Sepotong Kisah, Sekilas Renungan…

No comment 19 views
banner 160x600
banner 468x60

Di suatu sudut Jakarta menjelang malam. Mentari baru saja kembali ke peraduannya di ufuk barat. Cahaya merah masih membentang di kaki langit. Suhu udara di awal musim kemarau ini masih terasa gerah. Hiruk pikuk lalu lintas kendaraan di jalan-jalan, seperti mengejar waktu. Sayup-sayup terdengar suara azan dari masjid di ujung sebuah jalan kecil di seberang jalan raya. Pertanda waktunya berbuka puasa.

Seorang ibu setengah baya mengendarai kendaraan di jalan raya yang padat. Ingin cepat-cepat pulang, dengan harapan dapat berbuka puasa bersama keluarga di rumah. Namun tiba-tiba timbul rasa nyeri sehingga dia menepikan kendaraannya. Berhenti sejenak...

Sambil menunggu rasa nyeri berkurang, berusaha mengalihkan pikirannya...menyapu pandangan sekeliling. Tiba-tiba ada seorang anak lelaki yang mengetuk-ngetuk kaca mobilnya. Agak kaget, namun berusaha tetap tenang.

“Bu.., Ibu mau parkir? Mari saya bantuin untuk parkir, ya.” Terdengar suara dari celah kaca mobilnya.

“Belum sekarang, saya mau istirahat sebentar,” jawab si ibu.
“Kalau begitu, apa Ibu punya uang 2.000?” tanya anak itu lagi.

Karena merasa sedang tidak mau diganggu, si ibu buru-buru menyerahkan uang receh yang ada di laci mobinya. Dalam pikirannya, anak ini mungkin cuma mau minta-minta. Sebuah pemandangan yang lumrah dan sering dijumpai di jalan-jalan di ibukota Jakarta.

Tadinya ingin beranjak pergi, karena merasa sudah agak lega. Namun hatinya tergerak untuk mengamati anak yang minta uang tadi. Rupanya dia mendekati tukang gorengan di ujung jalan sana, lalu membeli gorengan dari uang yang didapatkan. Kemudian gorengan itu dia berikan pada sesosok tua yang duduk di bawah tiang listrik di pingir jalan.

Ketika anak itu melewati lagi di samping kendaraannya, si ibu membuka kaca dan memanggilnya. “Eh..., adik... ke sini. Bapak tua itu siapa ?” tanya ibu penasaran.

“Gak tau, bu.Saya juga baru saja ketemu,” jawabnya polos.
“Lho...,tadi kamu minta uang ke saya lalu membeli gorengan. Kenapa dikasih ke bapak itu?”

“Oh... Saya tadi duduk di situ, ngobrol sama Bapak itu. Katanya puasa … Tadi saya lihat Bapak itu, hanya ada air putih untuk berbuka. Katanya uangnya habis,” anak itu menjelaskan.

“Kasihan...,”kata anak itu melanjutkan. “Saya mau beli sesuatu, tapi di kantong saya hanya ada 1.000. Hari ini saya nggak jualan koran...Tanggal merah bu... Jadi ngak punya uang. Dengan 1.000, paling dapat gorengan sepotong. Makanya saya minta ibu Rp 2.000, biar dapat 3 potong”, ungkapnya. Apa sekarang Ibu mau parkir? Saya bantuin parkir, ya bu, Ibu kan udah bayar tadi. Sebenarnya saya bukan tukang parkir,” katanya tertawa kecil sambil menggaruk-garuk pipinya.

Ibu itu terdiam.... Dari tadi terpikir, anak ini pengemis seperti anak-anak yang biasa mangkal di jalan. Ternyata dugaannya salah besar. “Terus, uang kamu habis dong?” tanya si ibu.

“Iya bu. Nggak apa-apa”, katanya polos. “Besok bisa jualan koran, Insya Allah dapat rezeki lagi,” ujarnya penuh harap.

“Kalau begitu, Ibu ganti yaa...uangnya, sekalian buat jajan," kata si ibu sambil meraih dompetnya.

“Nggak usah, Bu,jangan-jangan. Sebetulnya, Ibu saya melarang saya meminta-minta. Makanya tadi saya tawarin Ibu parkirin mobil. Soalnya..., saya kasihan sama bapak tua itu. Cuma saya benar-benar nggak punya uang,” cerocosnya lagi.

“Eh..., Ibu minta maaf yaa..., tadi ibu salah duga, karena mengira adik ini tukang minta-minta,” kata si ibu, merasa bersalah.

“Saya yang minta maaf, Bu. Saya yang minta uang duluan sama Ibu.. Padahal saya belum kerja.”

"Sama-samalah. Ini ambil uangnya. Ini kamu nggak minta, tapi Ibu yang berikan," kata si ibu.

"Nggak, Bu... Makasih. Ibu mau parkir sekarang?” tanya anak itu lagi.

“Nggak dik, Ibu nggak usah dibantu parkir," jawab si ibu.
“Beneran, ya, Bu? Soalnya saya mau jemput adik saya ngaji dulu bu. Takut dia nangis kalau kelamaan, karena telat menjemputnya."

“Ya... sudah, sana jemput adiknya,” kata si ibu tersenyum.
“Makasih yaa, Bu,” katanya. Meninggalkan si ibu, masih di tempat.

Setelah anak itu pergi, si ibu menoleh ke tiang listrik di mana Bapak tua tadi duduk. Rupanya sudah pergi, mungkin pulang ke rumahnya. Akhirnya, si ibu starter kendaraan lalu melanjutkan perjalanan. Dari kaca spion mobil, sambil berjalan perlahan melihat anak itu berjalan setengah berlari...

-----

Sepotong kisah yang diceritakan oleh seorang teman dan diadopsi lagi untuk dipublikasi di media on line ini.

Realitas kehidupan.... Betapa banyak orang di sekeliling kita yang kurang beruntung, tapi masih memikirkan untuk sesama...

Sekilas renungan..., mungkin dapat menggugah kepekaan dan kepedulian kita. Bersedekah, tidak harus menunggu banyak uang! Ada ungkapan bahwa untuk mengisi pulsa hand phone, 10 ribu belum cukup, tapi untuk BERSEDEKAH, mengisi KOTAK AMAL 10 ribu terasa terlalu banyak...

Jika ibadah puasa mempunyai peran utama hablumminallah dan hablumminas, yaitu hubungan dengan Allah SWT, dengan melaksanakan kewajiban puasa untuk mencapai derajad taqwa dan hubungan sesama manusia. Lalu bagaimana dampak pelaksanaan ibadah puasa dapat memicu semangat dan meningkatkan kepedulian sosial. Adakah perhatian dan rasa empati kita terhadap masyarakat, saudara-saudara kita yang kehidupan mereka serba kekurangan, dalam lingkaran kemiskinan...?

Wallahu a'lam

Untuk menutup kisah di atas, selama bulan puasa Ramadhan ini mungkin ada baiknya kita senantiasa berdoa seperti terjemahan dari Hadits Riwayat Muslim berikut ini:

"Wahai Tuhanku, perbaikilah bagiku agamaku, yang menjadi Pemelihara bagi urusanku, dan perbaikilah bagiku duniaku yang di dalamnya terdapat kehidupanku, dan perbaikilah akhiratku yang kepadanyalah tempat kembaliku. Jadikanlah kehidupanku menjadi tambahan bagiku terhadap segala kebajikan dan jadikanlah kematian waktu beristirahat dari segala kejahatan". (HR. Muslim dari Abu Hurairah)

Email Autoresponder swadaya
No Response

Leave a reply "Sepotong Kisah, Sekilas Renungan…"