Category : Ragam

Kuliner Aceh dalam Pergaulan Global: Banyak Hal yang Perlu Dibenahi

Kuliner Aceh dalam Pergaulan Global: Banyak Hal yang Perlu Dibenahi

- Sebuah Catatan dari Dialog Pemberdayaan Ekonomi Micro Kuliner Aceh PP TIM

Peserta pertemuan PP TIM Lr

Berbicara masalah kuliner tidak pernah ada habisnya untuk diperbicangkan. Setiap daerah di nusantara ini memiliki kuliner yang khas dan unik, baik dari rasa yang mengundang selera, bahan masakan yang digunakan kaya dengan bumbu maupun cara pengolahannya.

Lalu apa hubungannya kuliner Aceh dengan Pengurus Pusat Taman Iskandar Muda (PP TIM) yang secara khusus mengadakan dialog pemberdayaan ekonomi Micro Kuliner Aceh dalam rangka pertemuan masyarakat Aceh di jakarta dan sekitarnya dengan Gubernur Aceh, dr.H.Zaini Abdullah, Sabtu, 23 Mei 2015 yang lalu di Hotel Amazing Kutaraja Jakarta?

Ada banyak hal yang terkait dengan kuliner Aceh, seperti yang dapat disimak dari dialog yang berlangsung cukup meriah pada Sabtu sore itu, dengan menampilkan 4 orang narasumber yang semuanya merupakan pelaku bisnis kuliner Aceh di Jakarta dan sekitarnya.

Bisnis kuliner terbukti masih merajai pasar di manapun di dunia ini yang mendatang devisa bagi negara, tidak kecuali dengan Indonesia yang mengandalkan industri Pariwisata yang tidak mungkin berdiri sendiri tanpa dikaitkan dengan kuliner. Karena itu, cukup beralasan jika pada era Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kala (JK) perlu membentuk badan khusus yang diberi nama Badan Ekonomi Kreatif yang mengurus 16 sub sektor, termasuk kuliner di dalamnya.

Jika hidangan khas rendang dan nasi goreng ditempatkan dalam jajaran teratas makanan paling lezat di dunia (World’s 50 Most delicious Foods) sebagai peringkat pertama dan kedua, ada satu lagi, masakan Sate yang mendapat peringkat ke-14. Hal ini berdasarkan hasil survei para pemerhati stasiun berita CNN sekitar empat tahun yang lalu. Indonesia tentu patut merasa bangga. Survei yang dihimpun melalui akun CNN di situs jejaring sosial Facebook itu, menempatkan Sushi, makanan dari Jepang pada urutan ketiga.

Dalam survei televisi CNN yang berbasis di Amerika Serikat itu, sebelumnya menempatkan Massaman curry asal Thailand sebagai peringkat pertama makanan terlezat di dunia. Namun kali ini Massaman curry menempati urutan ke sepuluh dari 50 jenis masakan dari seluruh dunia yang telah disurvei. Namun demikian dari jumlah makanan lezat yang terjaring dari hasil survei, ada tujuh makanan dari Thailand yang terpilih dengan berbagai peringkat. Misalnya, makanan Tim Yang Goong (peringkat ke-4), Pad Thai (urutan ke-5), Som Tan (ke-6), green curry (19), Fried Rice (24) dan Moo Nam Tok (36). Hal ini dapat dimaklumi mengingat Thailand sangat gencar melakukan promosi wisata, termasuk kuliner.

Makanan khas Indonesia sebenarnya tidak kalah menarik dan cukup menjanjikan dalam kancah kuliner. Selain rendang, masakan Padang lainnya mudah dijumpai di warung/restoran Padang ada di mana-mana, dari Aceh sampai ke Papua. Demikian pula dengan Coto Makassar, makanan khas dari Sulawesi Selatan atau mpek-mpek dari Palembang tidak asing lagi bagi penikmat kuliner di nusantara.

Menuju Pergaulan Global
Bagaimana dengan kuliner khas Aceh?
Bagi masyarakat Aceh, baik yang tinggal di Provinsi Aceh maupun yang hidup diperantauan tentu tidak perlu berkecil hati jika kuliner belum termasuk dalam peringkat makanan lezat di dunia. Jika ada upaya yang sungguh-sungguh, terencana, bersinergi dengan berbagai pihak, tidak tertutup kemungkinan untuk merintis jalan menuju ke sana. Setidaknya, dari dialog yang diikuti oleh jajaran oleh PP TIM, para Pengurus Cabang TIM se-Jabodetabek, organisasi lokal Kabupaten/Kota, seperti Solidaritas Warga Aceh Barat Daya (SWADAYA), IKNR Nagan Raya, organisasi masyarakat dari Gayo, Kota Langsa, dan organisasi Sektoral seperti IMAPA dan lain-lain itu, kiranya dapat memberikan secercah harapan.

Untuk mengangkat kuliner Aceh agar dapat memasuki pergaulan global, tentu banyak hal yang harus dilakukan dan dibenahi serta perlu mendapatkan dukungan dari semua pihak. Bukan hanya pelaku bisnis kuliner Aceh, tapi juga organisasi sosial kemasyarakatan seperti PP TIM, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), para Pengusaha, Pemerintah Provisi Aceh, Pemerintah Kabupaten/Kota dan seluruh masyarakat Aceh.

Pemerintah Provinsi Aceh dan Pemerintah Kabupaten/Kota perlu melakukan sosialisasi dan promosi yang lebih intensif agar kuliner Aceh semakin berkembang dan diminati oleh masyarakat dari berbagai kalangan. Misalnya, apa yang dilakukan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Aceh yang menggelar Aceh Culinary Festival 2015 pada 7-9 Juni 2015 di Taman Ratu Safiatuddin, Lampriet, Banda Aceh, merupakan salah satu upaya ke arah sana. Ke depan, kegiatan seperti ini perlu terus digalakkan dan dikembangkan secara berkesinambungan.

Contoh lain apa yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Bogor, Jawa Barat, dalam rangka memperingati hari ulang tahun Kota Bogor ke 533, pada 3 Juni 2015 yang melibatkan masyarakat dari 17 Pemerintah Provinsi, untuk menampilkan budaya daerah dan kuliner khas dari daerah masing-masing. "Warga Aceh di Bogor tentu tidak menyia-nyiakan kesempatan yang baik ini," kata Iskandar, salah seorang anggota Pengurus TIM Cabang Bogor. Di stand Aceh disediakan beberapa contoh kuliner Aceh, seperti mie Aceh, timphan, teh tarik dan lain lain yang dapat dinikmati dengan membeli kupon yang kepada Panitia yang ternyata cukup laris. Selain itu, pada Sabtu sore itu. Selain itu, seperti daerah-daerah lain Aceh juga menampilkan pertunjukan tari saman di halaman Balai Kota Bogor. Pemerintah Kota Bogor mempersiapkan tenda secara gratis bagi pemerintah atau warga dari daerah lain untuk mengisi stand dan melakukan pertunjukan seni budaya.

"Kegiatan seperti ini perlu lebih dikembangkan ke depan", ujar seorang pengunjung yang kelihatannya cukup antusias menikmati berbagai pertunjukan kesenian. Prakarsa dan inisiatif bisa datang dari siapa saja, apakah warga Aceh sendiri, organisasi TIM atau dengan melibatkan Pemerintah Provinsi, Kabupaten/Kota.

Dalam upaya turut melastarikan dan mengembangkan kuliner Aceh, PP TIM sudah menghimpun tidak kurang dari 32 jenis makanan khas Aceh yang sudah dibukukan. Namun sampai saat ini belum dapat dimiliki oleh publik yang berminat. Dan tentu masih banyak lagi resep masakan Aceh yang belum diinventasasi. Tapi setidaknya dari sejumlah resep masakan yang telah terkumpul itu dapat disosialisasikan dan dikembangkan lagi tentu akan menjadi panduan bagi para pelaku bisnis kuliner Aceh.

Memang kumpulan resep masakan itu saja belum cukup. Dari sekian banyak makanan itu belum ada standar yang baku. Misalnya, apa saja yang dapat dimasukkan sebagai makanan pembuka (appetizer), makanan utama (maincourse) dan apa yang menjadi makanan penutup (desserts), seperti yang berlaku dalam suatu jamuan atau yang tersedia di restoran-restoran pada umumnya. Demikian pula dengan bahan makanan dan bumbu yang digunakan. Bagi kalangan muslim ada tuntutan bukan hanya bahan dan bumbu, tapi juga juru masak, peralatan dan cara memasaknya. Misalnya, mie Aceh yang sudah terkenal itu dijual di warung non muslim dan dimasak oleh non muslim tentu patut dipertanyakan kehalalan dan thoyyibannya dapat memenuhi syarat. Sehingga yang demikian itu perlu ada sertifikasi.

Dalam hal ini PP TIM perlu memikirkan bagaimana solusinya. Memang dalam diskusi berkembang pandangan dan usulan agar hal ini dapat dibahas dalam suatu diseminarkan dengan melibatkan para ahli di bidangnya.

Hal lain yang perlu mendapatkan perhatian adalah masalah rasa dari setiap masakan khas Aceh yang juga belum ada standar baku. Mie Aceh, misalnya, apakah mie rebus atau mie goreng dengan bahan baku dan bumbu yang sama, tapi jika diolah oleh juru masak yang berbeda, tentu rasa masakannya akan berbeda. Hal ini juga diakui oleh pelaku bisnis mie Aceh yang sudah memiliki sejumlah cabang di seantero Jabodetabek.

Perkembangan Kuliner Aceh
Kilas balik perkembangan kuliner di Jabodetabek, mungkin dapat mengaca pada pengalaman warga Aceh yang kini sudah menetap di di Bogor lebih dari 30 tahun yang lalu. Keberadaan restoran atau warung Aceh yang menyediakan masakan khas Aceh di Jakarta dan sekitarnya, barangkali bisa dihitung dengan jari tangan. Karena pernah tinggal di daerah Pasar Minggu, Jakarta Selatan, pendatang baru dari aceh Barat Daya (waktu itu sebelum pemekaran Kabupaten masih termasuk Aceh Selatan) yang terlintas di pikiran jika ingin mencicipi gulee kameng, kuah pliek, mie Aceh atau timphan, ya, hanya di kawasan Pasar Minggu itu. Lokasinya ada yang di pinggirjalan raya Pasar Minggu dekat rel kereta api yang semraut atau di dalam pasar itu sendiri yang kebanyakan padagang yang menjual bahan kebutuhan masyarakat sehari-hari. Di jalan raya yang dilalui kenderaan dan lalu lalang manusia serta pasar yang kumuh itu menjadi pilihan. Jadi dapat dimaklumi karena warga Aceh yang waktu itu masih lajang dan belum memiliki pekerjaan tetap, terbatas ruang geraknya untuk mencari kuliner Aceh di daerah lain di ibukota, Jakarta.

Karena kondisi warung Aceh yang dikelola seperti apa adanya dan jauh dari standar kebersihan dan kesehatan itu akan mengurangi kenikmatan dan kenyamanan. Apalagi jika ada tamu, teman atau mitra kerja yang ingin diperkenalkan dengan kuliner Aceh. "Malu membawa ke warung Mie Aceh", ujar salah peserta dialog.

Kini keadaannya tentu sudah jauh berbeda. Warung Mie Aceh atau restoran yang menyediakan masakan Aceh sudah ada di mana-mana. Lokasi tempat dan pengelolaan restoran dengan sekmen pasar yang lebih bervariasi. Mulai dari warung model kaki lima sampai restoran atau kafe yang lebih representatif dengan ruangan berpendingin udara sehingga membuat penikmat kuliner Aceh betah di dalamnya.

Kini di kawasan Jabodetabek tersebar Mie Aceh atau liner Aceh lainnya. Jaringan yang menggunakan nama Jali-Jali tidak kurang dari 22 Cabang di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek). "Masih kalah dengan TIM yang sudah mencapai 46 Cabang di Jabodetabek", kata salah seorang anggota PP TIM."Ya, kalau saya diminta membuka warung Mie Aceh untuk menyamai jumlah cabang TIM, tentu tidak sanggup" jawab pemilik Mie Aceh Jali-Jali. Pengalamannya mengelola bisnis kuliner yang sudah lebih dari satu dasawarsa ini bercerita bagaimana pada awal usahanya jatuh bangun dalam merintis dan mengembangkan Jali-Jali.

Selain Jali-Jali yang menyediakan mie Aceh, ada mie Aceh Bangladesh, mie Aceh 88 di Pasar Minggu, mie Aceh Lamlo, mie Aceh Seulawah, Resto Delima di Klender, yang baru dibuka sejak awal Januari 2015 yang lalu. Lokasinya di Jl. Delima Raya Blok XI No.10, Perumnas Klender, Jakarta Timur. Ada Rumah Makan Mutetia, di Benungan Hilir, Rumah Makan Baruna di Kelapa Gading, Dapoe Aceh Melayu di gedung Plaza Sentral, atau ala Kafe, ada YED-KUPI di Jl. Duren Tiga 65, Jakarta Selatan. Di Bogor ada mie Aceh Bangladesh, Mie Aceh Kurnia yang sudah memiliki 4 cabang. Dan tentu banyak lagi jika ditelusuri satu persatu, sehingga tidak sulit mencari masakan khas Aceh di Jabodetabek, seperti dialami oleh warga Aceh yang tinggal di Bogor 30 tahun yang lalu.

10 Kuliner Aceh yang Harus Dicoba Wisatawan

10 Kuliner Aceh yang Harus Dicoba Wisatawan

Untuk mereka yang akan traveling ke Aceh dalam waktu dekat ini, pastikan wisata kuliner jadi agenda liburan di sana. Kuliner apa yang harus dicoba? Ini dia 10 makanan populer di Negeri Serambi Makkah.

"Ka leuh pajoh bu?"

Jangan kaget kalau bertemu orang-orang di Banda Aceh dan ditanya seperti itu. 'Ka leuh pajoh bu?' atau 'Sudah makan nasi?' adalah sapaan khas yang menunjukkan keramahan masyarakat di Aceh. Kalimat itu juga merupakan salah satu cara 'Pemulia Jamee' atau memuliakan tamu bagi orang Aceh.

Orang Aceh pencinta makanan, bisa dilihat dengan banyaknya jumlah tempat makan atau restoran. Mulai dari restoran yang ber-AC hingga ke kaki lima. Semua makanan yang ditawarkan menggugah selera.

Makanan Aceh merupakan perpaduan berbagai kebudayaan seperti Arab, India, Siam, Spanyol, China hingga Belanda. Namun yang paling banyak mempengaruhi adalah masakan Arab dan India yang menggunakan banyak bumbu dan rempah-rempah.

Orang Aceh sangat menghargai makanan, sehingga makanan pun digarap dengan serius. Tidak jarang pula ditemui orang yang makan hingga keringetan. Belum sah rasanya ke Banda Aceh sebelum mencicipi makanan khas yang ada disana. Inilah 10 makanan Lokal yang digemari:

 

  1. Ayam Tangkap

Ayam yang digoreng dengan berbagai macam rempah dan bumbu, seperti daun temurui, bawang merah, bawang putih dan cabai hijau. Biasanya disajikan dengan bumbu kecap dan nasi yang hangat. Harga per paketnya Rp 60.000 per ekor. Biasa untuk 4-5 orang. Bisa di dapat di RM Aceh Rayeuk, RM Cut Dek dan RM Hasan.

 

  1. Mie Aceh

Mie yang dimasak dengan berbagai macam rempah yang menggugah selera makan. Biasa ditawarkan dengan berbagai macam isi seperti kepiting, cumi-cumi, udang atau jamur. Harga per porsinya mulai Rp 12.000 per piring. Bisa didapat di RM Mie Razali, Yellow Cafe, REX, Coffee Bay dan masih banyak lagi.

 

  1. Gule Plik U

Berbagai jenis sayuran segar yang dicampur dan dimasak dengan bumbu khusus. Plik U adalah kelapa yang sudah difermentasi. Harga per piringnya Rp 8.000. Bisa didapat di RM Aceh Rayeuk, RM Ujung Batee dan rumah makan Aceh lainnya.

 

  1. Gule Kambing

Daging kambing yang empuk dimasak dengan potongan nangka muda. Memiliki rasa yang unik dan menggugah selera. Biasa disajikan dengan minuman timun serut (I Boh Timon).

Air timun ini juga berfungsi sebagai penetralisir agar tidak terjadi darah tinggi. Harga mulai Rp 12.000 per porsi. Bisa ditemukan di RM Aceh Rayeuk, RM Hasan, RM Aceh Spesifik, RM Nasi Kambing, dll.

 

  1. Daging Masak Putih (Sie Reboh Puteh)

Daging sapi yang direbus dengan santan dan bumbu lainnya ini memiliki rasa yang unik. Selain dagingnya yang empuk, rasa manis membuat makanan ini digemari anak-anak dan orang dewasa yang tidak menyukai masakan yang pedas dan asin.

Sekali mencobanya bisa bikin ketagihan. Bisa ditemukan di RM Aceh Rayeuk dan rumah makan yang menjual masakan Aceh lainnya. Harga dimulai Rp 8.000/porsi.

 

  1. Martabak Telur Aceh

Martabak ini terbuat dari tepung terigu yang ditutui dengan telur yang sudah dicampur dengan berbagai jenis sayur yang telah dipotong kecil-kecil. Biasanya disajikan dengan acar bawang merah dan cabe rawit.

Uniknya, alat masak yang digunakan berbentuk petak dan datar. Harga mulai Rp 7.000 per porsi. Bisa ditemukan di REX, Peunayong, Ulee Kareng, Helsinki, Dapu Kupi, dll.

 

  1. Roti Canai

Tepung terigu yang sudah dibentuk bulat dimasak dengan menggunakan mentega. Kemudian disajikan dengan berbagai macam rasa seperti durian, kari ayam, kari kambing, cokelat ataupun hanya gula pasir. Harga mulai Rp 8.000 per porsi. Bisa ditemukan di Canai Mamak KL, Setui.

 

  1. Ikan Kayu

Ikan kayu atau eungkot Keumamah, ini sudah terkenal sejak masa peperangan di Aceh. Ikan yang dikeringkan ini sangat nikmat bila dimasak dengan gulai Aceh.

Menariknya, ikan ini bisa bertahan hingga bertahun-tahun. Oleh karena itu juga makanan ini menjadi andalan orang Aceh ketika perang, enak dimakan dan tahan lama. Harga mulai Rp 20.000 per kemasan. Bisa ditemukan di toko oleh-oleh Aceh.

 

  1. Sate Matang

Sate yang terkenal karena dagingnya yang empuk, karinya yang lezat dan bumbu kacangnya yang gurih. Kita bisa merasakan kelezatannya sate ini di REX, Peunayong dengan harga Rp 20.000 per porsi.

 

  1. Bubur Kanji Rumbi

Bubur yang terbuat dari beras pulen, ditumbuk kasar yang direbus dengan campuran rempah-rempah seperti, ketumbar, lada, bawang merah, jahe, biji pala dan adas manis. Biasa disajikan dengan ayam, udang atau telur setengah matang di atasnya.

Bisa ditemukan di Bubur Jagung, Ulee Kareng mulai Rp 8.000. Masih kurang? Ayo segera ke Banda Aceh, masih banyak makanan menggiurkan di sini!

sumber : http://travel.detik.com/read/2013/10/17/153000/2229765/1025/5/10-kuliner-aceh-yang-harus-dicoba-wisatawan#menu_stop

Es Boh Timon Gapu

Es Boh Timon Gapu

timun-suri

MINUMAN yang manis adalah menu yang disarankan untuk dikonsumsi saat berbuka puasa. Minuman manis ini dibutuhkan untuk mengembalikan energi yang hilang setelah 12 jam lebih berpuasa. Salah satu minuman manis yang paling digemari saat berbuka yakni yang berhawa dingin. Bahakn bakunya bisa dikreasikan sesuai dengan selera. Paling sering ditemukan di beberapa acara buka puasa yakni es timur keruk dan es timun suri. Khusus es timun suri, banyak dipilih lantaran isinya telah mengandung hawa dingin sebelum ditambahkan es. Konon lagi bila dibubuhkan juga es batu dalam ramuan minuman ini, hmm... rasa dinginnya mengalir ke tenggorokan. Daging timun yang seperti sagu dicampur sirup manis dan es, sangatlah menyegarkan. Pada Serambi Kuliner edisi Sabtu ini, Azwani Awi menyajikan minuman yang dapat membantu Anda membuat olahan untuk menu berbuka puasa.(*)

Nikmati Kesegaran Saat Berbuka
TIMUN suri merupakan salah satu buah yang banyak muncul saat Bulan Ramadhan. Di Aceh, timun suri lebih dikenal dengan nama boh timon gapu. Artinya, buah timun kapur. Nama tersebut ditabalkan lantaran daging buah dimaksud mirip kapur dan tekstur daging buah yang lembut.

Sebagian ada yang menyebut boh timon wah. Nama ini dilabeli lantaran timun suri yang telah terlalu matang di pohon telah terbuka isinya, hingga berbentuk menganga. Itulah makanya disebut timon wah atau timun terbuka menganga.

Di bulan Ramadhan, timun suri sudah menjadi ciri khas tersendiri. Timon gapu ini memang menjadi andalan selain kurma dan buah lainnya.

Setelah puasa seharian, rasanya ketika berbuka ingin sekali menikmati minuman dingin untuk menghilangkan dahaga. Dari beragam menu minuman es yang ditawarkan, rasanya kurang lengkap bila berbuka puasa tidak ditemani oleh es buah yang satu ini.

Timun yang dikemas dalam pelepah pisang memang terbilang buah yang lunak. Selain rasanya yang segar juga sangat pas untuk minuman saat berbuka. Apalagi jika ditambahkan sedikit es tentu sangat terasa di tenggorokan.

Jika memakannya secara langsung, Anda akan disuguhkan sensasi memakan rasa tawar namun tetap segar. Apabila diramu dengan beberapa campuran bahan lainnya, rasanya akan sangat nikmat. Selain itu, terasa dingin di tenggorokan.

Salah satu menu yang sering disajikan sajian berbahan baku timun suri ini adalah minuman segar. Bisa dicampur dengan air kelapa atau santan. Bahkan, ada juga menambah gula putih. Akan tetapi, salah satu cara paling praktis yang sering ditemukan di rumah-rumah warga di Aceh, dengan mencampuri sirup manis plus es. Rasanya, hmmm... sangat nikmat dan dingin di dalam tubuh.

Selama Ramadhan, bahan bakunya mudah ditemukan di pinggir jalan dan pasar tradisional. Harganya pun sangat terjangkau, sekitar Rp 5 ribu hingga Rp 15 ribu per buah--tergantung ukuran.

Ya, es buah timun suri yang satu ini, selain rasanya segar dan lezat, juga cara membuatnya yang terhitung mudah. Anda juga bisa mengolaborasikan menu boh timon gapu dengan resep lainnya untuk sajian buka puasa di rumah. Mau coba?? (*)

RESEP
Bahan
- Timun suri 250 gr yang sudah dikeruk dagingnya.
- Air kelapa muda 1 buah dan isinya.
- Agar-agar jelly rasa buah 200 gr yang dipotong dadu.
- Sirup, rasa coco pandan atau sesuai selera secukupnya.
- Air putih matang 1 liter.
- Es batu secukupnya.

Cara Membuat
- Siapkan satu baskom atau tempat penyajian.
- Masukkan potongan timun suri.
- Tambahkan kelapa muda dan isinya.
- Masukkan agar-agar jelly.
- Tuang tiga sirup secukupnya.
- Aduk hingga rata.
- Tambahkan es batu.
- Es timun suri siap disajikan.

sumber : http://aceh.tribunnews.com/2014/07/26/es-boh-timon-gapu?page=1