Category : Warta

ACARA BUKA PUASA DAN SHOLAT TARAWIH BERSAMA

ACARA BUKA PUASA DAN SHOLAT TARAWIH BERSAMA

Dalam rangka menyambut dan melaksanakan ibadah Puasa Ramadhan 1436 H/2015 M, guna mempererat tali silaturrahim di antara para anggota, Pengurus Solidaritas Warga Aceh Barat Daya (SWADAYA) mengadakan acara buka Puasa dan sholat tarawih bersama di Jakarta dan sekitanya.

Sesuai dengan Rapat Pengurus SWADAYA pada awal Juni 2015 yang lalu, acara buka Puasa dan shalat tarawih bersama tersebut difasilitasi oleh Pengurus SWADAYA yang pelaksanaannya dikoordinir oleh organisasi-organisasi Kecamatan dalam lingkup Kabupaten Aceh Barat Daya. Adapun jadwal dan tempat kegiatan acara buka Puasa dan sholat tarawih bersama yang ditetapkan oleh organisasi Kecamatan adalah sebagai berikut:

- Solidaritas Warga Kuala Batee – Babahrot Aceh (SWAKABA) pada hari Minggu, 21 Juni 2015, bertempat di kediaman Bapak Dr. Nurdin, Msi, Kompleks Kav. Pesona Kali Sari, Jl. Pesona VI No. 165, Pasar Rebo, Jakarta Timur.

- Ikatan Masyarakat Blangpidie Aceh Barat Daya (IMABDYA), pada hari Sabtu, 27 Juni 2015, bertempat di kediaman Bapak H. Rafli Haris, Jl. Prejaten Barat No.30 B, Jakarta Selatan.

- Ikatan Masyarakat Susoh (IMS), pada hari Minggu, 28 Juni 2015, bertempat di Masjid Darul Munawar, kompleks Ruko, kediaman Bapak H. Achmad Nasir, DA. Jl. Kali Malang No.1, Jakasampurna, Bekasi.

- Putra Lembah Sabil Manggeng (PLSM), pada hari Minggu, 5 Juli 2015, bertempat di kediaman Saudara Dasturiadi, Kompleks Perumahan Imperial Gading Pelindo II Blok C-1 No.11, Sukapura, Jakarta Utara. (masuk dari Kompleks Bea dan Cukai Sukapura)

- Ketua Dewan Pembina SWADAYA, Bapak H.Zainuddin Daud, pada hari Sabtu, 11 Juli 2015, bertempat di Perkantoran Mitra Matraman Blok C-15, Jl. Matraman Raya No.148, Jakarta Timur.

Diharapkan kepada Pengurus lengkap SWADAYA, Pengurus SWAKABA, Pengurus IMABDYA, Pengurus IMS, Pengurus PLSM dan keluarga besar SWADAYA dapat menghadiri acara tersebut.

Searah jarum jam: Dr. Nurdin selaku tuan rumah memberikan sambutan. Dilanjutkan dengan pengarahan Ketua Dewan Pembina SWADAYA, H. Zainuddin Daud. Ibu-ibu para anggota dan Ketua Umum SWADAYA, H.M. Yasin Ibrahim memberikan kata sambutan pada acara buka puasa bersama.

Searah jarum jam: Dr. Nurdin selaku tuan rumah memberikan sambutan. Dilanjutkan dengan pengarahan Ketua Dewan Pembina SWADAYA, H. Zainuddin Daud. Ibu-ibu para anggota dan Ketua Umum SWADAYA, H.M. Yasin Ibrahim memberikan kata sambutan pada acara buka puasa bersama SWAKABA.

Lintas Abdya-Galus Putus

Lintas Abdya-Galus Putus

Dampak Longsor

BLANGPIDIE - Badan jalan yang menghubungkan Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) dengan Kabupaten Gayo Lues (Galus) dilaporkan ditimbun longsor, Sabtu (1/11) sore. Sedangkan di Kabupaten Nagan Raya, ribuan rumah dalam wilayah delapan desa di Kecamatan Tripa Makmur, terendam banjir luapan.

Informasi tanah longsor yang menimbun jalan di lintas Abdya-Galus tersebut diterima Serambi dari Thamrin, Ketua Pemuda Desa Ie Mirah, Kecamatan Babahrot, Abdya, Sabtu (1/11) malam. Menurut Thamrin, longsor menimbun badan jalan di Km 14, masih di Kecamatan Babahrot.“Jalur darat Babahrot-Terangon putus total setelah badan jalan ditimbun tanah longsor di Km 14 pada Sabtu sore,” kata Thamrin.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Kabupaten (BPBK) Abdya, Empy Syafril yang dihubungi Serambi mengatakan, hingga pukul 21.00 WIB tadi malam tim BPBK masih di lapangan memantau perkembangan. Banjir terjadi akibat hujan lebat di Kecamatan Manggeng, Lembah Sabil, Tangan-Tangan, dan Babahrot.
Di Kecamatan Manggeng, banjir melanda Desa Panton Makmur, Simpang Tiga Lhok Pawoh, Seuneulop, Sejahtera, Pantee Raja, dan Desa Tokoh. Dari 118 rumah warga Desa Simpang Tiga Lhok Pawoh, 115 rumah terendam sebagian warga menggungsi ke masjid atau tempat-tempat aman.

Di Kecamatan Lembah Sabil, banjir luapan Krueng Baru merendam Desa Alue Rambot, Ladang I dan Ladang Tuha II, Cot Ba’U, dan Meunasah Sukon. Di Kecamatan Tangan-Tangan, merendam Desa Suak Nibong, Suak Labu dan sekitarnya. Sedangkan di Kecamatan Babahrot, luapan Sungai Babahrot mengakibatkan banjir antara lain di Desa Persiapan Cot Seumantok dan Desa Ie Mirah akibat luapan Krueng Ie Mirah.

Badan Jalan Nasional di sejumlah titik juga di terendam banjir genangan, Sabtu (1/11) malam, di lokasi Desa Menasah Sukon, Kecamatan Lembah Sabil, lokasi Paya Laot atau di perbatasan Desa Panton Makmur dengan Desa Lhueng Baru, Kecamatan Manggeng, Desa Suak Nibong dan Desa Suak Labu, Kecamatan Tangan-Tangan.

Banjir juga merendam badan jalan nasional lokasi Alue Diwi Desa Alue Pade, Kecamatan Kuala Batee, dan Desa Gunung Samarinda, Kecamatan Babahrot. Hingga tadi malam hujan masih mengguyur Abdya.

Dari Nagan Raya dilaporkan, ribuan rumah dalam wilayah delapan desa di Kecamatan Tripa Makmur, Kabupaten Nagan Raya, sejak Jumat (31/10) malam hingga Sabtu sore kemarin terendam. Delapan desa yang terendam banjir itu adalah Gampong Pasi Keubeudom, Kuala Tripa, Ujong Krueng, Mon Dua, Neubok Yee PP, Neubok Yee PK, Babah Lueng, dan Panton Pange.

Camat Tripa Makmur, Ahmad Fuad SIP mengatakan, banjir yang merendam delapan desa itu akibat luapan Krueng Tripa menyusul hujan deras sejak beberapa hari terakhir. “Ini bencana rutin yang dihadapi masyarakat,” kata Ahmad Fuad. Menurutnya, tim BPBD Nagan Raya sudah turun ke lokasi banjir.

Informasi lain yang diterima Serambi dari jaringan relawan komunikasi RAPI Aceh Selatan menyebutkan, pada pukul 19.00 WIB tadi malam terjadi longsor di jalan Gunung Peulumat, Labuhan Haji Timur. Sedangkan sejumlah kawasan lainnya sempat terendam banjir, antara lain di beberapa lokasi dalam wilayah Labuhan Haji, Labuhan Haji Timur, dan Meukek. “Relawan RAPI Aceh Selatan tetap siaga memantau perkembangan,” lapor Sekretaris RAPI Aceh Selatan, Zumardi Chaidir (JZ01TAX), tadi malam.(nun/edi/nas/SERAMBI)

http://aceh.tribunnews.com/2014/11/02/lintas-abdya-galus-putus

Jalur Trans-Sumatera: Tahun Ini Jalur Kereta Lampung-Aceh Dimulai

Jalur Trans-Sumatera: Tahun Ini Jalur Kereta Lampung-Aceh Dimulai

Ignasius jonan

BANDAR LAMPUNG, KOMPAS — Menteri Perhubungan Ignasius Jonan menargetkan proyek jalur kereta api Trans-Sumatera Railways dimulai tahun ini. Jalur kereta api Sumatera Railways itu menurut rencana membentang dari Lampung hingga Aceh.

”Total panjang jalur kereta api itu sekitar 1.400 kilometer dan dibangun dalam double track (jalur ganda). Pengerjaannya pasti periodik. Kami belum tahu kapan bisa selesai. Namun, kami berharap bisa dirampungkan secepatnya,” ujar Jonan saat melakukan kunjungan ke Stasiun Tanjungkarang, Bandar Lampung, Jumat (23/1).

Jonan yakin tak akan ada hambatan dalam pengerjaan proyek tersebut selain pengadaan lahan. Namun, ia belum bisa merinci total investasi yang akan disediakan pemerintah melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara untuk megaproyek itu.

Hal tersebut belum bisa dipastikan karena Kementerian Perhubungan belum menghitung biaya pembebasan lahan. Namun, yang jelas, tegas Jonan, proyek pembangunan transportasi massal tersebut akan dilakukan secara mandiri tanpa bantuan pihak asing.

Sementara itu, Vice President PT Kereta Api Indonesia (KAI) Subdivisi Regional 3.2 Tanjungkarang Heru Kuswanto mengatakan, pihaknya siap mendukung proyek nasional tersebut. Ia menyatakan tidak ada masalah mengenai pembebasan lahan untuk jalur Lampung-Kertapati, Sumatera Selatan.

”Untuk sektor Lampung-Kertapati tidak ada masalah karena PT Kereta Api Indonesia sudah memiliki lahan untuk jalur kereta api. Pembangunan jalur ganda juga tidak akan menjadi masalah karena berdiri di atas lahan milik PT KAI,” ujarnya.

Adapun proyek jalur ganda Lampung-Kertapati sepanjang lebih kurang 400 kilometer hingga saat ini baru selesai 10 persen. PT KAI Subdivisi Regional 3.2 baru merampungkan 95 kilometer yang menyambungkan jalur dari Stasiun Giham hingga Stasiun Cempaka, Sumatera Selatan.

”Kami menargetkan pembangunan jalur ganda Lampung-Kertapati sepanjang lebih kurang 400 kilometer tersebut selesai pada akhir 2018. Tidak ada hambatan untuk jalur ganda Lampung-Kertapati karena dibangun di atas tanah PT KAI,” tutur Heru.

Kunjungan Menteri Perhubungan ke PT KAI Subdivisi Regional 3.2 sempat mendapat ancaman dari masyarakat yang menolak penggusuran bangunan di Kelurahan Sawah Brebes, Kecamatan Tanjungkarang Pusat, Bandar Lampung. Masyarakat yang sejak pagi menunggu kedatangan Jonan sempat mengepung kantor PT KAI Lampung dengan bambu runcing.

Menanggapi hal itu, Heru mengatakan, pihaknya tetap akan melakukan penggusuran pada 28 Januari sesuai dengan surat peringatan yang telah diberikan kepada warga Sawah Brebes. ”Kami tetap berpegang pada keputusan pengadilan yang menyatakan tanah yang diduduki warga itu milik PT KAI. Tidak ada alasan penundaan eksekusi karena kami telah memberikan surat peringatan sejak lama,” ujarnya.

Ditemui secara terpisah, Ketua Forum Komunikasi Masyarakat (FKM) Sawah Brebes Robert Gultom mengatakan, pihaknya akan terus berjuang terkait upaya pengosongan lahan.

”Kami sudah tinggal di daerah ini sudah lama, bahkan sudah tiga generasi. Mengapa baru sekarang PT KAI tiba-tiba mengambil tempat kami dilahirkan dan dibesarkan? Kami akan melawan PT KAI sampai ada kejelasan hukum,” katanya. (GER)

http://print.kompas.com/KOMPAS

Hasil Tambang: Giok Aceh Diminati

Hasil Tambang: Giok Aceh Diminati

Batu-giok-crp

BANDA ACEH, KOMPAS — Pasca memenangi ajang Indonesian Gemstone Competition and Exhibition 2013 dan 2014 di Jakarta, hasil bumi Aceh berupa batu giok semakin diminati oleh masyarakat domestik dan mancanegara. Hal itu pun turut memicu penambangan batu giok di sejumlah tempat di Aceh, seperti di Kabupaten Aceh Barat, Nagan Raya, dan Aceh Tengah.

Berdasarkan pantauan Kompas di Aceh Barat dan Nagan Raya, Rabu (24/9), banyak terdapat pengumpul, pedagang, dan pengasah batu giok. Batu-batu giok itu dijual dalam sejumlah ukuran, dari seukuran kelereng hingga sebesar batu bata.

Pengumpul batu giok di Desa Kulam Jerneh, Kecamatan Betung, Nagan Raya, Buckhari (42), mengatakan, batu itu ditemukan dan diambil di Aceh sejak sepuluh tahun lalu. Namun, saat itu batu belum terlalu diminati karena harganya masih rendah, yakni sekitar Rp 100.000 per kilogram.

Giok Aceh mulai mendapatkan perhatian luas ketika juara dalam ajang Indonesian Gemstone Competition and Exhibition 2013 dan 2014 di Jakarta. Seiring dengan itu, harga batu giok Aceh menjadi tinggi, Rp 300.000-Rp 1,5 juta per kilogram.

Buckhari mengatakan, kondisi itu mendorong warga berpindah mata pencaharian dari buruh atau pedagang menjadi pencari, pengolah, dan penjual batu giok. Warga datang ke gunung dan sungai untuk mencari batu giok.

Perajin di Banda Aceh, Hendro Saky (34), mengatakan, giok Aceh yang diminati adalah jenis giok idocrase lumut, giok idocrase biosolar, dan giok idocrase solar.

Kepala Jurusan Geologi Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala, Gartika Setia Nugraha, mengutarakan, giok Aceh sebagian besar jenis nephrite dan sebagian kecil jenis jadeite.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Aceh, Safwan, menyampaikan, pemerintah daerah menerapkan aturan batasan pengambilan batu giok dan dilarang menggunakan alat berat. (DRI)

http://print.kompas.com/KOMPAS
Jumat, 26 September 2014

Bangkitkan Kembali Kejayaan Nanggroe Breuh Sigupai

Bangkitkan Kembali Kejayaan Nanggroe Breuh Sigupai

Ketua Umum Solidaritas Warga Aceh Barat Daya (SWADAYA), H. Zainuddin Daud mengharapkan agar di bawah kepemimpinan Bupati Aceh Barat Daya Ir. Jufri Hasanuddin, Kabupaten Aceh Barat Daya dapat mengejar ketinggalan pembangunan, baik dari aspek ekonomi, pendidikan, kesehatan dari kabupaten-kabupaten lain di Provinsi Aceh. “Bangkitkan dan kembalikan kejayaan Aceh Barat Daya, Naggroe breueh sigupai”, ujarnya pada acara halal bil halal SWADAYA yang berlangsung Sabtu siang, 30 Agustus 2014 di Griya Ardhiya Garini, Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur.

Menurut H. Zainuddin, sejak Kabupaten Aceh Barat Daya menjadi daerah otonom dari hasil pemekaran Kabupaten Aceh Selatan dan telah dipimpin oleh 2 orang Bupati defenitif, belum ada kemajuan apa-apa dibandingkan dengan daerah-daerah di Provinsi Aceh. “Ini harus menjadi perhatian Bupati, Jufri Hasanuddin untuk bekerja secara maksimal, memperhatikan kepentingan masyarakat Aceh Barat Daya”, ujarnya.

Dikatakan,sekitar tahun 1960-an, perdagangan di Aceh Barat Daya, terutama di Blangpidie yang kini menjadi ibukota Aceh Barat Daya, cukup dikenal sebagai penghasil pala, cengkeh, karet, nilam, kacang tanah dan lain-lain. Pada zaman VOC dulu memperdagangkan rempah-rempah dari Aceh Barat Daya. Jadi kemajuan pembangunan dan masyarakat, tergantung kepada pimpinan dalam menentukan kebijakan supaya roda perekonomian dapat berjalan dengan baik dan rakyat hidup sejahtera, tidak merana dalam kesengsaraan. “Tujuan pembangunan harus dapat memakmurkan dan menyejahterakan rakyat, bukan hanya untuk kepentingan kelompok, apa lagi untuk kepentingan pribadi dan keluarga”, kata Zainuddin.

Ditambahkan, perekonomian rakyat harus dibangkitkan dan adanya pemerataan pembangunan agar tidak timbul kesenjangan dan kecemburuan sosial. “Kini masyarakat menagih realisasi janji-janji politik pada masa kampanye dulu untuk pembangunan infrastruktur, ekonomi, pendidikan, kesehatan dan lain-lain”.

Acara yang berlangsung dengan meriah itu diawali dengan tari ranup lam puan, sebuah tari khas Aceh dalam penyambutan tamu, para undangan, antara lain. Bupati Aceh Barat Daya Ir Jufri Hasanuddin beserta istri, Komandan Kodim 0110 Abdya, Letkol ARM E. Dwi Karyono AS dan istri, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Taman Iskandar Muda Kaharuddinsyah, para sesepuh dan tokoh masyarakat, anggota SWADAYA dari Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi serta para undangan lainnya.

Pada kemsempatan itu juga ditampilkan seni Rapai Geleng dari organisasi Kecamatan, Putra Lembah Sabil Manggeng (PLSM), tari Seudati dari Blangpidie (IMABDYA) dan tari Saman.

Tidak Ada Diskriminasi dalam Organisasi TIM

Tidak Ada Diskriminasi dalam Organisasi TIM

“Tidak ada diskriminasi bagi warga Aceh yang terhimpun dalam organisasi Tiaman Iskandar Muda”, demikian dikatakan oleh Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Taman Iskandar Muda (TIM), Kaharuddinsyah, dalam sambutannya pada acara Halal bil Halal dan silaturrahmi Solidaritas Warga Aceh Barat Daya (SWADAYA) yang berlangsung di Griya Ardhiya Garini, Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur, Sabtu siang, 30 Agustus 2014 yang lalu.

Kaharuddinsyah mengakui bahwa belakangan ini ada kesan bahwa seolah-olah TIM hanya memperhatikan warga yang berasal dari daerah tertentu di Provinsi Aceh. Hal ini disebabkan karena kurangnya komunikasi dan sosialisasi dari TIM kepada organisasi-organisasi lokal dan masyarakat dari kabupaten/kota dalam lingkup provinsi Aceh.

Dikatakan, selama ini organisasi-organisasi Kabupaten cukup berperan dalam mengembangkan dan memajukan masyarakat, termasuk organisasi Taman Iskandar Muda, yang didirikan sejak 1950 yang lalu sebagai wadah bagi warga masyarakat Aceh yang ada di Jakarta dan sekitarnya. “TIM memiliki 2 pilar penyangga, yaitu organisasi lokal seperti SWADAYA dan organisasi sektoral. Dari 23 Kabupaten/kota Provinsi Aceh, sudah ada 12 organisasi Kabupaten yang tergabung dalam Taman Iskandar Muda”, katanya.

Untuk meyakinkan anggota masyarakat yang hadir pada acara tersebut, Kaharuddinsyah mengutip Anggaran Dasar TIM, BAB VI, Pasal 12 sampai dengan Pasal 14 yang mencantumkan bahwa Taman Iskandar Muda memiliki 2 (dua) pilar organisasi pendukung, yang terdiri dari organisasi-organisasi lokal dan organisasi-organisasi sektoral. Organisasi Lokal adalah organisasi masyarakat Aceh di Jakarta dan sekitarnya yang bersifat kekeluargaan, berdasarkan kesamaan wilayah asalnya di Nanggroe Aceh Darussalam dari setiap Kabupaten/Kota, yang diakui, dan mendaftarkan dirinya kepada Taman Iskandar Muda. Sedangkan Organisasi Sektoral adalah organisasi yang dibentuk oleh keluarga besar masyarakat Aceh di Jakarta dan sekitarnya berdasarkan kesamaan aspirasi, profesi, dan misi, yang diakui dan mendaftarkan dirinya kepada Taman Iskandar Muda.

Karena itu, ke depan dibutuhkan pemikiran dari warga Aceh yang berdomisili di Jakarta dan sekitarnya untuk mengembangkan organisasi TIM. Tidak perlu ada keraguan bagi organisasi-organisasi Kabupaten/Kota untuk bergabung dengan TIM, agar sama-sama dapat memajukan organisasi dan warganya.

Agama, Kekuatan Utama Menuju Sejahtera

Agama, Kekuatan Utama Menuju Sejahtera

SESUAI Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2012-2017, Bupati Jufri Hasanuddin dan Wakil Bupati Yusrizal Razali memiliki visi menjadikan “Kabupaten Aceh Barat Daya yang Islami, sejahtera, dan mandiri melalui pemberdayaan potensi daerah yang berbasis kearifan lokal.”

Visi islami diwujudkan melalui berbagai program keagamaan dan pelestarian nilai-nilai dasar Islam. Dukungan terhadap ulama pun menjadi komitmen Jufri. Tahun ini, 72 ulama diberangkatkan umroh secara gratis oleh Pemerintah Aceh Barat Daya.

Selain itu, Muzakarah Tauhid Tasawuf Asia Tenggara ke-3 juga difasilitasi dan diadakan di Blangpidie, Aceh Barat Daya. Seminar keagamaan berlevel internasional itu dibuka pada Jumat 6 Juni 2014, oleh Wali Nanggroe Malik Mahmud, diikuti sekitar 550 ulama yang tergabung dalam Majelis Pengkajian Tauhid Tasawuf (MPTT) dari sejumlah negara Asia Tenggara, dan berlangsung hingga Minggu, 8 Juni 2014.
Beberapa pakar dan ulama kondang yang hadir seperti Prof Dr Syekh Mehmet Fadhil Al-Jailani. Pimpinan Al-Jailani Centre Istanbul Turki ini merupakan keturunan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, ahli tafsir dan pimpinan ulama sufi terkenal.

“Muzakarah Tauhid Tasawuf Asia Tenggara ini sudah tiga kali digelar. Pertama di Meulaboh tahun 2010, kedua di Selangor Malaysia tahun 2012, dan ketiga, atas permintaan Bupati Jufri Hasanuddin dilaksanakan di Blangpidie,” ujar Abuya Syekh H Amran Waly Al-Khalidy, Pimpinan Pusat Majelis Pengkajian Tauhid Tasawuf Asia Tenggara.

Jufri bangga dan merasa mendapat kehormatan dipercaya melayani ratusan ulama dan tokoh agama melaksanakan muzakarah tersebut. Pemerintah Aceh Barat Daya, kata dia, berkomitmen mendukung pelaksanaan syariat Islam. Bahkan, dengan komitmen dari Pemerintah Arab Saudi, sebuah pusat kajian Islam hingga kini masih terus diproses untuk dapat segera didirikan di Aceh Barat Daya.

Sebelum muzakarah Tauhid Tasawuf Asean ke-3 digelar, Pemerintah Aceh Barat Daya juga dinilai sukses menggelar Seminar Ilmu Tauhid, Fiqih, Tasawuf dan Tawajjuh se-Aceh pada Maret 2014 di Dayah Darul Ulumuddiniyah. Saat penutupan Muzakarah, Bupati Jufri akan mengupayakan ke Pemerintah Aceh agar tauhid-tasawuf dapat dimasukkan ke dalam kurikulum lembaga pendidikan.(*)

Sumber: http://aceh.tribunnews.com/2014/08/22/agama-kekuatan-utama-menuju-sejahtera

Halal bi Halal Warga PLSM

Halal bi Halal Warga PLSM

halal bihalalWalaupun Hari Raya Idul Fitri 1435 Hijriyah sudah hampir dua bulan berlalu, namun semangat kekeluargaan dan niat untuk saling memaafkan satu sama yang lain tetap tinggi. Hal ini ditunjukkan oleh warga Putra Lembah Sabil Manggeng (PLSM), pada acara halal bil halal dan silaturrahmi yang diadakan pada Minggu siang (14 September 2014) di Sekretariat PSLM, Jl. Kembang Sepatu, Senen, Jakarta Pusat.

Selain tausiah yang disampaikan oleh Tgk. H. Zainal Arifin Yurdani, SE.MM, yang juga Ketua Umum PLSM, dimeriahkan pula dengan pentas seni Tari Ranup Lam Puan, tari khas Aceh untuk menyamput tamu yang dipertunjukkan oleh gadis-gadis cantik pada acara pembukaan. Kamudian, diselingi dengan Rapai Geleng dari pemuda PLSM dan tari Ratep Meuseukat di penghujung acara.

Pada kesempatan itu, PLSM, organisasi sosial kemasyarakatan yang para anggotanya berasal dari Kecamatan Lembah Sabil dan Kecamatan Manggeng (Aceh Barat Daya) yang berdomisili di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi, juga memberikan hadiah berupa uang kepada para pelajar dan siswa berprestasi dari jenjang pendidikan SD, SMP dan SMA. Hal ini sebagai salah satu bentuk apresiasi organisasi bagi generasi penerus dalam menempuh pendidikannya agar tetap tekun, giat dan tetap bersemangat.