Author: admin

author
    Bangkitkan Kembali Kejayaan Nanggroe Breuh Sigupai

    Bangkitkan Kembali Kejayaan Nanggroe Breuh Sigupai

    Ketua Umum Solidaritas Warga Aceh Barat Daya (SWADAYA), H. Zainuddin Daud mengharapkan agar di bawah kepemimpinan Bupati Aceh Barat Daya Ir. Jufri Hasanuddin, Kabupaten Aceh Barat Daya dapat mengejar ketinggalan pembangunan, baik dari aspek ekonomi, pendidikan, kesehatan dari kabupaten-kabupaten lain di Provinsi Aceh. “Bangkitkan dan kembalikan kejayaan Aceh Barat Daya, Naggroe breueh sigupai”, ujarnya pada acara halal bil halal SWADAYA yang berlangsung Sabtu siang, 30 Agustus 2014 di Griya Ardhiya Garini, Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur.

    Menurut H. Zainuddin, sejak Kabupaten Aceh Barat Daya menjadi daerah otonom dari hasil pemekaran Kabupaten Aceh Selatan dan telah dipimpin oleh 2 orang Bupati defenitif, belum ada kemajuan apa-apa dibandingkan dengan daerah-daerah di Provinsi Aceh. “Ini harus menjadi perhatian Bupati, Jufri Hasanuddin untuk bekerja secara maksimal, memperhatikan kepentingan masyarakat Aceh Barat Daya”, ujarnya.

    Dikatakan,sekitar tahun 1960-an, perdagangan di Aceh Barat Daya, terutama di Blangpidie yang kini menjadi ibukota Aceh Barat Daya, cukup dikenal sebagai penghasil pala, cengkeh, karet, nilam, kacang tanah dan lain-lain. Pada zaman VOC dulu memperdagangkan rempah-rempah dari Aceh Barat Daya. Jadi kemajuan pembangunan dan masyarakat, tergantung kepada pimpinan dalam menentukan kebijakan supaya roda perekonomian dapat berjalan dengan baik dan rakyat hidup sejahtera, tidak merana dalam kesengsaraan. “Tujuan pembangunan harus dapat memakmurkan dan menyejahterakan rakyat, bukan hanya untuk kepentingan kelompok, apa lagi untuk kepentingan pribadi dan keluarga”, kata Zainuddin.

    Ditambahkan, perekonomian rakyat harus dibangkitkan dan adanya pemerataan pembangunan agar tidak timbul kesenjangan dan kecemburuan sosial. “Kini masyarakat menagih realisasi janji-janji politik pada masa kampanye dulu untuk pembangunan infrastruktur, ekonomi, pendidikan, kesehatan dan lain-lain”.

    Acara yang berlangsung dengan meriah itu diawali dengan tari ranup lam puan, sebuah tari khas Aceh dalam penyambutan tamu, para undangan, antara lain. Bupati Aceh Barat Daya Ir Jufri Hasanuddin beserta istri, Komandan Kodim 0110 Abdya, Letkol ARM E. Dwi Karyono AS dan istri, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Taman Iskandar Muda Kaharuddinsyah, para sesepuh dan tokoh masyarakat, anggota SWADAYA dari Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi serta para undangan lainnya.

    Pada kemsempatan itu juga ditampilkan seni Rapai Geleng dari organisasi Kecamatan, Putra Lembah Sabil Manggeng (PLSM), tari Seudati dari Blangpidie (IMABDYA) dan tari Saman.

    Tidak Ada Diskriminasi dalam Organisasi TIM

    Tidak Ada Diskriminasi dalam Organisasi TIM

    “Tidak ada diskriminasi bagi warga Aceh yang terhimpun dalam organisasi Tiaman Iskandar Muda”, demikian dikatakan oleh Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Taman Iskandar Muda (TIM), Kaharuddinsyah, dalam sambutannya pada acara Halal bil Halal dan silaturrahmi Solidaritas Warga Aceh Barat Daya (SWADAYA) yang berlangsung di Griya Ardhiya Garini, Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur, Sabtu siang, 30 Agustus 2014 yang lalu.

    Kaharuddinsyah mengakui bahwa belakangan ini ada kesan bahwa seolah-olah TIM hanya memperhatikan warga yang berasal dari daerah tertentu di Provinsi Aceh. Hal ini disebabkan karena kurangnya komunikasi dan sosialisasi dari TIM kepada organisasi-organisasi lokal dan masyarakat dari kabupaten/kota dalam lingkup provinsi Aceh.

    Dikatakan, selama ini organisasi-organisasi Kabupaten cukup berperan dalam mengembangkan dan memajukan masyarakat, termasuk organisasi Taman Iskandar Muda, yang didirikan sejak 1950 yang lalu sebagai wadah bagi warga masyarakat Aceh yang ada di Jakarta dan sekitarnya. “TIM memiliki 2 pilar penyangga, yaitu organisasi lokal seperti SWADAYA dan organisasi sektoral. Dari 23 Kabupaten/kota Provinsi Aceh, sudah ada 12 organisasi Kabupaten yang tergabung dalam Taman Iskandar Muda”, katanya.

    Untuk meyakinkan anggota masyarakat yang hadir pada acara tersebut, Kaharuddinsyah mengutip Anggaran Dasar TIM, BAB VI, Pasal 12 sampai dengan Pasal 14 yang mencantumkan bahwa Taman Iskandar Muda memiliki 2 (dua) pilar organisasi pendukung, yang terdiri dari organisasi-organisasi lokal dan organisasi-organisasi sektoral. Organisasi Lokal adalah organisasi masyarakat Aceh di Jakarta dan sekitarnya yang bersifat kekeluargaan, berdasarkan kesamaan wilayah asalnya di Nanggroe Aceh Darussalam dari setiap Kabupaten/Kota, yang diakui, dan mendaftarkan dirinya kepada Taman Iskandar Muda. Sedangkan Organisasi Sektoral adalah organisasi yang dibentuk oleh keluarga besar masyarakat Aceh di Jakarta dan sekitarnya berdasarkan kesamaan aspirasi, profesi, dan misi, yang diakui dan mendaftarkan dirinya kepada Taman Iskandar Muda.

    Karena itu, ke depan dibutuhkan pemikiran dari warga Aceh yang berdomisili di Jakarta dan sekitarnya untuk mengembangkan organisasi TIM. Tidak perlu ada keraguan bagi organisasi-organisasi Kabupaten/Kota untuk bergabung dengan TIM, agar sama-sama dapat memajukan organisasi dan warganya.

    Haji dan Kapitalisasi Habitus Keberagamaan

    Haji dan Kapitalisasi Habitus Keberagamaan

    Oleh: ZULY QODIR/Sosiolog dan Peneliti Senior Maarif Institut

    ”TIDAK ada lagi alasan bagi Kementerian Agama untuk menyelewengkan kuota haji karena Sistem Komputerisasi Haji Terpadu memiliki data terpadu berdasarkan teknologi informasi”. (Busyro Muqoddas, ”Kompas”, 26/7/2014)
    Selama ini para pejabat negara tanpa harus antre dapat berangkat ke Tanah Suci. Sementara, di sisi lain, ribuan anggota jemaah calon haji harus rela antre selama bertahun-tahun untuk menjalankan ibadah yang memerlukan biaya dan tenaga besar itu.

    Ini sungguh sebuah fenomena keagamaan yang sarat kekuasaan dan kapital, yang di negeri Muslim terbesar di dunia ini dapat dikatakan senantiasa bermasalah. Inilah komodifikasi dan komersialisasi keberagamaan yang terus berlangsung di Indonesia setiap musim haji tiba.

    Terhitung sejak 1 September 2014, jemaah calon haji Indonesia diberangkatkan dari sejumlah embarkasi, seperti Tangerang, Surabaya, dan Bandung. Terdapat beberapa hal yang harus dilakukan jemaah calon haji, seperti periksa kesehatan terakhir, periksa kehamilan, dan kelengkapan bekal perjalanan haji.

    Jika tidak lolos, ada kemungkinan mengalami penundaan keberangkatan. Inilah liku-liku jemaah haji Indonesia yang hendak menghadap Tuhannya. Agak berbeda dengan jemaah para pejabat birokrasi Indonesia, yang sering mendapatkan banyak kemudahan fasilitas.

    Komodifikasi religiositas
    Persoalan komodifikasi dan komersialisasi sering kali dekat, bahkan identik, dengan yang kita kenal ”pertarungan identitas kelas sosial”. Oleh karena itu, semua artikulasi perilaku keagamaan sebenarnya akan dapat dibaca dalam perspektif ”pertarungan identitas kelas” sosial dalam masyarakat kaum beragama. Hal yang juga menarik adalah persoalan komoditas yang mengarah pada masalah kekuatan ekonomi sebagai kapital dalam melakukan kapitalisasi beragamaan (prayer and economic power) seperti dikatakan Birgit Meyer (2004).

    Kajian tentang pertarungan identitas kelas sosial telah demikian banyak dilakukan para sosiolog agama dan antropolog sosial, semacam Gayatri Spivak (2010) ataupun Arjun Apadurrai (2004). Bahwa, menurut mereka, sesungguhnya telah terjadi pertarungan kelas sosial terpinggirkan dan kelas sosial menengah yang jauh lebih mapan secara ekonomi, kekuasaan, dan kultural. Hal itu karena kelas-kelas sosial ini memiliki bekal-bekal yang memadai dalam menguasai wilayah yang dipertarungkan sebagai ranah publik.

    Bahkan, dalam perkembangannya, yang kita kenal sebagai ranah publik atau ranah sosial sejatinya memang tidak pernah sepi dari pertarungan. Baik oleh kelompok keagamaan, kelompok etnis, kelompok aktivis jender, aktivis lingkungan, maupun kelompok kepentingan politik. Semua bertarung ”memperebutkan ruang publik sosial” untuk ditaklukkan menjadi bagian dari gagasan besar yang tengah diusung sekalipun harus melawan banyak tradisi yang telah mapan dalam masyarakat. Semua bertujuan saling menundukkan dengan strategi-strategi yang dikemas dalam bermacam aktivitas gerakan untuk memengaruhinya (Habermas, 2002).

    Pertarungan tersebut menunjuk pada adanya pertarungan kelas dan identitas sebagai bagian dari globalisasi. Pertarungan identitas dan kelas merupakan salah satu problem globalisasi, dinyatakan oleh sebagian sosiolog agama, termasuk Jeremy Stolow (2010). Dikatakan bahwa globalisasi dunia lewat media yang demikian masif akan membawa masyarakat pada dunia yang ”sekuler” sehingga akan terjadi pertarungan gagasan ideal normatif keagamaan berhadapan dengan gagasan kontekstualisasi keagamaan yang menjadi bagian dari kehidupan.

    Akan tetapi, suatu hal yang juga harus diingat adalah kehadiran ”dunia sekuler” akan melahirkan yang dinamakan profesionalisasi dalam hal pemerintahan, politik, pekerjaan, kedisiplinan, serta hal-hal yang bersifat teknis yang lain menjadi berkembang. Semua itu memberikan gambaran bahwa sumber daya nalar manusia selalu mengimajinasikan hal yang baru (Stolow, 2010).

    Religiositas habitus
    Perkembangan media telekomunikasi, seperti internet, Twitter, dan Facebook, juga turut memberikan warna atas pertumbuhan Islam Indonesia yang semakin variatif. Kemunculan Islam selebritas, misalnya, merupakan bagian tak terpisahkan dari kehadiran ber-Islam sebagai fashion, bukan sekadar beragama secara saleh, melainkan beragama sekaligus fashionable atas perkembangan dunia modeling yang sekarang tidak tertolakkan kehadirannya.

    Saat ini banyak muslimah berusaha dapat tampil secara maksimal sesuai dengan fashion yang sedang berkembang (sedang populer), tetapi sekaligus hadir sebagai seorang muslimah yang ”tampak saleh” dalam berpakaian, berkerudung, berjilbab, dan berkendaraan. Inilah suatu model Islam fashionable yang sedang ditawarkan Muslim kelas menengah sebagai bagian dari Muslim gaya baru.

    Kita dengan mudah mendapatkan berbagai macam agen biro perjalanan yang menawarkan ibadah haji dan umrah di kalangan kelas menengah Muslim perkotaan dan orang kaya baru yang hadir di tengah masyarakat.

    Oleh karena itu, Muslim kelas menengah perkotaan—karena telah mapan secara keuangan, sebagian belum berkeluarga—pun beramai-ramai menjalankan ibadah umrah yang biayanya tidak kurang dari Rp 25 juta dengan tawaran beragam fasilitas yang menyenangkan. Sebutlah seperti hotel bintang empat, perjalanan yang menyenangkan ke lokasi-lokasi (bersejarah) di Timur Tengah dan Eropa, sekaligus mendapatkan bimbingan dari seorang pemimpin rombongan yang populer.
    Semua itu bukan sekadar persoalan ibadah dan bermunajat kepada Tuhan. Lebih dari itu, dalam perspektif sosiologi kontemporer dan sosiologi kritis adalah bagian dari ”pembentukan citra identitas” diri yang berlatar belakang sosial keagamaan.

    Ibadah haji dan umrah yang sekarang demikian ramainya di Indonesia, jika diperiksa dalam perspektif sosiologi kritis, adalah bagian tak terpisahkan korelasi religiositas sebagai bagian dari ekspresi keimanan (faith expression) dan lembaga keimanan (faith institution) dengan ekonomi pasar yang selalu dekat dengan pengamalan keagamaan yang tidak dapat dilepaskan dari tradisi-tradisi keagamaan yang bersifat privat.

    Jika sudah berhubungan dengan ekonomi pasar, pengalaman dan perjalanan keagamaan sesungguhnya telah hadir sebagai keagamaan yang bersifat publik yang rawan dengan komodifikasi (Pattana Kitiarsa, 2010). Hal yang sama juga dikerjakan para pengikut agama, seperti juga penganut Islam, secara tidak sadar ataupun secara sadar sebenarnya telah menjalankan yang disebut religious habitus yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari keimanan yang dimilikinya (A Mellor, 2010).
    Perlu direspons

    Fenomena lain yang sangat dekat dengan kita adalah kehadiran kelompok-kelompok jemaah pengajian ”para artis” dan ”ustaz selebritas” yang dikepung dengan iklan berbagai produk kecantikan dan kesehatan masyarakat. Beragam tawaran iklan produk kecantikan perempuan serta media kesehatan masyarakat ditawarkan di sela-sela pengajian yang dipandu artis atau aktor.

    Seorang aktris atau aktor sekaligus pemakai produk fashion tertentu, yang selalu ditayangkan di awal acara pengajian, menjadi tontonan yang sering kali lebih disukai pemirsa ketimbang mengikuti pengajian-pengajian klasikal. Entah itu diselenggarakan Muhammadiyah atau Nahdlatul Ulama ataupun jemaah pengajian lain yang bersifat klasikal. Meski jemaah yang datang berjubel, daya pikatnya akan berbeda ketika dihadiri seorang aktor atau aktris sebagai pembawa acara atau pemberi materi pengajian.

    Oleh karena itu, kondisi globalisasi yang menghadirkan banyak situasi perlu mendapatkan respons dari kalangan umat Islam. Baik dari kalangan akademisi, aktivis sosial, aktivis lembaga keagamaan (termasuk Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama), pengambil kebijakan, aktivis lingkungan, pemilik media, organisasi perdagangan, bahkan aktivis gerakan sosial untuk mendefinisikan kembali berbagai aktivitas, kategori, dan posisi sehingga sesuai. Hal itu karena identifikasi model konservatif telah kehilangan daya sentuhnya terhadap masyarakat kontemporer (Tsing, 2004).

    Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000008642659

    Unsur Magis dalam Tradisi Lisan Aceh

    Unsur Magis dalam Tradisi Lisan Aceh

    Oleh Sudirman, PNS pada Balai Pelestarian Nilai Budaya Aceh-Sumut

    ISLAM dalam masyarakat Aceh tidak hanya sebatas ajaran agama, melainkan telah membentuk suatu kultur yang tercermin pada setiap aspek kehidupan.

    Penyesuaian diri budaya lama dengan ajaran Islam terlihat dalam berbagai upacara adat. Petani, misalnya, dalam kegiatan bersawah selalu diikuti oleh beberapa rangkaian upacara. Sawah dan padi dianggap seperti manusia, mempunyai nyawa dan daya kekuatan. Untuk itu, perlu diadakan upacara supaya jauh dari pengaruh roh jahat.

    Dalam pelaksanaannya, upacara tidak terasa lagi sifat animismenya, sebab mantra yang dibacakan sudah dilakukan penyesuaian dengan nilai Islam. Misalnya, ketika membaca mantra dimulai dengan membaca basmalah.

    Mantra mengenal ketentuan-ketentuan bunyi tertentu dengan pemakaian kata-kata tertentu pula supaya dapat mendatangkan kekuatan gaib. Dalam berbagai upacara, mantra diucapkan dengan suara yang terang, sebab suara dapat berfungsi untuk mendatangkan kekuatan gaib, yaitu menggemanya persamaan-persamaan bunyi yang magis. Oleh karena itu, bentuk puisi mantra tidak berubah dalam struktur ikatannya, sedangkan unsur Islam hanya sebagai tambahan.

    Jenis mantra yang sudah dipengaruhi oleh unsur Islam, misalnya, mantra untuk menjampi anak-anak yang sakit perut. Mantra dimulai dengan membaca surat Al-fatihah, surat Al-ikhlas, dan salawat kepada Nabi, dilanjutkan dengan membaca mantra. Misalnya: hong dat-dat/ na umu na ubat/ lhee boh klaih pliek-u/ lhee boh mu pisang klat/ on pineung tho/ on pineung mirah/ alfatihah kutawa bisa/
    Ciri mantra pada penggunaan bunyi hong yang menimbulkan bunyi magis, sedangkan bunyi dat-dat ditambahkan untuk keperluan persanjakan.

    Upacara magis sebelum Islam sudah jarang dijumpai. Namun, masih ada beberapa kesenian yang merujuk akarnya ke dalam tradisi pra Islam sebagai perkembangan lebih lanjut dari bentuk puisi mantra, misalnya pho, seudati, dan nasib.

    Tari pho, pada mulanya digunakan pada acara kematian. Dalam beberapa hikayat yang merekam tentang pho, tidak lagi memberi kesan bahwa pho merupakan tarian magis, meskipun dimainkan pada upacara berkabung. Dalam hikayat Pocut Muhammad disebutkan bahwa pho masih merupakan upacara berkabung pada kematian: reuhab pi troih ka geupeu-eh/ gulheueb binteh ban silingka/ siteungoh ri ka jiba-e/ siteungoh pho leumpah dada/ ok di ule tugeureubang/ jilinggang ateueh keureunda//

    Dalam Hikayat Nun Parisi disebutkan, pho sudah berubah menjadi tarian biasa dan cenderung bersifat hiburan. Misalnya: lam meuligo rakyat that le/ inong meupho mangat suara/ ateueh kulet jimeunari/ su sang bangsi buloh beungga/ badan leumoh sapai leunto/ jihayak pho han ngon peusa/ sajan langkah sigo linggang/ ayon subang blet-blot mata/ jihadi pho su that mangat/ le hikeumat ngon peugila/ dumna ureueng tahe gante/ lalo bak pho yub astana//

    Ciri puisi dalam tarian pho sekarang masih tetap tampak, sedangkan sifat animisme sudah tidak tampak. Misalnya: deungo lon kisah po bungong panjo/ pahlawan nanggroe ulon calitra/ di Meulaboh Umar pahlawan/ di Bakongan Angkasah Muda/ sideh di Padang na Imam Bonjol/ Batak gon Karo Sisingamaharaja/ di Aceh na Teungku Cik Ditiro/ Diponegoro di tanoh Jawa/ syahid Angkasah tinggai Cut Ali/ prang beureuhi lebeh bak nyangka//

    Berbeda dengan pho yang disebut dalam beberapa hikayat, seudati belum dijumpai penyebutannya dalam hikayat. Snouck Hurgronje mengatakan bahwa sebutan seudati berasal dari kata Arab, sadati, berarti abang-abangku. Karena penyanyi (aneuk dik) nya selalu memanggil lem, cut lem atau dalem (semuanya berarti abang) untuk penari seudati.

    Snouck Hurgronje juga menyebutkan bahwa kesenian seudati berasal dari rateb.
    Keterangan Snouck Hurgronje berbeda dengan kenyataan tarian seudati yang dikenal sekarang. Rateb sadati sama dengan rateb dong (rateb dalam posisi berdiri) atau rateb saman (reteb dalam posisi duduk). Kedua model posisi rateb ini sampai sekarang masih dikenal dalam kesenian Aceh, meskipun nyanyian yang diucapkan tidak lagi berasal dari sumber puisi mistik.

    Pemain seudati saling membalas sanjak, aneuk seudati mengucapkan larik-larik puisinya secara spontan, sesuai suasana pada saat pertunjukan. Misalnya: haba lam surat jino lon baca/ apa di lua neu-iem beu seungab/ saya harap pada adinda/ malam Seulasa tanonton siat/ malam Seunanyan hana got gamba/ malam Seulasa pilem hebat that/ pilem Meulayu tatupeue basa/ ngon aneuk muda keubit gagah that/ ka putoh pakat awaknyan dua/ kuedeh bak gamba ka jibeurangkat/ di lon malam nyan pi na lon teuka, ngon Syek Lah Geunta sigo beurangkat//

    Dibandingkan pho dan seudati, nasib merupakan bentuk kesenian yang lebih muda. Nasib tidak mengenal alat musik dan tarian, tetapi dua orang penyair saling debat dan sindir, diucapkan dalam bentuk puisi yang diciptakan secara spontan.

    Nasib berasal dari bahasa Arab yang berarti “puisi cinta”, dalam pandangan mistik sebagai ungkapan kerinduan pertemuan dengan yang Maha Pencipta. Menilik pada tradisi yang ada sebelum Islam, mengesankan nasib merupakan suatu bentuk sinkretisme.

    Sebelum genre hikayat sebagai pengaruh budaya Islam, telah berkembang tradisi lisan dalam masyarakat Aceh. Pada mulanya merupakan bentuk puisi magis, kemudian berkembang menjadi penyajian yang bersifat profan, seperti terlihat pada perkembangan pho dan seudati.

    Nasib merupakan bukti lanjutan hubungan masyarakat Aceh dengan tradisi lisan. Dari nasib berkembang bentuk-bentuk kesenian lain, seperti rateb dengan berbagai corak, rapa-i dabus, dan lain-lain yang menyajikan bentuk puisi yang diciptakan secara spontan.

    * sumber: http://aceh.tribunnews.com/2014/08/24/unsur-magis-dalam-tradisi-lisan-aceh

    Agama, Kekuatan Utama Menuju Sejahtera

    Agama, Kekuatan Utama Menuju Sejahtera

    SESUAI Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2012-2017, Bupati Jufri Hasanuddin dan Wakil Bupati Yusrizal Razali memiliki visi menjadikan “Kabupaten Aceh Barat Daya yang Islami, sejahtera, dan mandiri melalui pemberdayaan potensi daerah yang berbasis kearifan lokal.”

    Visi islami diwujudkan melalui berbagai program keagamaan dan pelestarian nilai-nilai dasar Islam. Dukungan terhadap ulama pun menjadi komitmen Jufri. Tahun ini, 72 ulama diberangkatkan umroh secara gratis oleh Pemerintah Aceh Barat Daya.

    Selain itu, Muzakarah Tauhid Tasawuf Asia Tenggara ke-3 juga difasilitasi dan diadakan di Blangpidie, Aceh Barat Daya. Seminar keagamaan berlevel internasional itu dibuka pada Jumat 6 Juni 2014, oleh Wali Nanggroe Malik Mahmud, diikuti sekitar 550 ulama yang tergabung dalam Majelis Pengkajian Tauhid Tasawuf (MPTT) dari sejumlah negara Asia Tenggara, dan berlangsung hingga Minggu, 8 Juni 2014.
    Beberapa pakar dan ulama kondang yang hadir seperti Prof Dr Syekh Mehmet Fadhil Al-Jailani. Pimpinan Al-Jailani Centre Istanbul Turki ini merupakan keturunan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, ahli tafsir dan pimpinan ulama sufi terkenal.

    “Muzakarah Tauhid Tasawuf Asia Tenggara ini sudah tiga kali digelar. Pertama di Meulaboh tahun 2010, kedua di Selangor Malaysia tahun 2012, dan ketiga, atas permintaan Bupati Jufri Hasanuddin dilaksanakan di Blangpidie,” ujar Abuya Syekh H Amran Waly Al-Khalidy, Pimpinan Pusat Majelis Pengkajian Tauhid Tasawuf Asia Tenggara.

    Jufri bangga dan merasa mendapat kehormatan dipercaya melayani ratusan ulama dan tokoh agama melaksanakan muzakarah tersebut. Pemerintah Aceh Barat Daya, kata dia, berkomitmen mendukung pelaksanaan syariat Islam. Bahkan, dengan komitmen dari Pemerintah Arab Saudi, sebuah pusat kajian Islam hingga kini masih terus diproses untuk dapat segera didirikan di Aceh Barat Daya.

    Sebelum muzakarah Tauhid Tasawuf Asean ke-3 digelar, Pemerintah Aceh Barat Daya juga dinilai sukses menggelar Seminar Ilmu Tauhid, Fiqih, Tasawuf dan Tawajjuh se-Aceh pada Maret 2014 di Dayah Darul Ulumuddiniyah. Saat penutupan Muzakarah, Bupati Jufri akan mengupayakan ke Pemerintah Aceh agar tauhid-tasawuf dapat dimasukkan ke dalam kurikulum lembaga pendidikan.(*)

    Sumber: http://aceh.tribunnews.com/2014/08/22/agama-kekuatan-utama-menuju-sejahtera

    10 Kuliner Aceh yang Harus Dicoba Wisatawan

    10 Kuliner Aceh yang Harus Dicoba Wisatawan

    Untuk mereka yang akan traveling ke Aceh dalam waktu dekat ini, pastikan wisata kuliner jadi agenda liburan di sana. Kuliner apa yang harus dicoba? Ini dia 10 makanan populer di Negeri Serambi Makkah.

    "Ka leuh pajoh bu?"

    Jangan kaget kalau bertemu orang-orang di Banda Aceh dan ditanya seperti itu. 'Ka leuh pajoh bu?' atau 'Sudah makan nasi?' adalah sapaan khas yang menunjukkan keramahan masyarakat di Aceh. Kalimat itu juga merupakan salah satu cara 'Pemulia Jamee' atau memuliakan tamu bagi orang Aceh.

    Orang Aceh pencinta makanan, bisa dilihat dengan banyaknya jumlah tempat makan atau restoran. Mulai dari restoran yang ber-AC hingga ke kaki lima. Semua makanan yang ditawarkan menggugah selera.

    Makanan Aceh merupakan perpaduan berbagai kebudayaan seperti Arab, India, Siam, Spanyol, China hingga Belanda. Namun yang paling banyak mempengaruhi adalah masakan Arab dan India yang menggunakan banyak bumbu dan rempah-rempah.

    Orang Aceh sangat menghargai makanan, sehingga makanan pun digarap dengan serius. Tidak jarang pula ditemui orang yang makan hingga keringetan. Belum sah rasanya ke Banda Aceh sebelum mencicipi makanan khas yang ada disana. Inilah 10 makanan Lokal yang digemari:

     

    1. Ayam Tangkap

    Ayam yang digoreng dengan berbagai macam rempah dan bumbu, seperti daun temurui, bawang merah, bawang putih dan cabai hijau. Biasanya disajikan dengan bumbu kecap dan nasi yang hangat. Harga per paketnya Rp 60.000 per ekor. Biasa untuk 4-5 orang. Bisa di dapat di RM Aceh Rayeuk, RM Cut Dek dan RM Hasan.

     

    1. Mie Aceh

    Mie yang dimasak dengan berbagai macam rempah yang menggugah selera makan. Biasa ditawarkan dengan berbagai macam isi seperti kepiting, cumi-cumi, udang atau jamur. Harga per porsinya mulai Rp 12.000 per piring. Bisa didapat di RM Mie Razali, Yellow Cafe, REX, Coffee Bay dan masih banyak lagi.

     

    1. Gule Plik U

    Berbagai jenis sayuran segar yang dicampur dan dimasak dengan bumbu khusus. Plik U adalah kelapa yang sudah difermentasi. Harga per piringnya Rp 8.000. Bisa didapat di RM Aceh Rayeuk, RM Ujung Batee dan rumah makan Aceh lainnya.

     

    1. Gule Kambing

    Daging kambing yang empuk dimasak dengan potongan nangka muda. Memiliki rasa yang unik dan menggugah selera. Biasa disajikan dengan minuman timun serut (I Boh Timon).

    Air timun ini juga berfungsi sebagai penetralisir agar tidak terjadi darah tinggi. Harga mulai Rp 12.000 per porsi. Bisa ditemukan di RM Aceh Rayeuk, RM Hasan, RM Aceh Spesifik, RM Nasi Kambing, dll.

     

    1. Daging Masak Putih (Sie Reboh Puteh)

    Daging sapi yang direbus dengan santan dan bumbu lainnya ini memiliki rasa yang unik. Selain dagingnya yang empuk, rasa manis membuat makanan ini digemari anak-anak dan orang dewasa yang tidak menyukai masakan yang pedas dan asin.

    Sekali mencobanya bisa bikin ketagihan. Bisa ditemukan di RM Aceh Rayeuk dan rumah makan yang menjual masakan Aceh lainnya. Harga dimulai Rp 8.000/porsi.

     

    1. Martabak Telur Aceh

    Martabak ini terbuat dari tepung terigu yang ditutui dengan telur yang sudah dicampur dengan berbagai jenis sayur yang telah dipotong kecil-kecil. Biasanya disajikan dengan acar bawang merah dan cabe rawit.

    Uniknya, alat masak yang digunakan berbentuk petak dan datar. Harga mulai Rp 7.000 per porsi. Bisa ditemukan di REX, Peunayong, Ulee Kareng, Helsinki, Dapu Kupi, dll.

     

    1. Roti Canai

    Tepung terigu yang sudah dibentuk bulat dimasak dengan menggunakan mentega. Kemudian disajikan dengan berbagai macam rasa seperti durian, kari ayam, kari kambing, cokelat ataupun hanya gula pasir. Harga mulai Rp 8.000 per porsi. Bisa ditemukan di Canai Mamak KL, Setui.

     

    1. Ikan Kayu

    Ikan kayu atau eungkot Keumamah, ini sudah terkenal sejak masa peperangan di Aceh. Ikan yang dikeringkan ini sangat nikmat bila dimasak dengan gulai Aceh.

    Menariknya, ikan ini bisa bertahan hingga bertahun-tahun. Oleh karena itu juga makanan ini menjadi andalan orang Aceh ketika perang, enak dimakan dan tahan lama. Harga mulai Rp 20.000 per kemasan. Bisa ditemukan di toko oleh-oleh Aceh.

     

    1. Sate Matang

    Sate yang terkenal karena dagingnya yang empuk, karinya yang lezat dan bumbu kacangnya yang gurih. Kita bisa merasakan kelezatannya sate ini di REX, Peunayong dengan harga Rp 20.000 per porsi.

     

    1. Bubur Kanji Rumbi

    Bubur yang terbuat dari beras pulen, ditumbuk kasar yang direbus dengan campuran rempah-rempah seperti, ketumbar, lada, bawang merah, jahe, biji pala dan adas manis. Biasa disajikan dengan ayam, udang atau telur setengah matang di atasnya.

    Bisa ditemukan di Bubur Jagung, Ulee Kareng mulai Rp 8.000. Masih kurang? Ayo segera ke Banda Aceh, masih banyak makanan menggiurkan di sini!

    sumber : http://travel.detik.com/read/2013/10/17/153000/2229765/1025/5/10-kuliner-aceh-yang-harus-dicoba-wisatawan#menu_stop

    UN Sebagai Momentum Kebangkitan

    UN Sebagai Momentum Kebangkitan

    ujian-nasional-smp-sma-ujian-sekolah-sd-2015

    Oleh Arbai

    MENTERI Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan untuk tahun ini melakukan berbagai terobosan tentang model Ujian Nasional (UN). Pelaksanaan UN kali ini disesuaikan dengan merangkul perbedaan kualifikasi sekolah. Ini ditandai dengan adanya UN online atau Computer-Based Test (CBT) bagi sekolah-sekolah yang maju dan siap dari sisi Sumber Daya Manusia (SDM) serta didukung infrastruktur yang lengkap. Dipastikan ada 585 sekolah yang siap melaksanakan UN CBT ini. Sementara jumlah keseleluruhan sekolah yang ikut UN, 18.552 SMA/MA yang melaksanakan UN pada Senin (13/4/2015) hingga Rabu (15/4/2015) dan ada 10.362 SMK. Sedangkan untuk SMP ada 50.515 sekolah yang akan melaksanakan UN pada Senin (4/5/2015) hingga Kamis (7/5/2015).

    Mengacu pada Permendikbud No.5 Tahun 2015 dan peraturan BSNP No. 0031/P/BSNP/III/2015, untuk tahun ini nilai UN bukan lagi penentu kelulusan dan dapat diulang lewat ujian perbaikan pada tahun berikutnya. Bahkan mulai tahun depan (2016), kelulusan siswa sepenuhnya ditentukan oleh sekolah dengan mempertimbangkan capaian siswa pada seluruh mata pelajaran, keterampilan, maupun sikap dan perilaku siswa selama duduk di bangku sekolah. Selain itu, nantinya, UN juga dapat ditempuh beberapa kali dan wajib diambil minimal satu kali oleh siswa.

    Beragam perbaikan tentang UN ini patut diapresiasi, sebab selama ini UN selalu menjadi perdebatan. Kemudian pihak Kemendikbud juga melakukan berbagai revisi di antaranya peningkatan mutu soal yang membawa siswa berpikir mendalam deep learning melalui soal-soal kontekstual, yang disertai survei dan kuisioner untuk mengidentifikasi faktor yang berpengaruh pada keberhasilan siswa. Dan bentuk Sertifikat Hasil Ujian Nasional (SHUN) lebih lengkap dalam mengambarkan capaian kompetensi siswa.

    Babak baru UN
    Lalu, inilah momentum untuk memasuki babak baru UN dalam dunia pendidikan dengan menerapkan sistem yang tak lagi bersifat penyeragaman dan sekaligus mengaplikasikan kemajuan teknologi dan informasi (TI). Pelaksanaan UN Online untuk 585 ini merupakan sebuah perubahan besar sistem UN yang selama ini dilakukan secara manual. Yaitu dengan 20 variasi soal yang dicetak pada kertas, kemudian siswa menjawab menggunakan Lembar Jawab Komputer (LJK). Selanjutnya LJK tersebut akan melewati alur pemeriksaan yang panjang, sehingga hasil UN baru bisa diketahui setelah menunggu dalam waktu yang tidak sebentar.

    Konversi sistem manual menuju sistem yang terkomputerisasi ini tentu saja akan membutuhkan banyak biaya dan waktu. Wajar jika penerapannya baru bisa dilaksanakan dan direkomendasikan untuk beberapa sekolah yang telah siap secara infrastruktur. Karena diperlukan sebuah perencanaan yang matang, perhitungan yang tepat serta kemananan sistem yang handal untuk perubahan ini.

    Keberanian kemendikbud menerapakan TI dalam UN ini merupakan sebuah terobosan untuk sebuah kemajuan pendidikan. Pembaruan model UN menandakan pemerintah menyelaraskan pendidikan dengan tuntutan zaman dan diberlakukan proporsional, kontekstual sesuai dengan kemajuan daerah. UN CBT diharapkan mengubah kebijakan yang lebih luas dalam penyediaan fasilitas sekolah di masa mendatang. Dan daerah-daerah yang saat ini belum siap CBT, ikut terangsang dan mau berpacu dan melengkapi infrastruktur TI.

    Pun yang patut diperhatikan dalam UN CBT, jagan sampai menjadikan siswa sebagai korban. Sebab tidak tertutup berbagai kemungkinan terjadinya berbagai kendala yang berakibat langsung pada siswa. UN online sangat dibatasi oleh waktu dan tergantung pada akses jaringan. Kemudian yang harus menjadi perhatian juga dalam perubahan sistem UN ini adalah para stakeholders yang terlibat di dalamnya, terutama guru dan siswa.

    Adanya perubahan dari sistem lama ke sistem baru guru dan siswa dihadapkan pada suatu transisi yang membutuhkan penyesuaian dan kesiapan baik secara teknis, psikologis dan kultural. Dalam hal teknis, kesiapan sekolah dalam menyediakan semua fasilitas untuk siswa khususnya perangkat keras, perangkat jaringan dan juga koneksi internet yang handal serta ketersediaan listrik. Sementara kesiapan software berikut kehandalan serta jaminan keamanan dari serangan virus maupun hacker juga harus menjadi pertimbangan berikutnya. Jangan sampai kebocoran soal serta kevalidan yang digembor-gemborkan pada UN online menjadi sia-sia gara-gara kegagalan pada sistem keamanannya.

    Menguasai TIK
    Secara psikologis berkaitan dengan mental guru. Guru sebagai tenaga pengawas ataupun sebagai operator dituntut untuk mahir serta menguasai teknologi informasi komputer (TIK). Sebab jika pengawasnya sendiri tidak mahir, ketika siswa yang sedang mengalami kendala dalam mengakses soal, pengawas dapat memberikan jalan keluar atau solusi yang tepat. Beragam pengalaman dalam pelaksanaan ujian online sebelumnya bisa dijadikan sebagai pengalaman. Sebut saja misalnya Ujian Kompetensi Guru (UKG) beberapa tahun lalu yang banyak kendala. Akibat lemahnya antisipasi, kejadian seperti itu tidak boleh terulang dalam UN online kali ini.

    Lalu secara kultural, UN online memang sesuai dengan kebiasaan (habit) dan karakter siswa saat ini. Mereka lahir rata-rata 1980 ke atas yang merupakan digital native, Marc Prensky (2001) menenkankan bahwa ciri digital native satu diantaranya kesehariannya selalu bersinggungan dengan internet dan beragam TI dalam berinteraksi. Oleh sebab itu sudah semestinya sekolah dan guru juga menyesuaikan dengan karakter siswa. Tak perlu berpandangan negatif pada penerapan TI. TI bukanlah musuh (enemy). Sudah selayaknya pula kultur sekolah menyesuaikan dengan tuntutan dan karakter siswa. Oleh sebab itu, UN online memang sebuah keniscayaan untuk masa depan. Seperti direncanakan kemendikbud pada tahun ajaran 2019/2020 semua sekolah dapat melaksanakan UN secara online.

    Akhir kata, hasil UN baik manual maupun CBT selayaknya dijadikan sebagai alat deteksi kesenjangan pendidikan antar provinsi atau daerah dan sebagai pertimbangan siswa untuk masuk seleksi ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi sehingga sepatutnya hasil UN memberi informasi detail dan menyeluruh atas capaian kompetensi siswa. Dengan demikian, para guru dan pengajar diharapkan terdorong terus melakukan penguasaan dan peningkatan kompetensi diri agar siswanya termotivasi untuk belajar sungguh-sungguh dan menyukai proses belajar. Dan harapannya UN tidak akan menjadi momok yang menakutkan lagi bagi siswa, guru, dan orang tua. Semoga!

    * Arbai, Guru SMPN 1 Kluet Timur, Aceh Selatan. Alumnus MM Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Email: bai_arbai@yahoo.com

    Ferry Mursyidan Baldan – Tokoh Muda yang Menjabat Menteri Agraria

    Ferry Mursyidan Baldan – Tokoh Muda yang Menjabat Menteri Agraria

    Ferry Mursyidan Baldan
    Ferry Mursyidan Baldan, adalah salah satu nama Menteri yang ikut dalam jajaran kabinet kerja Jokowi dan Jusuf Kalla. Seperti yang lainnya, Ferry juga dilantik oleh mantan Gubenur Jakarta, Joko Widodo pada tanggal 26 Oktober 2014 lalu. Saat ini beliau menjabat sebagai Menteri Agraria dan Tata Ruang / Kepala Badan Pertahanan Nasional ke-1. Pastinya banyak dari kita yang ingin tahu siapa Ferry Mursidan bukan? Oleh karena itu, simak informasi tentang Biografi Ferry Mursyidan Baldan berikut ini.Biografi Ferry Mursyidan Baldan akan dimulai dari mengenal siapa sosok Menteri Agraria dan Tata Ruang tersebut. Ferry Mursyidan , lahir di Jakarta pada 16 Juni 1961, anak kedua dari empat bersaudara, putra pasangan Bapak Baldan Nyak Oepin Arif dan Ibu Syarifah Fatimah yang berasal dari Aceh Barat Daya. Ferry memiliki seorang istri yang bernama Hanifah Husein. Sebelum Jokowi mengangkatnya sebagai seorang Menteri di jajaran kabinet kerjanya, Ferry adalah seorang yang berprofesi sebagai seorang CEO PT. Telkom Indonesia.

    Untuk mengenal lebih dekat seorang Menteri Agraria, tentang jatidirinya, tentu pelu mempelajari riwayat pendidikan, pengalamannya dalam organisasi sosial dan politik serta karir politiknya. Biografi Ferry Mursyidan Baldan selanjutnya riwayat pendidikan dari seorang Ferry Mursyidan yang memulai pendidikan dari SD Slipi Jakarta. Kemudian, melanjutkan studi ke SMP Al-Azhar Jakarta. Setelah lulus SMP pada tahun 1976, Ferry melanjutkan sekolah ke SMA Negeri IX Jakarta (belakangan berubah menjadi SMA Negeri 70). Kemudian melanjutkan kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Padjajaran (UNPAD), Bandung.

    Selain itu, pengalaman organisasi dan politik seorang Ferry Mursyidan yang semasa kecil bercita-cita menjadi pilot itu cukup banyak. Sejak mahasiswa sudah tercatat sebagai aktivis. Giat di organisasi intra kampus. Ferry juga aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Menjadi peneliti di Lembaga Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES). Ferry sudah aktif di parlemen sejak 1992, sebagai utusan Golongan MPR RI (1992-1997). Ferry juga pernah menjadi Wakil Ketua Komisi II DPR RI dari Fraksi Partai Golkar. Menjadi Ketua atau Wakil Panitia Khusus (Pansus) RUU Otonomi Daerah Aceh dan Provinsi Papua. Menjadi Wakil Ketua Pansus RUU pemilihan umum dan pemilihan presiden (2003), menjadi Ketua Pansus RUU Penmerintahan Aceh (2006). Ketua Ikatan Alumni UNPAD periode 2008-2012. Ferry pernah menjabat sebagai Ketua Departemen Pemuda di DPP Partai Golongan Karya dan terakhir sebagai Ketua Bidang Organisasi dan Keanggotaan DPP Partai Nasdem pada tahun 2010. Jadi tak heran, jika Bapak Joko Widodo (Jokowi) dan Bapak Jusuf Kala (JK) menjadikannya sebagai salah seorang Menteri di Kabinet Kerja.

       Pendidikan

    • 1973 : SD Slipi Jakarta
    • 1976 : SMP Al-Azhar Jakarta
    • 1980 : SMA Negeri XI Jakarta
    • 1988 : FISIP UNPAD Bandung

       Organisasi

    • 1984–1985 : Badan Perwakilan Mahasiswa Fisip UNPAD (Anggota)
    • 1985–1986 : Senat Mahasiswa Fisip UNPAD (Ketua Umum)
    • 1998–1990 : BADKO HMI Jawa Barat (Ketua Umum)
    • 1990–1992 : PB HMI (Ketua Umum)
    • 1992-2004 : DPP Partai Golkar (Ketua Departemen Pemuda)
    • 1998–2003 : DPP AMPI (Sekretaris Jendral)
    • 2010 : Ketua Bidang Organisasi dan Keanggotaan Nasional Demokrat (Nasdem)

       Karir

    • Peneliti Lapangan Wilayah Jawa Barat–LP3ES 1989
    • Anggota MPR – RI (Utusan Golongan) 1992-1997
    • Anggota DPR-RI Komisi II (1997-2009)
    • Anggota DPR-RI Komisi II (2009-2004)
    • Menteri Agraria dan Tata Ruang Republik Indonesia 2014-sekarang
    Biografi Ferry Mursyidan Baldan menyuguhkan informasi tentang biodata diri, jenjang pendidikan dan jenjang karir seorang Menteri Agraria dan Tata Ruang. Semoga informasi tentang Ferry Mursyidan Baldan di atas dapat bermanfaat bagi para pembaca profilpedia.com serta dapat mengenal lebih dalam sosok Ferry Mursyidan Baldan.
    Lestarikan Budaya, RRI Meulaboh Gelar Seni Budaya Aceh

    Lestarikan Budaya, RRI Meulaboh Gelar Seni Budaya Aceh

     Tari-Saman

    Meulaboh,BN-Guna melestarikan budaya Aceh, terutama budaya yang berasal dari pantai Barat Aceh, Radio Republik Indonesia ( RRI ) Meulaboh, gelar kegiatan seni dan budaya Aceh,sabtu (24/11)di Gampong Pasi Jambu Kecamatan Kaway XVI.

    Kegiatan yang gelar, di halaman stasiun RRI Meulaboh tersebut, menampilkan beragam tarian Aceh, yakni tari Rapa*i saman, Rapa,i geleng, Ratep meusekat, Rapa?i debus, Seudati, dan tari kreasi Aceh bertema ,mumang, dan ,Hom,, tari pho, Pementasan komedi Aceh dan hikayat Aceh.

    Kepala RRI LPP Meulaboh, Ahmad Bahari, kepada wartawan mengatakan, kegiatan yang dilakukan RRI tersebut, merupakan program salah satu program kegiatan RRI, sesuai dengan Visi dan Misi RRI, dimana salah satu tugas dari RRI merupakan mengembangkan dan menjadikan seni dan budaya bangsa sebagai perekat kehidupan berbangsa."Kalau kita di Aceh adalah tari- tari serta kebudayaan yang berciri khas Aceh," kata dia.

    Selain itu Ahmad Bahari menambahkan, selama 4 Tahun kehadiran LPP RRI meulaboh, kegiatan ini merupakan kegiatan yang ke dua kalinya dilakukan, dan kegiatan tersebut kata dia akan rutin dilakukan setiap tahunnya.

    Ahmad, menilai sejak beberapa tahun terakhir, seni budaya Aceh di Aceh Barat, sudah tak lagi menggema, pelaksanaan budaya Aceh, terutama tari- tarian Aceh sudah kurang diminati dan digelar oleh masyarakat yang ada di Aceh."Jika ini di biarkan maka dikwatirkan kedepan apa yang menjadi warisan nenek monyang masyarakat Aceh bisa punah, seiring dengan terjadinya pergeseran budaya Aceh," katanya.

    Wakil Bupati Aceh Barat, H.Rahmat Fitri, HD, saat mengahadiri kegiatan tersebut, kepada wartawan mengatakan, seni budaya merupakan salah satu obyek wisata yang harus terus dikembangkan dan dilestarikan.

    Menurutnya, saat ini kondisi adat dan budaya Aceh seperti tari- tarian, terutama di Aceh Barat, sangat memprihatinkan, padahal katanya, dulu adat dan budaya Aceh, merupakan alat komunikasi yang digunakan dalam syi,ar islam, dan lainnya.

    Nanda menambahkan dulu Aceh Barat, sangat terkenal dengan jenis tari- tarian seperti rapa,i saman, rateb meusekat, Seudati, rapa,i geleng pernah menghantarkan Aceh Barat kepentas internasional, namun kini kian- hari kian meredup,terutama beberapa decade terakhir.

    Melihat kondisi ini dia bersama Bupati Aceh Barat, H.T.Alaidinsyah, sesuai dengan visi, dan misi yang diemban, salah satunya dalam melestarikan budaya Aceh, akan bekerja semaksimal mungkin guna menghidupkan kembali, budaya Aceh, terutama khas Aceh Barat.(@rul)

    sumber : http://bongkarnews.com/v1/view.php?newsid=3890

    Es Boh Timon Gapu

    Es Boh Timon Gapu

    timun-suri

    MINUMAN yang manis adalah menu yang disarankan untuk dikonsumsi saat berbuka puasa. Minuman manis ini dibutuhkan untuk mengembalikan energi yang hilang setelah 12 jam lebih berpuasa. Salah satu minuman manis yang paling digemari saat berbuka yakni yang berhawa dingin. Bahakn bakunya bisa dikreasikan sesuai dengan selera. Paling sering ditemukan di beberapa acara buka puasa yakni es timur keruk dan es timun suri. Khusus es timun suri, banyak dipilih lantaran isinya telah mengandung hawa dingin sebelum ditambahkan es. Konon lagi bila dibubuhkan juga es batu dalam ramuan minuman ini, hmm... rasa dinginnya mengalir ke tenggorokan. Daging timun yang seperti sagu dicampur sirup manis dan es, sangatlah menyegarkan. Pada Serambi Kuliner edisi Sabtu ini, Azwani Awi menyajikan minuman yang dapat membantu Anda membuat olahan untuk menu berbuka puasa.(*)

    Nikmati Kesegaran Saat Berbuka
    TIMUN suri merupakan salah satu buah yang banyak muncul saat Bulan Ramadhan. Di Aceh, timun suri lebih dikenal dengan nama boh timon gapu. Artinya, buah timun kapur. Nama tersebut ditabalkan lantaran daging buah dimaksud mirip kapur dan tekstur daging buah yang lembut.

    Sebagian ada yang menyebut boh timon wah. Nama ini dilabeli lantaran timun suri yang telah terlalu matang di pohon telah terbuka isinya, hingga berbentuk menganga. Itulah makanya disebut timon wah atau timun terbuka menganga.

    Di bulan Ramadhan, timun suri sudah menjadi ciri khas tersendiri. Timon gapu ini memang menjadi andalan selain kurma dan buah lainnya.

    Setelah puasa seharian, rasanya ketika berbuka ingin sekali menikmati minuman dingin untuk menghilangkan dahaga. Dari beragam menu minuman es yang ditawarkan, rasanya kurang lengkap bila berbuka puasa tidak ditemani oleh es buah yang satu ini.

    Timun yang dikemas dalam pelepah pisang memang terbilang buah yang lunak. Selain rasanya yang segar juga sangat pas untuk minuman saat berbuka. Apalagi jika ditambahkan sedikit es tentu sangat terasa di tenggorokan.

    Jika memakannya secara langsung, Anda akan disuguhkan sensasi memakan rasa tawar namun tetap segar. Apabila diramu dengan beberapa campuran bahan lainnya, rasanya akan sangat nikmat. Selain itu, terasa dingin di tenggorokan.

    Salah satu menu yang sering disajikan sajian berbahan baku timun suri ini adalah minuman segar. Bisa dicampur dengan air kelapa atau santan. Bahkan, ada juga menambah gula putih. Akan tetapi, salah satu cara paling praktis yang sering ditemukan di rumah-rumah warga di Aceh, dengan mencampuri sirup manis plus es. Rasanya, hmmm... sangat nikmat dan dingin di dalam tubuh.

    Selama Ramadhan, bahan bakunya mudah ditemukan di pinggir jalan dan pasar tradisional. Harganya pun sangat terjangkau, sekitar Rp 5 ribu hingga Rp 15 ribu per buah--tergantung ukuran.

    Ya, es buah timun suri yang satu ini, selain rasanya segar dan lezat, juga cara membuatnya yang terhitung mudah. Anda juga bisa mengolaborasikan menu boh timon gapu dengan resep lainnya untuk sajian buka puasa di rumah. Mau coba?? (*)

    RESEP
    Bahan
    - Timun suri 250 gr yang sudah dikeruk dagingnya.
    - Air kelapa muda 1 buah dan isinya.
    - Agar-agar jelly rasa buah 200 gr yang dipotong dadu.
    - Sirup, rasa coco pandan atau sesuai selera secukupnya.
    - Air putih matang 1 liter.
    - Es batu secukupnya.

    Cara Membuat
    - Siapkan satu baskom atau tempat penyajian.
    - Masukkan potongan timun suri.
    - Tambahkan kelapa muda dan isinya.
    - Masukkan agar-agar jelly.
    - Tuang tiga sirup secukupnya.
    - Aduk hingga rata.
    - Tambahkan es batu.
    - Es timun suri siap disajikan.

    sumber : http://aceh.tribunnews.com/2014/07/26/es-boh-timon-gapu?page=1