Unsur Magis dalam Tradisi Lisan Aceh

No comment 77 views
banner 160x600
banner 468x60

Oleh Sudirman, PNS pada Balai Pelestarian Nilai Budaya Aceh-Sumut

ISLAM dalam masyarakat Aceh tidak hanya sebatas ajaran agama, melainkan telah membentuk suatu kultur yang tercermin pada setiap aspek kehidupan.

Penyesuaian diri budaya lama dengan ajaran Islam terlihat dalam berbagai upacara adat. Petani, misalnya, dalam kegiatan bersawah selalu diikuti oleh beberapa rangkaian upacara. Sawah dan padi dianggap seperti manusia, mempunyai nyawa dan daya kekuatan. Untuk itu, perlu diadakan upacara supaya jauh dari pengaruh roh jahat.

Dalam pelaksanaannya, upacara tidak terasa lagi sifat animismenya, sebab mantra yang dibacakan sudah dilakukan penyesuaian dengan nilai Islam. Misalnya, ketika membaca mantra dimulai dengan membaca basmalah.

Mantra mengenal ketentuan-ketentuan bunyi tertentu dengan pemakaian kata-kata tertentu pula supaya dapat mendatangkan kekuatan gaib. Dalam berbagai upacara, mantra diucapkan dengan suara yang terang, sebab suara dapat berfungsi untuk mendatangkan kekuatan gaib, yaitu menggemanya persamaan-persamaan bunyi yang magis. Oleh karena itu, bentuk puisi mantra tidak berubah dalam struktur ikatannya, sedangkan unsur Islam hanya sebagai tambahan.

Jenis mantra yang sudah dipengaruhi oleh unsur Islam, misalnya, mantra untuk menjampi anak-anak yang sakit perut. Mantra dimulai dengan membaca surat Al-fatihah, surat Al-ikhlas, dan salawat kepada Nabi, dilanjutkan dengan membaca mantra. Misalnya: hong dat-dat/ na umu na ubat/ lhee boh klaih pliek-u/ lhee boh mu pisang klat/ on pineung tho/ on pineung mirah/ alfatihah kutawa bisa/
Ciri mantra pada penggunaan bunyi hong yang menimbulkan bunyi magis, sedangkan bunyi dat-dat ditambahkan untuk keperluan persanjakan.

Upacara magis sebelum Islam sudah jarang dijumpai. Namun, masih ada beberapa kesenian yang merujuk akarnya ke dalam tradisi pra Islam sebagai perkembangan lebih lanjut dari bentuk puisi mantra, misalnya pho, seudati, dan nasib.

Tari pho, pada mulanya digunakan pada acara kematian. Dalam beberapa hikayat yang merekam tentang pho, tidak lagi memberi kesan bahwa pho merupakan tarian magis, meskipun dimainkan pada upacara berkabung. Dalam hikayat Pocut Muhammad disebutkan bahwa pho masih merupakan upacara berkabung pada kematian: reuhab pi troih ka geupeu-eh/ gulheueb binteh ban silingka/ siteungoh ri ka jiba-e/ siteungoh pho leumpah dada/ ok di ule tugeureubang/ jilinggang ateueh keureunda//

Dalam Hikayat Nun Parisi disebutkan, pho sudah berubah menjadi tarian biasa dan cenderung bersifat hiburan. Misalnya: lam meuligo rakyat that le/ inong meupho mangat suara/ ateueh kulet jimeunari/ su sang bangsi buloh beungga/ badan leumoh sapai leunto/ jihayak pho han ngon peusa/ sajan langkah sigo linggang/ ayon subang blet-blot mata/ jihadi pho su that mangat/ le hikeumat ngon peugila/ dumna ureueng tahe gante/ lalo bak pho yub astana//

Ciri puisi dalam tarian pho sekarang masih tetap tampak, sedangkan sifat animisme sudah tidak tampak. Misalnya: deungo lon kisah po bungong panjo/ pahlawan nanggroe ulon calitra/ di Meulaboh Umar pahlawan/ di Bakongan Angkasah Muda/ sideh di Padang na Imam Bonjol/ Batak gon Karo Sisingamaharaja/ di Aceh na Teungku Cik Ditiro/ Diponegoro di tanoh Jawa/ syahid Angkasah tinggai Cut Ali/ prang beureuhi lebeh bak nyangka//

Berbeda dengan pho yang disebut dalam beberapa hikayat, seudati belum dijumpai penyebutannya dalam hikayat. Snouck Hurgronje mengatakan bahwa sebutan seudati berasal dari kata Arab, sadati, berarti abang-abangku. Karena penyanyi (aneuk dik) nya selalu memanggil lem, cut lem atau dalem (semuanya berarti abang) untuk penari seudati.

Snouck Hurgronje juga menyebutkan bahwa kesenian seudati berasal dari rateb.
Keterangan Snouck Hurgronje berbeda dengan kenyataan tarian seudati yang dikenal sekarang. Rateb sadati sama dengan rateb dong (rateb dalam posisi berdiri) atau rateb saman (reteb dalam posisi duduk). Kedua model posisi rateb ini sampai sekarang masih dikenal dalam kesenian Aceh, meskipun nyanyian yang diucapkan tidak lagi berasal dari sumber puisi mistik.

Pemain seudati saling membalas sanjak, aneuk seudati mengucapkan larik-larik puisinya secara spontan, sesuai suasana pada saat pertunjukan. Misalnya: haba lam surat jino lon baca/ apa di lua neu-iem beu seungab/ saya harap pada adinda/ malam Seulasa tanonton siat/ malam Seunanyan hana got gamba/ malam Seulasa pilem hebat that/ pilem Meulayu tatupeue basa/ ngon aneuk muda keubit gagah that/ ka putoh pakat awaknyan dua/ kuedeh bak gamba ka jibeurangkat/ di lon malam nyan pi na lon teuka, ngon Syek Lah Geunta sigo beurangkat//

Dibandingkan pho dan seudati, nasib merupakan bentuk kesenian yang lebih muda. Nasib tidak mengenal alat musik dan tarian, tetapi dua orang penyair saling debat dan sindir, diucapkan dalam bentuk puisi yang diciptakan secara spontan.

Nasib berasal dari bahasa Arab yang berarti “puisi cinta”, dalam pandangan mistik sebagai ungkapan kerinduan pertemuan dengan yang Maha Pencipta. Menilik pada tradisi yang ada sebelum Islam, mengesankan nasib merupakan suatu bentuk sinkretisme.

Sebelum genre hikayat sebagai pengaruh budaya Islam, telah berkembang tradisi lisan dalam masyarakat Aceh. Pada mulanya merupakan bentuk puisi magis, kemudian berkembang menjadi penyajian yang bersifat profan, seperti terlihat pada perkembangan pho dan seudati.

Nasib merupakan bukti lanjutan hubungan masyarakat Aceh dengan tradisi lisan. Dari nasib berkembang bentuk-bentuk kesenian lain, seperti rateb dengan berbagai corak, rapa-i dabus, dan lain-lain yang menyajikan bentuk puisi yang diciptakan secara spontan.

* sumber: http://aceh.tribunnews.com/2014/08/24/unsur-magis-dalam-tradisi-lisan-aceh

Email Autoresponder swadaya
No Response

Leave a reply "Unsur Magis dalam Tradisi Lisan Aceh"