UN Sebagai Momentum Kebangkitan

No comment 58 views
banner 160x600
banner 468x60

ujian-nasional-smp-sma-ujian-sekolah-sd-2015

Oleh Arbai

MENTERI Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan untuk tahun ini melakukan berbagai terobosan tentang model Ujian Nasional (UN). Pelaksanaan UN kali ini disesuaikan dengan merangkul perbedaan kualifikasi sekolah. Ini ditandai dengan adanya UN online atau Computer-Based Test (CBT) bagi sekolah-sekolah yang maju dan siap dari sisi Sumber Daya Manusia (SDM) serta didukung infrastruktur yang lengkap. Dipastikan ada 585 sekolah yang siap melaksanakan UN CBT ini. Sementara jumlah keseleluruhan sekolah yang ikut UN, 18.552 SMA/MA yang melaksanakan UN pada Senin (13/4/2015) hingga Rabu (15/4/2015) dan ada 10.362 SMK. Sedangkan untuk SMP ada 50.515 sekolah yang akan melaksanakan UN pada Senin (4/5/2015) hingga Kamis (7/5/2015).

Mengacu pada Permendikbud No.5 Tahun 2015 dan peraturan BSNP No. 0031/P/BSNP/III/2015, untuk tahun ini nilai UN bukan lagi penentu kelulusan dan dapat diulang lewat ujian perbaikan pada tahun berikutnya. Bahkan mulai tahun depan (2016), kelulusan siswa sepenuhnya ditentukan oleh sekolah dengan mempertimbangkan capaian siswa pada seluruh mata pelajaran, keterampilan, maupun sikap dan perilaku siswa selama duduk di bangku sekolah. Selain itu, nantinya, UN juga dapat ditempuh beberapa kali dan wajib diambil minimal satu kali oleh siswa.

Beragam perbaikan tentang UN ini patut diapresiasi, sebab selama ini UN selalu menjadi perdebatan. Kemudian pihak Kemendikbud juga melakukan berbagai revisi di antaranya peningkatan mutu soal yang membawa siswa berpikir mendalam deep learning melalui soal-soal kontekstual, yang disertai survei dan kuisioner untuk mengidentifikasi faktor yang berpengaruh pada keberhasilan siswa. Dan bentuk Sertifikat Hasil Ujian Nasional (SHUN) lebih lengkap dalam mengambarkan capaian kompetensi siswa.

Babak baru UN
Lalu, inilah momentum untuk memasuki babak baru UN dalam dunia pendidikan dengan menerapkan sistem yang tak lagi bersifat penyeragaman dan sekaligus mengaplikasikan kemajuan teknologi dan informasi (TI). Pelaksanaan UN Online untuk 585 ini merupakan sebuah perubahan besar sistem UN yang selama ini dilakukan secara manual. Yaitu dengan 20 variasi soal yang dicetak pada kertas, kemudian siswa menjawab menggunakan Lembar Jawab Komputer (LJK). Selanjutnya LJK tersebut akan melewati alur pemeriksaan yang panjang, sehingga hasil UN baru bisa diketahui setelah menunggu dalam waktu yang tidak sebentar.

Konversi sistem manual menuju sistem yang terkomputerisasi ini tentu saja akan membutuhkan banyak biaya dan waktu. Wajar jika penerapannya baru bisa dilaksanakan dan direkomendasikan untuk beberapa sekolah yang telah siap secara infrastruktur. Karena diperlukan sebuah perencanaan yang matang, perhitungan yang tepat serta kemananan sistem yang handal untuk perubahan ini.

Keberanian kemendikbud menerapakan TI dalam UN ini merupakan sebuah terobosan untuk sebuah kemajuan pendidikan. Pembaruan model UN menandakan pemerintah menyelaraskan pendidikan dengan tuntutan zaman dan diberlakukan proporsional, kontekstual sesuai dengan kemajuan daerah. UN CBT diharapkan mengubah kebijakan yang lebih luas dalam penyediaan fasilitas sekolah di masa mendatang. Dan daerah-daerah yang saat ini belum siap CBT, ikut terangsang dan mau berpacu dan melengkapi infrastruktur TI.

Pun yang patut diperhatikan dalam UN CBT, jagan sampai menjadikan siswa sebagai korban. Sebab tidak tertutup berbagai kemungkinan terjadinya berbagai kendala yang berakibat langsung pada siswa. UN online sangat dibatasi oleh waktu dan tergantung pada akses jaringan. Kemudian yang harus menjadi perhatian juga dalam perubahan sistem UN ini adalah para stakeholders yang terlibat di dalamnya, terutama guru dan siswa.

Adanya perubahan dari sistem lama ke sistem baru guru dan siswa dihadapkan pada suatu transisi yang membutuhkan penyesuaian dan kesiapan baik secara teknis, psikologis dan kultural. Dalam hal teknis, kesiapan sekolah dalam menyediakan semua fasilitas untuk siswa khususnya perangkat keras, perangkat jaringan dan juga koneksi internet yang handal serta ketersediaan listrik. Sementara kesiapan software berikut kehandalan serta jaminan keamanan dari serangan virus maupun hacker juga harus menjadi pertimbangan berikutnya. Jangan sampai kebocoran soal serta kevalidan yang digembor-gemborkan pada UN online menjadi sia-sia gara-gara kegagalan pada sistem keamanannya.

Menguasai TIK
Secara psikologis berkaitan dengan mental guru. Guru sebagai tenaga pengawas ataupun sebagai operator dituntut untuk mahir serta menguasai teknologi informasi komputer (TIK). Sebab jika pengawasnya sendiri tidak mahir, ketika siswa yang sedang mengalami kendala dalam mengakses soal, pengawas dapat memberikan jalan keluar atau solusi yang tepat. Beragam pengalaman dalam pelaksanaan ujian online sebelumnya bisa dijadikan sebagai pengalaman. Sebut saja misalnya Ujian Kompetensi Guru (UKG) beberapa tahun lalu yang banyak kendala. Akibat lemahnya antisipasi, kejadian seperti itu tidak boleh terulang dalam UN online kali ini.

Lalu secara kultural, UN online memang sesuai dengan kebiasaan (habit) dan karakter siswa saat ini. Mereka lahir rata-rata 1980 ke atas yang merupakan digital native, Marc Prensky (2001) menenkankan bahwa ciri digital native satu diantaranya kesehariannya selalu bersinggungan dengan internet dan beragam TI dalam berinteraksi. Oleh sebab itu sudah semestinya sekolah dan guru juga menyesuaikan dengan karakter siswa. Tak perlu berpandangan negatif pada penerapan TI. TI bukanlah musuh (enemy). Sudah selayaknya pula kultur sekolah menyesuaikan dengan tuntutan dan karakter siswa. Oleh sebab itu, UN online memang sebuah keniscayaan untuk masa depan. Seperti direncanakan kemendikbud pada tahun ajaran 2019/2020 semua sekolah dapat melaksanakan UN secara online.

Akhir kata, hasil UN baik manual maupun CBT selayaknya dijadikan sebagai alat deteksi kesenjangan pendidikan antar provinsi atau daerah dan sebagai pertimbangan siswa untuk masuk seleksi ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi sehingga sepatutnya hasil UN memberi informasi detail dan menyeluruh atas capaian kompetensi siswa. Dengan demikian, para guru dan pengajar diharapkan terdorong terus melakukan penguasaan dan peningkatan kompetensi diri agar siswanya termotivasi untuk belajar sungguh-sungguh dan menyukai proses belajar. Dan harapannya UN tidak akan menjadi momok yang menakutkan lagi bagi siswa, guru, dan orang tua. Semoga!

* Arbai, Guru SMPN 1 Kluet Timur, Aceh Selatan. Alumnus MM Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Email: bai_arbai@yahoo.com

Email Autoresponder swadaya
No Response

Leave a reply "UN Sebagai Momentum Kebangkitan"