Category : Opini

Sepotong Kisah, Sekilas Renungan…

Sepotong Kisah, Sekilas Renungan…

Di suatu sudut Jakarta menjelang malam. Mentari baru saja kembali ke peraduannya di ufuk barat. Cahaya merah masih membentang di kaki langit. Suhu udara di awal musim kemarau ini masih terasa gerah. Hiruk pikuk lalu lintas kendaraan di jalan-jalan, seperti mengejar waktu. Sayup-sayup terdengar suara azan dari masjid di ujung sebuah jalan kecil di seberang jalan raya. Pertanda waktunya berbuka puasa.

Seorang ibu setengah baya mengendarai kendaraan di jalan raya yang padat. Ingin cepat-cepat pulang, dengan harapan dapat berbuka puasa bersama keluarga di rumah. Namun tiba-tiba timbul rasa nyeri sehingga dia menepikan kendaraannya. Berhenti sejenak...

Sambil menunggu rasa nyeri berkurang, berusaha mengalihkan pikirannya...menyapu pandangan sekeliling. Tiba-tiba ada seorang anak lelaki yang mengetuk-ngetuk kaca mobilnya. Agak kaget, namun berusaha tetap tenang.

“Bu.., Ibu mau parkir? Mari saya bantuin untuk parkir, ya.” Terdengar suara dari celah kaca mobilnya.

“Belum sekarang, saya mau istirahat sebentar,” jawab si ibu.
“Kalau begitu, apa Ibu punya uang 2.000?” tanya anak itu lagi.

Karena merasa sedang tidak mau diganggu, si ibu buru-buru menyerahkan uang receh yang ada di laci mobinya. Dalam pikirannya, anak ini mungkin cuma mau minta-minta. Sebuah pemandangan yang lumrah dan sering dijumpai di jalan-jalan di ibukota Jakarta.

Tadinya ingin beranjak pergi, karena merasa sudah agak lega. Namun hatinya tergerak untuk mengamati anak yang minta uang tadi. Rupanya dia mendekati tukang gorengan di ujung jalan sana, lalu membeli gorengan dari uang yang didapatkan. Kemudian gorengan itu dia berikan pada sesosok tua yang duduk di bawah tiang listrik di pingir jalan.

Ketika anak itu melewati lagi di samping kendaraannya, si ibu membuka kaca dan memanggilnya. “Eh..., adik... ke sini. Bapak tua itu siapa ?” tanya ibu penasaran.

“Gak tau, bu.Saya juga baru saja ketemu,” jawabnya polos.
“Lho...,tadi kamu minta uang ke saya lalu membeli gorengan. Kenapa dikasih ke bapak itu?”

“Oh... Saya tadi duduk di situ, ngobrol sama Bapak itu. Katanya puasa … Tadi saya lihat Bapak itu, hanya ada air putih untuk berbuka. Katanya uangnya habis,” anak itu menjelaskan.

“Kasihan...,”kata anak itu melanjutkan. “Saya mau beli sesuatu, tapi di kantong saya hanya ada 1.000. Hari ini saya nggak jualan koran...Tanggal merah bu... Jadi ngak punya uang. Dengan 1.000, paling dapat gorengan sepotong. Makanya saya minta ibu Rp 2.000, biar dapat 3 potong”, ungkapnya. Apa sekarang Ibu mau parkir? Saya bantuin parkir, ya bu, Ibu kan udah bayar tadi. Sebenarnya saya bukan tukang parkir,” katanya tertawa kecil sambil menggaruk-garuk pipinya.

Ibu itu terdiam.... Dari tadi terpikir, anak ini pengemis seperti anak-anak yang biasa mangkal di jalan. Ternyata dugaannya salah besar. “Terus, uang kamu habis dong?” tanya si ibu.

“Iya bu. Nggak apa-apa”, katanya polos. “Besok bisa jualan koran, Insya Allah dapat rezeki lagi,” ujarnya penuh harap.

“Kalau begitu, Ibu ganti yaa...uangnya, sekalian buat jajan," kata si ibu sambil meraih dompetnya.

“Nggak usah, Bu,jangan-jangan. Sebetulnya, Ibu saya melarang saya meminta-minta. Makanya tadi saya tawarin Ibu parkirin mobil. Soalnya..., saya kasihan sama bapak tua itu. Cuma saya benar-benar nggak punya uang,” cerocosnya lagi.

“Eh..., Ibu minta maaf yaa..., tadi ibu salah duga, karena mengira adik ini tukang minta-minta,” kata si ibu, merasa bersalah.

“Saya yang minta maaf, Bu. Saya yang minta uang duluan sama Ibu.. Padahal saya belum kerja.”

"Sama-samalah. Ini ambil uangnya. Ini kamu nggak minta, tapi Ibu yang berikan," kata si ibu.

"Nggak, Bu... Makasih. Ibu mau parkir sekarang?” tanya anak itu lagi.

“Nggak dik, Ibu nggak usah dibantu parkir," jawab si ibu.
“Beneran, ya, Bu? Soalnya saya mau jemput adik saya ngaji dulu bu. Takut dia nangis kalau kelamaan, karena telat menjemputnya."

“Ya... sudah, sana jemput adiknya,” kata si ibu tersenyum.
“Makasih yaa, Bu,” katanya. Meninggalkan si ibu, masih di tempat.

Setelah anak itu pergi, si ibu menoleh ke tiang listrik di mana Bapak tua tadi duduk. Rupanya sudah pergi, mungkin pulang ke rumahnya. Akhirnya, si ibu starter kendaraan lalu melanjutkan perjalanan. Dari kaca spion mobil, sambil berjalan perlahan melihat anak itu berjalan setengah berlari...

-----

Sepotong kisah yang diceritakan oleh seorang teman dan diadopsi lagi untuk dipublikasi di media on line ini.

Realitas kehidupan.... Betapa banyak orang di sekeliling kita yang kurang beruntung, tapi masih memikirkan untuk sesama...

Sekilas renungan..., mungkin dapat menggugah kepekaan dan kepedulian kita. Bersedekah, tidak harus menunggu banyak uang! Ada ungkapan bahwa untuk mengisi pulsa hand phone, 10 ribu belum cukup, tapi untuk BERSEDEKAH, mengisi KOTAK AMAL 10 ribu terasa terlalu banyak...

Jika ibadah puasa mempunyai peran utama hablumminallah dan hablumminas, yaitu hubungan dengan Allah SWT, dengan melaksanakan kewajiban puasa untuk mencapai derajad taqwa dan hubungan sesama manusia. Lalu bagaimana dampak pelaksanaan ibadah puasa dapat memicu semangat dan meningkatkan kepedulian sosial. Adakah perhatian dan rasa empati kita terhadap masyarakat, saudara-saudara kita yang kehidupan mereka serba kekurangan, dalam lingkaran kemiskinan...?

Wallahu a'lam

Untuk menutup kisah di atas, selama bulan puasa Ramadhan ini mungkin ada baiknya kita senantiasa berdoa seperti terjemahan dari Hadits Riwayat Muslim berikut ini:

"Wahai Tuhanku, perbaikilah bagiku agamaku, yang menjadi Pemelihara bagi urusanku, dan perbaikilah bagiku duniaku yang di dalamnya terdapat kehidupanku, dan perbaikilah akhiratku yang kepadanyalah tempat kembaliku. Jadikanlah kehidupanku menjadi tambahan bagiku terhadap segala kebajikan dan jadikanlah kematian waktu beristirahat dari segala kejahatan". (HR. Muslim dari Abu Hurairah)

KEUTAMAAN PUASA DAN BULAN RAMADHAN

KEUTAMAAN PUASA DAN BULAN RAMADHAN

Oleh Muzakkir Bayeun

Keutamaan Orang Berpuasa
Adapun keutamaan orang-orang yang berpuasa di bulan Ramadhan yang menjalankan bulan puasa dengan ikhlas dan menjaga dari segala sesuatu yang membatalkan dan mengurangi nilai-nilai puasa dari perbuatan yang dilarang Allah SWT dan Rasulullah SAW. Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW dalam Hadist Qudsi:

Diriwayatkan dari Abu Huraira r.a. dia berkata: ”Rasulullah SAW pernah bersabda, Allah ‘Azza Wajalla telah berfirman, ”setiap amal manusia adalah baginya (bagi manusia sendiri) kecuali puasa, karena puasa sesungguhnya puasa adalah milik-Ku dan Akulah yang membalasnya. Puasa adalah prisai (dari api neraka) apabila seseorang berpuasa, maka janganlah berkata keji, janganlah bersetubuh, dan janganlah menghina. Jika ia dicaci dan diajak bertengkar (dimusuhi), hendaklah ia berkata saya adalah orang yang berpuasa. Demi Allah yang menguasai diri Muhammad! Sungguh bau mulut orang yang berpuasa itu di sisi Allah kelak pada hari Kiamat lebih harum daripada bau minyak wangi (kesturi). Orang yang berpuasa mendapat 2 kesenangan: ketika berbuka dia merasa senang, dan ketika bertemu Rabbinya dia merasa senang, karena pahala puasanya" (H.R.Bukhari dan Muslim)

Penjelasan hadits di atas dapat kita ambil beberapa penjelasan sebagai berikut:
a. Pencegahan diri kita dari api neraka, yaitu apabila kita berpuasa insya Allah kita dapat terhindar dari api neraka.

b. Tidak berkata keji, karena orang yang berpuasa dilarang berkata keji yang akibatnya mengurangi nilai-nilai puasa bahkan bisa jadi tidak mendapat pahala puasanya, kecuali hanya haus dan lapar saja.

c. Tidak bersetubuh di sianghari, karena membatalkan puasa dan bila melakukan tersebut maka ia akan berdosa dan negaranya berpuasa berturut-turut 2 bulan dan jika tidak mampu, memberikan makan 1 orang miskin selama 1 bulan penuh makan sahur dan berbuka.

d. Jangan menghina, karena menghina orang lain adalah dilarang dalam Islam dan akan merusak amal puasa kita dan hinaan itu dikembalikan oleh Allah SWT kepada orang yang menghina itu sebagai balasan dosa pada diri kita sendiri (senjata makan tuan).

e. Janganlah mencaci dan bertengkar, karena orang yang mencaci maki dan bertengkar akan menghapuskan pahala seseorang.

f. Bau mulut orang berpuasa di sisi Allah ‘Azza Wajalla kelak pada hari kiamat lebih harum dari pada minyak wangi (kesturi).

g. Mendapat kesenangan ketika berbuka puasa dan ketika bertemu Rabbinya dalam sholat karena pahala puasanya.

Keutamaan Bulan Ramadhan
Adapun keutamaan bulan Ramadhan Rasulullah SAW menjelaskan dalam hadist:
Diriwayatkan dari Abu Huraira bahwasanya Rasulullah SAW pernah bersabda: “Apabila bulan Ramadhan tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan diikat, dibelenggu (H.R. Muslim).”

Penjelasan hadist tersebut di atas dapt diambil keutamaannya sebagai berikut:
1. Pintu-pintu Surga dibuka, maknanya orang berpuasa akan mendapat rahmat Allah dan pahala yang berlipat ganda.

2. Pintu-pintu Neraka di tutup, maknanya orang yang berpuasa akan mendapat ampunan Allah dan terbebaskan dari api neraka.

3. Dan setan-setan diikat, maknanya manusia akan terhindar dari godaan setan.

Dengan demikian kita sebagai orang-orang beriman hendaklah menjaga nilai-nilai keutamaan puasa semoga Allah SWT senantiasa memberikan Rahmat, Barokah, ampunanNya dan kebebasan diri kita dari api neraka, maka Allah SWT meridhai amalan ibadah sholat dan puasa kita di bulan Ramadhan ini dengan nilai yang terbaik di sisi Allah SWT.

Haji dan Kapitalisasi Habitus Keberagamaan

Haji dan Kapitalisasi Habitus Keberagamaan

Oleh: ZULY QODIR/Sosiolog dan Peneliti Senior Maarif Institut

”TIDAK ada lagi alasan bagi Kementerian Agama untuk menyelewengkan kuota haji karena Sistem Komputerisasi Haji Terpadu memiliki data terpadu berdasarkan teknologi informasi”. (Busyro Muqoddas, ”Kompas”, 26/7/2014)
Selama ini para pejabat negara tanpa harus antre dapat berangkat ke Tanah Suci. Sementara, di sisi lain, ribuan anggota jemaah calon haji harus rela antre selama bertahun-tahun untuk menjalankan ibadah yang memerlukan biaya dan tenaga besar itu.

Ini sungguh sebuah fenomena keagamaan yang sarat kekuasaan dan kapital, yang di negeri Muslim terbesar di dunia ini dapat dikatakan senantiasa bermasalah. Inilah komodifikasi dan komersialisasi keberagamaan yang terus berlangsung di Indonesia setiap musim haji tiba.

Terhitung sejak 1 September 2014, jemaah calon haji Indonesia diberangkatkan dari sejumlah embarkasi, seperti Tangerang, Surabaya, dan Bandung. Terdapat beberapa hal yang harus dilakukan jemaah calon haji, seperti periksa kesehatan terakhir, periksa kehamilan, dan kelengkapan bekal perjalanan haji.

Jika tidak lolos, ada kemungkinan mengalami penundaan keberangkatan. Inilah liku-liku jemaah haji Indonesia yang hendak menghadap Tuhannya. Agak berbeda dengan jemaah para pejabat birokrasi Indonesia, yang sering mendapatkan banyak kemudahan fasilitas.

Komodifikasi religiositas
Persoalan komodifikasi dan komersialisasi sering kali dekat, bahkan identik, dengan yang kita kenal ”pertarungan identitas kelas sosial”. Oleh karena itu, semua artikulasi perilaku keagamaan sebenarnya akan dapat dibaca dalam perspektif ”pertarungan identitas kelas” sosial dalam masyarakat kaum beragama. Hal yang juga menarik adalah persoalan komoditas yang mengarah pada masalah kekuatan ekonomi sebagai kapital dalam melakukan kapitalisasi beragamaan (prayer and economic power) seperti dikatakan Birgit Meyer (2004).

Kajian tentang pertarungan identitas kelas sosial telah demikian banyak dilakukan para sosiolog agama dan antropolog sosial, semacam Gayatri Spivak (2010) ataupun Arjun Apadurrai (2004). Bahwa, menurut mereka, sesungguhnya telah terjadi pertarungan kelas sosial terpinggirkan dan kelas sosial menengah yang jauh lebih mapan secara ekonomi, kekuasaan, dan kultural. Hal itu karena kelas-kelas sosial ini memiliki bekal-bekal yang memadai dalam menguasai wilayah yang dipertarungkan sebagai ranah publik.

Bahkan, dalam perkembangannya, yang kita kenal sebagai ranah publik atau ranah sosial sejatinya memang tidak pernah sepi dari pertarungan. Baik oleh kelompok keagamaan, kelompok etnis, kelompok aktivis jender, aktivis lingkungan, maupun kelompok kepentingan politik. Semua bertarung ”memperebutkan ruang publik sosial” untuk ditaklukkan menjadi bagian dari gagasan besar yang tengah diusung sekalipun harus melawan banyak tradisi yang telah mapan dalam masyarakat. Semua bertujuan saling menundukkan dengan strategi-strategi yang dikemas dalam bermacam aktivitas gerakan untuk memengaruhinya (Habermas, 2002).

Pertarungan tersebut menunjuk pada adanya pertarungan kelas dan identitas sebagai bagian dari globalisasi. Pertarungan identitas dan kelas merupakan salah satu problem globalisasi, dinyatakan oleh sebagian sosiolog agama, termasuk Jeremy Stolow (2010). Dikatakan bahwa globalisasi dunia lewat media yang demikian masif akan membawa masyarakat pada dunia yang ”sekuler” sehingga akan terjadi pertarungan gagasan ideal normatif keagamaan berhadapan dengan gagasan kontekstualisasi keagamaan yang menjadi bagian dari kehidupan.

Akan tetapi, suatu hal yang juga harus diingat adalah kehadiran ”dunia sekuler” akan melahirkan yang dinamakan profesionalisasi dalam hal pemerintahan, politik, pekerjaan, kedisiplinan, serta hal-hal yang bersifat teknis yang lain menjadi berkembang. Semua itu memberikan gambaran bahwa sumber daya nalar manusia selalu mengimajinasikan hal yang baru (Stolow, 2010).

Religiositas habitus
Perkembangan media telekomunikasi, seperti internet, Twitter, dan Facebook, juga turut memberikan warna atas pertumbuhan Islam Indonesia yang semakin variatif. Kemunculan Islam selebritas, misalnya, merupakan bagian tak terpisahkan dari kehadiran ber-Islam sebagai fashion, bukan sekadar beragama secara saleh, melainkan beragama sekaligus fashionable atas perkembangan dunia modeling yang sekarang tidak tertolakkan kehadirannya.

Saat ini banyak muslimah berusaha dapat tampil secara maksimal sesuai dengan fashion yang sedang berkembang (sedang populer), tetapi sekaligus hadir sebagai seorang muslimah yang ”tampak saleh” dalam berpakaian, berkerudung, berjilbab, dan berkendaraan. Inilah suatu model Islam fashionable yang sedang ditawarkan Muslim kelas menengah sebagai bagian dari Muslim gaya baru.

Kita dengan mudah mendapatkan berbagai macam agen biro perjalanan yang menawarkan ibadah haji dan umrah di kalangan kelas menengah Muslim perkotaan dan orang kaya baru yang hadir di tengah masyarakat.

Oleh karena itu, Muslim kelas menengah perkotaan—karena telah mapan secara keuangan, sebagian belum berkeluarga—pun beramai-ramai menjalankan ibadah umrah yang biayanya tidak kurang dari Rp 25 juta dengan tawaran beragam fasilitas yang menyenangkan. Sebutlah seperti hotel bintang empat, perjalanan yang menyenangkan ke lokasi-lokasi (bersejarah) di Timur Tengah dan Eropa, sekaligus mendapatkan bimbingan dari seorang pemimpin rombongan yang populer.
Semua itu bukan sekadar persoalan ibadah dan bermunajat kepada Tuhan. Lebih dari itu, dalam perspektif sosiologi kontemporer dan sosiologi kritis adalah bagian dari ”pembentukan citra identitas” diri yang berlatar belakang sosial keagamaan.

Ibadah haji dan umrah yang sekarang demikian ramainya di Indonesia, jika diperiksa dalam perspektif sosiologi kritis, adalah bagian tak terpisahkan korelasi religiositas sebagai bagian dari ekspresi keimanan (faith expression) dan lembaga keimanan (faith institution) dengan ekonomi pasar yang selalu dekat dengan pengamalan keagamaan yang tidak dapat dilepaskan dari tradisi-tradisi keagamaan yang bersifat privat.

Jika sudah berhubungan dengan ekonomi pasar, pengalaman dan perjalanan keagamaan sesungguhnya telah hadir sebagai keagamaan yang bersifat publik yang rawan dengan komodifikasi (Pattana Kitiarsa, 2010). Hal yang sama juga dikerjakan para pengikut agama, seperti juga penganut Islam, secara tidak sadar ataupun secara sadar sebenarnya telah menjalankan yang disebut religious habitus yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari keimanan yang dimilikinya (A Mellor, 2010).
Perlu direspons

Fenomena lain yang sangat dekat dengan kita adalah kehadiran kelompok-kelompok jemaah pengajian ”para artis” dan ”ustaz selebritas” yang dikepung dengan iklan berbagai produk kecantikan dan kesehatan masyarakat. Beragam tawaran iklan produk kecantikan perempuan serta media kesehatan masyarakat ditawarkan di sela-sela pengajian yang dipandu artis atau aktor.

Seorang aktris atau aktor sekaligus pemakai produk fashion tertentu, yang selalu ditayangkan di awal acara pengajian, menjadi tontonan yang sering kali lebih disukai pemirsa ketimbang mengikuti pengajian-pengajian klasikal. Entah itu diselenggarakan Muhammadiyah atau Nahdlatul Ulama ataupun jemaah pengajian lain yang bersifat klasikal. Meski jemaah yang datang berjubel, daya pikatnya akan berbeda ketika dihadiri seorang aktor atau aktris sebagai pembawa acara atau pemberi materi pengajian.

Oleh karena itu, kondisi globalisasi yang menghadirkan banyak situasi perlu mendapatkan respons dari kalangan umat Islam. Baik dari kalangan akademisi, aktivis sosial, aktivis lembaga keagamaan (termasuk Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama), pengambil kebijakan, aktivis lingkungan, pemilik media, organisasi perdagangan, bahkan aktivis gerakan sosial untuk mendefinisikan kembali berbagai aktivitas, kategori, dan posisi sehingga sesuai. Hal itu karena identifikasi model konservatif telah kehilangan daya sentuhnya terhadap masyarakat kontemporer (Tsing, 2004).

Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000008642659

Unsur Magis dalam Tradisi Lisan Aceh

Unsur Magis dalam Tradisi Lisan Aceh

Oleh Sudirman, PNS pada Balai Pelestarian Nilai Budaya Aceh-Sumut

ISLAM dalam masyarakat Aceh tidak hanya sebatas ajaran agama, melainkan telah membentuk suatu kultur yang tercermin pada setiap aspek kehidupan.

Penyesuaian diri budaya lama dengan ajaran Islam terlihat dalam berbagai upacara adat. Petani, misalnya, dalam kegiatan bersawah selalu diikuti oleh beberapa rangkaian upacara. Sawah dan padi dianggap seperti manusia, mempunyai nyawa dan daya kekuatan. Untuk itu, perlu diadakan upacara supaya jauh dari pengaruh roh jahat.

Dalam pelaksanaannya, upacara tidak terasa lagi sifat animismenya, sebab mantra yang dibacakan sudah dilakukan penyesuaian dengan nilai Islam. Misalnya, ketika membaca mantra dimulai dengan membaca basmalah.

Mantra mengenal ketentuan-ketentuan bunyi tertentu dengan pemakaian kata-kata tertentu pula supaya dapat mendatangkan kekuatan gaib. Dalam berbagai upacara, mantra diucapkan dengan suara yang terang, sebab suara dapat berfungsi untuk mendatangkan kekuatan gaib, yaitu menggemanya persamaan-persamaan bunyi yang magis. Oleh karena itu, bentuk puisi mantra tidak berubah dalam struktur ikatannya, sedangkan unsur Islam hanya sebagai tambahan.

Jenis mantra yang sudah dipengaruhi oleh unsur Islam, misalnya, mantra untuk menjampi anak-anak yang sakit perut. Mantra dimulai dengan membaca surat Al-fatihah, surat Al-ikhlas, dan salawat kepada Nabi, dilanjutkan dengan membaca mantra. Misalnya: hong dat-dat/ na umu na ubat/ lhee boh klaih pliek-u/ lhee boh mu pisang klat/ on pineung tho/ on pineung mirah/ alfatihah kutawa bisa/
Ciri mantra pada penggunaan bunyi hong yang menimbulkan bunyi magis, sedangkan bunyi dat-dat ditambahkan untuk keperluan persanjakan.

Upacara magis sebelum Islam sudah jarang dijumpai. Namun, masih ada beberapa kesenian yang merujuk akarnya ke dalam tradisi pra Islam sebagai perkembangan lebih lanjut dari bentuk puisi mantra, misalnya pho, seudati, dan nasib.

Tari pho, pada mulanya digunakan pada acara kematian. Dalam beberapa hikayat yang merekam tentang pho, tidak lagi memberi kesan bahwa pho merupakan tarian magis, meskipun dimainkan pada upacara berkabung. Dalam hikayat Pocut Muhammad disebutkan bahwa pho masih merupakan upacara berkabung pada kematian: reuhab pi troih ka geupeu-eh/ gulheueb binteh ban silingka/ siteungoh ri ka jiba-e/ siteungoh pho leumpah dada/ ok di ule tugeureubang/ jilinggang ateueh keureunda//

Dalam Hikayat Nun Parisi disebutkan, pho sudah berubah menjadi tarian biasa dan cenderung bersifat hiburan. Misalnya: lam meuligo rakyat that le/ inong meupho mangat suara/ ateueh kulet jimeunari/ su sang bangsi buloh beungga/ badan leumoh sapai leunto/ jihayak pho han ngon peusa/ sajan langkah sigo linggang/ ayon subang blet-blot mata/ jihadi pho su that mangat/ le hikeumat ngon peugila/ dumna ureueng tahe gante/ lalo bak pho yub astana//

Ciri puisi dalam tarian pho sekarang masih tetap tampak, sedangkan sifat animisme sudah tidak tampak. Misalnya: deungo lon kisah po bungong panjo/ pahlawan nanggroe ulon calitra/ di Meulaboh Umar pahlawan/ di Bakongan Angkasah Muda/ sideh di Padang na Imam Bonjol/ Batak gon Karo Sisingamaharaja/ di Aceh na Teungku Cik Ditiro/ Diponegoro di tanoh Jawa/ syahid Angkasah tinggai Cut Ali/ prang beureuhi lebeh bak nyangka//

Berbeda dengan pho yang disebut dalam beberapa hikayat, seudati belum dijumpai penyebutannya dalam hikayat. Snouck Hurgronje mengatakan bahwa sebutan seudati berasal dari kata Arab, sadati, berarti abang-abangku. Karena penyanyi (aneuk dik) nya selalu memanggil lem, cut lem atau dalem (semuanya berarti abang) untuk penari seudati.

Snouck Hurgronje juga menyebutkan bahwa kesenian seudati berasal dari rateb.
Keterangan Snouck Hurgronje berbeda dengan kenyataan tarian seudati yang dikenal sekarang. Rateb sadati sama dengan rateb dong (rateb dalam posisi berdiri) atau rateb saman (reteb dalam posisi duduk). Kedua model posisi rateb ini sampai sekarang masih dikenal dalam kesenian Aceh, meskipun nyanyian yang diucapkan tidak lagi berasal dari sumber puisi mistik.

Pemain seudati saling membalas sanjak, aneuk seudati mengucapkan larik-larik puisinya secara spontan, sesuai suasana pada saat pertunjukan. Misalnya: haba lam surat jino lon baca/ apa di lua neu-iem beu seungab/ saya harap pada adinda/ malam Seulasa tanonton siat/ malam Seunanyan hana got gamba/ malam Seulasa pilem hebat that/ pilem Meulayu tatupeue basa/ ngon aneuk muda keubit gagah that/ ka putoh pakat awaknyan dua/ kuedeh bak gamba ka jibeurangkat/ di lon malam nyan pi na lon teuka, ngon Syek Lah Geunta sigo beurangkat//

Dibandingkan pho dan seudati, nasib merupakan bentuk kesenian yang lebih muda. Nasib tidak mengenal alat musik dan tarian, tetapi dua orang penyair saling debat dan sindir, diucapkan dalam bentuk puisi yang diciptakan secara spontan.

Nasib berasal dari bahasa Arab yang berarti “puisi cinta”, dalam pandangan mistik sebagai ungkapan kerinduan pertemuan dengan yang Maha Pencipta. Menilik pada tradisi yang ada sebelum Islam, mengesankan nasib merupakan suatu bentuk sinkretisme.

Sebelum genre hikayat sebagai pengaruh budaya Islam, telah berkembang tradisi lisan dalam masyarakat Aceh. Pada mulanya merupakan bentuk puisi magis, kemudian berkembang menjadi penyajian yang bersifat profan, seperti terlihat pada perkembangan pho dan seudati.

Nasib merupakan bukti lanjutan hubungan masyarakat Aceh dengan tradisi lisan. Dari nasib berkembang bentuk-bentuk kesenian lain, seperti rateb dengan berbagai corak, rapa-i dabus, dan lain-lain yang menyajikan bentuk puisi yang diciptakan secara spontan.

* sumber: http://aceh.tribunnews.com/2014/08/24/unsur-magis-dalam-tradisi-lisan-aceh

Agama, Kekuatan Utama Menuju Sejahtera

Agama, Kekuatan Utama Menuju Sejahtera

SESUAI Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2012-2017, Bupati Jufri Hasanuddin dan Wakil Bupati Yusrizal Razali memiliki visi menjadikan “Kabupaten Aceh Barat Daya yang Islami, sejahtera, dan mandiri melalui pemberdayaan potensi daerah yang berbasis kearifan lokal.”

Visi islami diwujudkan melalui berbagai program keagamaan dan pelestarian nilai-nilai dasar Islam. Dukungan terhadap ulama pun menjadi komitmen Jufri. Tahun ini, 72 ulama diberangkatkan umroh secara gratis oleh Pemerintah Aceh Barat Daya.

Selain itu, Muzakarah Tauhid Tasawuf Asia Tenggara ke-3 juga difasilitasi dan diadakan di Blangpidie, Aceh Barat Daya. Seminar keagamaan berlevel internasional itu dibuka pada Jumat 6 Juni 2014, oleh Wali Nanggroe Malik Mahmud, diikuti sekitar 550 ulama yang tergabung dalam Majelis Pengkajian Tauhid Tasawuf (MPTT) dari sejumlah negara Asia Tenggara, dan berlangsung hingga Minggu, 8 Juni 2014.
Beberapa pakar dan ulama kondang yang hadir seperti Prof Dr Syekh Mehmet Fadhil Al-Jailani. Pimpinan Al-Jailani Centre Istanbul Turki ini merupakan keturunan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, ahli tafsir dan pimpinan ulama sufi terkenal.

“Muzakarah Tauhid Tasawuf Asia Tenggara ini sudah tiga kali digelar. Pertama di Meulaboh tahun 2010, kedua di Selangor Malaysia tahun 2012, dan ketiga, atas permintaan Bupati Jufri Hasanuddin dilaksanakan di Blangpidie,” ujar Abuya Syekh H Amran Waly Al-Khalidy, Pimpinan Pusat Majelis Pengkajian Tauhid Tasawuf Asia Tenggara.

Jufri bangga dan merasa mendapat kehormatan dipercaya melayani ratusan ulama dan tokoh agama melaksanakan muzakarah tersebut. Pemerintah Aceh Barat Daya, kata dia, berkomitmen mendukung pelaksanaan syariat Islam. Bahkan, dengan komitmen dari Pemerintah Arab Saudi, sebuah pusat kajian Islam hingga kini masih terus diproses untuk dapat segera didirikan di Aceh Barat Daya.

Sebelum muzakarah Tauhid Tasawuf Asean ke-3 digelar, Pemerintah Aceh Barat Daya juga dinilai sukses menggelar Seminar Ilmu Tauhid, Fiqih, Tasawuf dan Tawajjuh se-Aceh pada Maret 2014 di Dayah Darul Ulumuddiniyah. Saat penutupan Muzakarah, Bupati Jufri akan mengupayakan ke Pemerintah Aceh agar tauhid-tasawuf dapat dimasukkan ke dalam kurikulum lembaga pendidikan.(*)

Sumber: http://aceh.tribunnews.com/2014/08/22/agama-kekuatan-utama-menuju-sejahtera

UN Sebagai Momentum Kebangkitan

UN Sebagai Momentum Kebangkitan

ujian-nasional-smp-sma-ujian-sekolah-sd-2015

Oleh Arbai

MENTERI Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan untuk tahun ini melakukan berbagai terobosan tentang model Ujian Nasional (UN). Pelaksanaan UN kali ini disesuaikan dengan merangkul perbedaan kualifikasi sekolah. Ini ditandai dengan adanya UN online atau Computer-Based Test (CBT) bagi sekolah-sekolah yang maju dan siap dari sisi Sumber Daya Manusia (SDM) serta didukung infrastruktur yang lengkap. Dipastikan ada 585 sekolah yang siap melaksanakan UN CBT ini. Sementara jumlah keseleluruhan sekolah yang ikut UN, 18.552 SMA/MA yang melaksanakan UN pada Senin (13/4/2015) hingga Rabu (15/4/2015) dan ada 10.362 SMK. Sedangkan untuk SMP ada 50.515 sekolah yang akan melaksanakan UN pada Senin (4/5/2015) hingga Kamis (7/5/2015).

Mengacu pada Permendikbud No.5 Tahun 2015 dan peraturan BSNP No. 0031/P/BSNP/III/2015, untuk tahun ini nilai UN bukan lagi penentu kelulusan dan dapat diulang lewat ujian perbaikan pada tahun berikutnya. Bahkan mulai tahun depan (2016), kelulusan siswa sepenuhnya ditentukan oleh sekolah dengan mempertimbangkan capaian siswa pada seluruh mata pelajaran, keterampilan, maupun sikap dan perilaku siswa selama duduk di bangku sekolah. Selain itu, nantinya, UN juga dapat ditempuh beberapa kali dan wajib diambil minimal satu kali oleh siswa.

Beragam perbaikan tentang UN ini patut diapresiasi, sebab selama ini UN selalu menjadi perdebatan. Kemudian pihak Kemendikbud juga melakukan berbagai revisi di antaranya peningkatan mutu soal yang membawa siswa berpikir mendalam deep learning melalui soal-soal kontekstual, yang disertai survei dan kuisioner untuk mengidentifikasi faktor yang berpengaruh pada keberhasilan siswa. Dan bentuk Sertifikat Hasil Ujian Nasional (SHUN) lebih lengkap dalam mengambarkan capaian kompetensi siswa.

Babak baru UN
Lalu, inilah momentum untuk memasuki babak baru UN dalam dunia pendidikan dengan menerapkan sistem yang tak lagi bersifat penyeragaman dan sekaligus mengaplikasikan kemajuan teknologi dan informasi (TI). Pelaksanaan UN Online untuk 585 ini merupakan sebuah perubahan besar sistem UN yang selama ini dilakukan secara manual. Yaitu dengan 20 variasi soal yang dicetak pada kertas, kemudian siswa menjawab menggunakan Lembar Jawab Komputer (LJK). Selanjutnya LJK tersebut akan melewati alur pemeriksaan yang panjang, sehingga hasil UN baru bisa diketahui setelah menunggu dalam waktu yang tidak sebentar.

Konversi sistem manual menuju sistem yang terkomputerisasi ini tentu saja akan membutuhkan banyak biaya dan waktu. Wajar jika penerapannya baru bisa dilaksanakan dan direkomendasikan untuk beberapa sekolah yang telah siap secara infrastruktur. Karena diperlukan sebuah perencanaan yang matang, perhitungan yang tepat serta kemananan sistem yang handal untuk perubahan ini.

Keberanian kemendikbud menerapakan TI dalam UN ini merupakan sebuah terobosan untuk sebuah kemajuan pendidikan. Pembaruan model UN menandakan pemerintah menyelaraskan pendidikan dengan tuntutan zaman dan diberlakukan proporsional, kontekstual sesuai dengan kemajuan daerah. UN CBT diharapkan mengubah kebijakan yang lebih luas dalam penyediaan fasilitas sekolah di masa mendatang. Dan daerah-daerah yang saat ini belum siap CBT, ikut terangsang dan mau berpacu dan melengkapi infrastruktur TI.

Pun yang patut diperhatikan dalam UN CBT, jagan sampai menjadikan siswa sebagai korban. Sebab tidak tertutup berbagai kemungkinan terjadinya berbagai kendala yang berakibat langsung pada siswa. UN online sangat dibatasi oleh waktu dan tergantung pada akses jaringan. Kemudian yang harus menjadi perhatian juga dalam perubahan sistem UN ini adalah para stakeholders yang terlibat di dalamnya, terutama guru dan siswa.

Adanya perubahan dari sistem lama ke sistem baru guru dan siswa dihadapkan pada suatu transisi yang membutuhkan penyesuaian dan kesiapan baik secara teknis, psikologis dan kultural. Dalam hal teknis, kesiapan sekolah dalam menyediakan semua fasilitas untuk siswa khususnya perangkat keras, perangkat jaringan dan juga koneksi internet yang handal serta ketersediaan listrik. Sementara kesiapan software berikut kehandalan serta jaminan keamanan dari serangan virus maupun hacker juga harus menjadi pertimbangan berikutnya. Jangan sampai kebocoran soal serta kevalidan yang digembor-gemborkan pada UN online menjadi sia-sia gara-gara kegagalan pada sistem keamanannya.

Menguasai TIK
Secara psikologis berkaitan dengan mental guru. Guru sebagai tenaga pengawas ataupun sebagai operator dituntut untuk mahir serta menguasai teknologi informasi komputer (TIK). Sebab jika pengawasnya sendiri tidak mahir, ketika siswa yang sedang mengalami kendala dalam mengakses soal, pengawas dapat memberikan jalan keluar atau solusi yang tepat. Beragam pengalaman dalam pelaksanaan ujian online sebelumnya bisa dijadikan sebagai pengalaman. Sebut saja misalnya Ujian Kompetensi Guru (UKG) beberapa tahun lalu yang banyak kendala. Akibat lemahnya antisipasi, kejadian seperti itu tidak boleh terulang dalam UN online kali ini.

Lalu secara kultural, UN online memang sesuai dengan kebiasaan (habit) dan karakter siswa saat ini. Mereka lahir rata-rata 1980 ke atas yang merupakan digital native, Marc Prensky (2001) menenkankan bahwa ciri digital native satu diantaranya kesehariannya selalu bersinggungan dengan internet dan beragam TI dalam berinteraksi. Oleh sebab itu sudah semestinya sekolah dan guru juga menyesuaikan dengan karakter siswa. Tak perlu berpandangan negatif pada penerapan TI. TI bukanlah musuh (enemy). Sudah selayaknya pula kultur sekolah menyesuaikan dengan tuntutan dan karakter siswa. Oleh sebab itu, UN online memang sebuah keniscayaan untuk masa depan. Seperti direncanakan kemendikbud pada tahun ajaran 2019/2020 semua sekolah dapat melaksanakan UN secara online.

Akhir kata, hasil UN baik manual maupun CBT selayaknya dijadikan sebagai alat deteksi kesenjangan pendidikan antar provinsi atau daerah dan sebagai pertimbangan siswa untuk masuk seleksi ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi sehingga sepatutnya hasil UN memberi informasi detail dan menyeluruh atas capaian kompetensi siswa. Dengan demikian, para guru dan pengajar diharapkan terdorong terus melakukan penguasaan dan peningkatan kompetensi diri agar siswanya termotivasi untuk belajar sungguh-sungguh dan menyukai proses belajar. Dan harapannya UN tidak akan menjadi momok yang menakutkan lagi bagi siswa, guru, dan orang tua. Semoga!

* Arbai, Guru SMPN 1 Kluet Timur, Aceh Selatan. Alumnus MM Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Email: bai_arbai@yahoo.com