di sejumlah titik juga di terendam banjir genangan, Sabtu (1/11) malam, di lokasi Desa Menasah Sukon, Kecamatan Lembah Sabil, lokasi Paya Laot atau di perbatasan Desa Panton Makmur dengan Desa Lhueng Baru, Kecamatan Manggeng, Desa Suak Nibong dan Desa Suak Labu, Kecamatan Tangan-Tangan.

    Banjir juga merendam badan jalan nasional lokasi Alue Diwi Desa Alue Pade, Kecamatan Kuala Batee, dan Desa Gunung Samarinda, Kecamatan Babahrot. Hingga tadi malam hujan masih mengguyur Abdya.

    Dari Nagan Raya dilaporkan, ribuan rumah dalam wilayah delapan desa di Kecamatan Tripa Makmur, Kabupaten Nagan Raya, sejak Jumat (31/10) malam hingga Sabtu sore kemarin terendam. Delapan desa yang terendam banjir itu adalah Gampong Pasi Keubeudom, Kuala Tripa, Ujong Krueng, Mon Dua, Neubok Yee PP, Neubok Yee PK, Babah Lueng, dan Panton Pange.

    Camat Tripa Makmur, Ahmad Fuad SIP mengatakan, banjir yang merendam delapan desa itu akibat luapan Krueng Tripa menyusul hujan deras sejak beberapa hari terakhir. “Ini bencana rutin yang dihadapi masyarakat,” kata Ahmad Fuad. Menurutnya, tim BPBD Nagan Raya sudah turun ke lokasi banjir.

    Informasi lain yang diterima Serambi dari jaringan relawan komunikasi RAPI Aceh Selatan menyebutkan, pada pukul 19.00 WIB tadi malam terjadi longsor di jalan Gunung Peulumat, Labuhan Haji Timur. Sedangkan sejumlah kawasan lainnya sempat terendam banjir, antara lain di beberapa lokasi dalam wilayah Labuhan Haji, Labuhan Haji Timur, dan Meukek. “Relawan RAPI Aceh Selatan tetap siaga memantau perkembangan,” lapor Sekretaris RAPI Aceh Selatan, Zumardi Chaidir (JZ01TAX), tadi malam.(nun/edi/nas/SERAMBI)

    http://aceh.tribunnews.com/2014/11/02/lintas-abdya-galus-putus

    Jalur Trans-Sumatera: Tahun Ini Jalur Kereta Lampung-Aceh Dimulai

    Jalur Trans-Sumatera: Tahun Ini Jalur Kereta Lampung-Aceh Dimulai

    Ignasius jonan

    BANDAR LAMPUNG, KOMPAS — Menteri Perhubungan Ignasius Jonan menargetkan proyek jalur kereta api Trans-Sumatera Railways dimulai tahun ini. Jalur kereta api Sumatera Railways itu menurut rencana membentang dari Lampung hingga Aceh.

    ”Total panjang jalur kereta api itu sekitar 1.400 kilometer dan dibangun dalam double track (jalur ganda). Pengerjaannya pasti periodik. Kami belum tahu kapan bisa selesai. Namun, kami berharap bisa dirampungkan secepatnya,” ujar Jonan saat melakukan kunjungan ke Stasiun Tanjungkarang, Bandar Lampung, Jumat (23/1).

    Jonan yakin tak akan ada hambatan dalam pengerjaan proyek tersebut selain pengadaan lahan. Namun, ia belum bisa merinci total investasi yang akan disediakan pemerintah melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara untuk megaproyek itu.

    Hal tersebut belum bisa dipastikan karena Kementerian Perhubungan belum menghitung biaya pembebasan lahan. Namun, yang jelas, tegas Jonan, proyek pembangunan transportasi massal tersebut akan dilakukan secara mandiri tanpa bantuan pihak asing.

    Sementara itu, Vice President PT Kereta Api Indonesia (KAI) Subdivisi Regional 3.2 Tanjungkarang Heru Kuswanto mengatakan, pihaknya siap mendukung proyek nasional tersebut. Ia menyatakan tidak ada masalah mengenai pembebasan lahan untuk jalur Lampung-Kertapati, Sumatera Selatan.

    ”Untuk sektor Lampung-Kertapati tidak ada masalah karena PT Kereta Api Indonesia sudah memiliki lahan untuk jalur kereta api. Pembangunan jalur ganda juga tidak akan menjadi masalah karena berdiri di atas lahan milik PT KAI,” ujarnya.

    Adapun proyek jalur ganda Lampung-Kertapati sepanjang lebih kurang 400 kilometer hingga saat ini baru selesai 10 persen. PT KAI Subdivisi Regional 3.2 baru merampungkan 95 kilometer yang menyambungkan jalur dari Stasiun Giham hingga Stasiun Cempaka, Sumatera Selatan.

    ”Kami menargetkan pembangunan jalur ganda Lampung-Kertapati sepanjang lebih kurang 400 kilometer tersebut selesai pada akhir 2018. Tidak ada hambatan untuk jalur ganda Lampung-Kertapati karena dibangun di atas tanah PT KAI,” tutur Heru.

    Kunjungan Menteri Perhubungan ke PT KAI Subdivisi Regional 3.2 sempat mendapat ancaman dari masyarakat yang menolak penggusuran bangunan di Kelurahan Sawah Brebes, Kecamatan Tanjungkarang Pusat, Bandar Lampung. Masyarakat yang sejak pagi menunggu kedatangan Jonan sempat mengepung kantor PT KAI Lampung dengan bambu runcing.

    Menanggapi hal itu, Heru mengatakan, pihaknya tetap akan melakukan penggusuran pada 28 Januari sesuai dengan surat peringatan yang telah diberikan kepada warga Sawah Brebes. ”Kami tetap berpegang pada keputusan pengadilan yang menyatakan tanah yang diduduki warga itu milik PT KAI. Tidak ada alasan penundaan eksekusi karena kami telah memberikan surat peringatan sejak lama,” ujarnya.

    Ditemui secara terpisah, Ketua Forum Komunikasi Masyarakat (FKM) Sawah Brebes Robert Gultom mengatakan, pihaknya akan terus berjuang terkait upaya pengosongan lahan.

    ”Kami sudah tinggal di daerah ini sudah lama, bahkan sudah tiga generasi. Mengapa baru sekarang PT KAI tiba-tiba mengambil tempat kami dilahirkan dan dibesarkan? Kami akan melawan PT KAI sampai ada kejelasan hukum,” katanya. (GER)

    http://print.kompas.com/KOMPAS

    Hasil Tambang: Giok Aceh Diminati

    Hasil Tambang: Giok Aceh Diminati

    Batu-giok-crp

    BANDA ACEH, KOMPAS — Pasca memenangi ajang Indonesian Gemstone Competition and Exhibition 2013 dan 2014 di Jakarta, hasil bumi Aceh berupa batu giok semakin diminati oleh masyarakat domestik dan mancanegara. Hal itu pun turut memicu penambangan batu giok di sejumlah tempat di Aceh, seperti di Kabupaten Aceh Barat, Nagan Raya, dan Aceh Tengah.

    Berdasarkan pantauan Kompas di Aceh Barat dan Nagan Raya, Rabu (24/9), banyak terdapat pengumpul, pedagang, dan pengasah batu giok. Batu-batu giok itu dijual dalam sejumlah ukuran, dari seukuran kelereng hingga sebesar batu bata.

    Pengumpul batu giok di Desa Kulam Jerneh, Kecamatan Betung, Nagan Raya, Buckhari (42), mengatakan, batu itu ditemukan dan diambil di Aceh sejak sepuluh tahun lalu. Namun, saat itu batu belum terlalu diminati karena harganya masih rendah, yakni sekitar Rp 100.000 per kilogram.

    Giok Aceh mulai mendapatkan perhatian luas ketika juara dalam ajang Indonesian Gemstone Competition and Exhibition 2013 dan 2014 di Jakarta. Seiring dengan itu, harga batu giok Aceh menjadi tinggi, Rp 300.000-Rp 1,5 juta per kilogram.

    Buckhari mengatakan, kondisi itu mendorong warga berpindah mata pencaharian dari buruh atau pedagang menjadi pencari, pengolah, dan penjual batu giok. Warga datang ke gunung dan sungai untuk mencari batu giok.

    Perajin di Banda Aceh, Hendro Saky (34), mengatakan, giok Aceh yang diminati adalah jenis giok idocrase lumut, giok idocrase biosolar, dan giok idocrase solar.

    Kepala Jurusan Geologi Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala, Gartika Setia Nugraha, mengutarakan, giok Aceh sebagian besar jenis nephrite dan sebagian kecil jenis jadeite.

    Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Aceh, Safwan, menyampaikan, pemerintah daerah menerapkan aturan batasan pengambilan batu giok dan dilarang menggunakan alat berat. (DRI)

    http://print.kompas.com/KOMPAS
    Jumat, 26 September 2014